
Aldebaran yang baru saja membaca pesan masuk dari Heena, yang ia terima sejak tiga puluh menit yang lalu, kini Aldebaran segera membawa mobilnya menuju pulang.
Di dalam mobil Aldebaran saat ini, ada Dika juga ada Govi yang bersamanya saat ini, Dika sebagai pengemudi, Aldebaran meminta Dika untuk melaju lebih cepat, karena harus segera menyusul Heena, Aldebaran mau memastikan Heena baik-baik saja.
Tapi mereka bertiga sudah siap dengan senjata masing-masing, bila Dika dan Aldebaran menggunakan pistol bila nanti ada kejadian hal buruk di sana, Govi menggunakan clurit tajam.
Mobil terus melaju dengan kecepatan penuh.
Kekhawatiran juga di rasakan kini oleh Ibu Tiara, saat dirinya baru terbangun dari tidur, Ibu Tiara teringat bahwa saat ini adalah malam bulan purnama, tiba-tiba firasatnya buruk sekali pada Heena.
Dan tanpa ada perasaan tiba-tiba air matanya menetes, Ibu Tiara mau keluar menemui Heena, tapi Leha yang biasanya selalu ada di kamarnya, menjaganya dua puluh empat jam, saat ini juga tidak ada.
"Leha ..." teriak Ibu Tiara, namun Leha yang di panggil juga tidak akan datang, karena semua seluruh pelayan wanita malam ini di minta masuk ke kamar masing-masing.
Tidak ada satu pun pelayan malam ini yang akan berjaga, namun di ruangan ini dan di luar rumah di jaga oleh anak buah Tuan Bara, untuk menghalangi Aldebaran supaya tidak masuk.
Semuanya sudah pria itu susun dengan rapih, dan terjadilah seperti saat ini, tidak ada yang menolong Ibu Tiara.
Ibu Tiara sudah menangis terisak, perasaanya takut akan terjadi hal buruk pada putrinya, Ibu Tiara berusaha mau turun dari ranjang, namun karena lumpuh tidak bisa jalan, ahirnya Ibu Tiara jatuh ke lantai.
Ahhh!
Pekik Ibu Tiara seraya menggigit bibir bawahnya merasa sakit sekujur tubuhnya, Ibu Tiara semakin menangis, saat mengetahui dirinya tidak berdaya, tidak bisa hanya sekedar menyelamatkan putrinya sendiri.
Aaaaaa! Hiks hiks hiks.
Ibu Tiara berteriak menangis meraung seraya memukul dadanya sendiri, berusaha berdiri namun jatuh lagi, berusaha lagi jatuh lagi, ahirnya Ibu Tiara menyeret tubuhnya menggunakan sisa tenaganya, semangat sebagai ibu ingin melindungi putrinya tidak hilang begitu saja, meski tidak akan tahu apa kah yang dirinya lakukan ini mampu untuk menyelamatkan putrinya.
Untunglah pintu tidak di kunci, Ibu Tiara bisa keluar, terus menyeret tubuhnya, pelan-pelan dan tidak terasa kini sudah sampai jauh.
Namun tiba-tiba tenaganya habis, Ibu Tiara pingsan, tubuhnya tergeletak begitu saja.
Sementara Aldebaran bersama Dika dan Govi kini baru sampai, namun sialnya saat mau masuk dirinya tidak diijinkan.
"Tuan kami melarang Anda untuk masuk." pria berbadan kekar itu melarang.
"Saya menantunya, Anda pasti salah orang." Aldebaran masih belum percaya dengan yang baru ia dengar. Karena kemarin ia masih boleh masuk, tapi ini? Aldebaran baru sadar bahwa satpam yang biasanya berjaga kini tidak ada, dan itu berarti mereka pikiran Aldebaran berhenti saat menyadari sesuatu.
Aldebaran bersama Dika dan Govi saat ini menyusun rencana supaya bisa masuk ke dalam sana.
Ahirnya mereka bertiga pura-pura menjauh, dan orang-orang penjaga halaman rumah percaya, ternya Aldebaran bersama Dika dan Juga Govi saat ini memanjat pohon, dan bila loncat dari pohon itu langsung masuk ke dalam gerbang, karena kebetulan ada pohon yang tertanam di dekat situ.
