
"Pagi semuanya?" sapa Heena dengan tersenyum manis pada Tia dan Syifa saat ia baru masuk ke ruang kerjanya.
"Pagi juga," balas keduanya yang juga tersenyum.
Ketiganya kembali sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, meski tadi saat di rumah, Heena cukup sibuk karena harus mengurus Yusuf terlebih dahulu, dan untungnya ia tidak telat sampai kantor.
Tia mendapat pesan masuk, yang langsung ia berbagi informasinya pada teman kerjanya.
"Hari ini Bos datang, katanya langsung mau datang ke kantor untuk melihat hasil gem terbaru kita," ucapan Tia yang langsung mendapat anggukan kepala Syifa dan Heena.
Sementara itu Aldebaran dan Asisten Dika yang saat ini berada di dalam mobil, menuju pulang dari perjalanan bisnis selama tiga hari di luar kota.
Asisten Dika menatap Tuanya yang duduk di kursi belakang, melalui kaca mobil, wajah tampan itu terlihat lelah. Apa lagi D.A Corp yang masih merintis membutuhkan kerja keras lagi.
Asisten Dika kembali fokus mengemudi namun tiba-tiba pikirannya teringat karyawan baru, tentu ia kenal wanita itu, dan sialnya saat kemarin ia mau mengasih tau Aldebaran, pria itu tidak mau melihat malah mempercayakan semua padanya.
Tiba-tiba pikirannya merasa kacau, bila nanti Aldebaran marah karena harus melihat mantan kekasihnya yang ikut bekerja sama di kantornya.
Hah! sudahlah, terima saja bila harus terkena amarahnya, habisnya aku pusing. Batin Asisten Dika.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan, kini mobil yang di kendarai Asisten Dika telah sampai di kantor D.A Corp.
Aldebaran ke luar mobil lebih dulu berjalan memasuki kantor seraya mengancingkan jasnya, langsung menuju lantai dua tempat ruangannya, yang tidak lama kemudian di susul Asisten Dika yang juga masuk ke ruangan.
Tidak ingin menunggu lama tujuannya datang ke kantor, Asisten Dika menghubungi Syifa untuk naik ke lantai dua bersama yang lainnya juga.
Tidak berselang lama, Syifa bersama yang lainnya masuk ke ruang CEO setelah mendapat ijin, keadaan masih biasa saja. Asisten Dika merasa lebih tegang dulu, hingga apa yang ia khawatirkan terjadi di detik itu.
Heena yang memang tidak tahu siapa pemilik kantor ini, dan memang tidak mencari tahu sebelumnya, matanya langsung terkejut saat melihat Asisten Dika, pria yang dulu selalu di samping kekasihnya, perasaannya mulai tidak enak tapi sebisa mungkin ia menekan itu semua, pikirannya menasehati yang mungkin kantor ini milik Asisten Dika.
Baru saja Heena ingin bernafas lega tiba-tiba dikejutkan dengan sosok pria yang baru ke luar dari sebuah ruangan yang berada di ruangan CEO.
Tubuhnya terasa kaku, kakinya berat untuk melangkah, yang saat ini masih berdiri tidak jauh dari pintu, Syifa dan Tia yang melihat Heena menatap bingung.
Tidak! ini tidak mungkin. Batin Heena masih belum percaya dengan apa yang ia lihat.
Dan semakin terkejut hingga Heena menutup mulutnya yang menggangga seraya menggelengkan kepalanya saat matanya bertemu dengan mata milik Aldebaran.
Rasanya sulit untuk ia percaya, bila hari ini ia harus dipertemukan kembali dengan pria yang lima tahun lalu telah ia khianati.
Berkhianat bukan maunya tapi tetap saja ia sudah menyakiti hatinya. Bahkan hatinya masih memuja bila mantan kekasihnya itu masih sama tampan seperti dahulu, hanya satu yang berbeda yang telah ia temukan, yaitu tatapan kekecewaan.
Heena menangis membasuh wajahnya dengan air yang saat ini di dalam kamar mandi.
Setelah meeting selesai Heena langsung masuk kamar mandi, meski meeting tidak berlangsung lama, tapi ia sudah tidak sanggup menahan hatinya yang ingin menangis.
Sementara Syifa dan Tia, berpikir bingung terhadap Heena, yang tadi sempat Tia tarik untuk Heena segera duduk karena wanita itu hanya berdiri dengan tatapan yang entah. Ditambah setelah meeting selesai Heena langsung berlari ke kamar mandi.
Sementara Heena yang berada di dalam kamar mandi, ia kemudian ke luar setelah merasa tenang.
Hari ini tetap berlanjut kerja, meski merasa hatinya tidak nyaman tapi demi kerjaan ia harus profesional.
Baru duduk di kursi kerjanya beberapa menit, tubuhnya terasa kembali kaku saat mendengar langkah sepatu yang melewati ruangannya menuju pintu ke luar.
Heena tidak berani mengangkat kepalanya, ia berpura-pura serius kerja saat telinganya tadi mendengar Syifa dan Tia menyapa Aldebaran dan Asisten Dika yang berjalan ke luar.
Karna memang bagiannya adalah menggambar hingga butuh keseriusan, hingga tiba sore hari, saatnya para karyawan untuk pulang.
"Heena, kita duluan ya?" ucap Tia yang naik motor boncengan dengan Syifa.
"Hati-hati!" teriak Heena seraya melambaikan tangan.
Heena menunggu angkutan umum, setelah tiba Heena langsung masuk, selama perjalanan pulang, Heena terus kepikiran kejadian saat tiba-tiba bertemu Aldebaran.
Hah! bagaimana caranya aku minta maaf ya? tapi aku harus minta maaf padanya, aaaaa mengapa aku terjebak kerja di kantornya!. Heena memukul pelan kepalanya.
Mata kekecewaan yang begitu dalam, yang tadi Heena tangkap, tidak ada bicara sedikitpun selama meeting berlangsung, hanya Asisten Dika yang lebih banyak bicara dan menanggapi segala hal tadi.
Bahkan Heena bisa menangkap dari ekor matanya, bahwa saat di ruang meeting tadi ia seperti mendapat tatapan mengintimidasi yang tidak lepas hingga meeting selesai.
Apa aku akan di pecat ya? hah jika benar apa boleh buat. Segala pikiran-pikiran buruk melintas di kepala Heena.
Hingga tidak terasa mobil sudah sampai, Heena berjalan tidak jauh hanya beberapa menit sampai di halaman rumah.
Sampai rumah seperti ke marin, langsung disambut teriakan Yusuf, yang senang mamanya pulang.
"Anak ganteng, anak pintar. Sudah mandi, hem hem." Heena menggendong Yusuf yang tertawa di gendongannya.
"Ok, Mama mandi dulu." Heena menurunkan Yusuf, lalu