Aldebaran bersama Dika dan Govi saat ini bersiap untuk meloncat, mereka bertiga menahan suara saat meloncat.
Bruk! Mereka bertiga jatuh ke rerumputan hijau, dan langsung lari sembunyi saat ada beberapa orang yang mendengar suara itu.
Ahirnya Aldebaran dan Dika yang masuk ke dalam rumah melalui pintu belakang, sementara Govi urusannya bersama orang-orang yang ada di luar rumah.
Tidak hanya clurit tajam yang Govi bawa tapi ia juga membawa pestol dan pedang panjang.
"Hei siapa itu!" Salah satu orang melihat gerakan Govi.
Govi muncul, dan seketika lima orang mendekat mau menangkapnya, namun dengan gerakan cepat, Govi mengambil pedangnya dan mengarahkan ke leher lima orang tersebut. Seketika kepala mereka terpisah dengan tubuh mereka, darah bercucuran di tempat itu.
Dor!
"Cari orang itu sampai ketemu!" teriak ketua dari anggota itu, dan seketika sepuluh orang tersebut terpisah arah untuk mencari Govi, dan saat ini tinggal ketua itu sendiri di tempat itu.
Govi keluar dari tempat persembunyiannya lalu menyandera ketua itu dari belakang, ketua itu kaget saat tiba-tiba sudah ada pedang di depan lehernya, namun sebelum ketua itu balik badan, Govi sudah lebih dulu menebas leher ketua itu, sampai terlepas dari tubuhnya.
Darah kembali bercucuran.
Govi sengaja tidak mau gabung dengan Aldebaran dan Dika, lebih memilih mengerjakan tugasnya sendiri, karena mereka belum tahu keahlian Govi dalam berperang, yang Aldebaran tahu Govi hanya pandai ilmu bela diri, tidak tahu bila Govi juga pandai menggunakan senjata.
Saat sedikit merasa aman, Govi berjalan lagi kini ia masuk melalui pintu utama, melihat kebelakang lebih dulu untuk memastikan, aman pikirnya, namun saat menatap ke depan di kejutkan oleh pria bertubuh besar.
Deg!
Govi mundur beberapa langkah saat pria itu menyodorkan piston tepat di kening Govi, bila tidak tahu trik mainnya mungkin saat ini Govi sudah mati karena orang itu tembak.
"Anda tidak akan bisa masuk ke dalam, Nona." Pria itu tersenyum miring.
Pelatuk pistol semakin di tarik dan...
Dor!
Sreett!
Ahhhh!
Bersamaan suara pistol, pria tubuh besar itu ambruk ke lantai, karena Govi yang tadi mau di tembak langsung menunduk dan menebas kaki pria itu.
Namun pria itu masih hidup, hanya saja kakinya sudah terluka, Govi dengan wajah marah mengambil pistol pria itu lalu mengarahkan tepat di mata pria itu.
Pria itu ketakutan saat melihat pistol di arahkan padanya sungguh takut, namun semua itu tidak berarti bagi Govi, wanita cantik dan pemberani itu langsung menembak tepat mata pria itu.
Dor!
Darah dari mata itu langsung muncrat di sekitar bahkan sampai mengenai lengannya Govi.
Govi menoleh ternyata suara tembakan itu mengundang teman-teman pria itu, kini Govi harus berkelahi lagi melawan banyaknya orang-orang itu.
Hiyaaa! Teriak Govi dengan semangat sembari mengarahkan pedangnya, menebas lagi kepala orang-orang satu per satu.
Lawannya juga ada yang membawa pedang, Govi tumbangkan lawannya, lalu ia rebut pedang milik dia, kini Govi memegang dua pedang yang semakin mudah baginya untuk menghabisi mereka semua.
Lantai tidak berbentuk lantai lagi, sekarang sudah banyak darah, dan kepala orang-orang yang terpisah dari tubuhnya.
Saat Govi mau melangkah masuk, langkahnya di hadang lagi oleh pria.
Pria itu mengarahkan pedangnya dan terjadi saling tarung kembali.
Trannk!
Trankk!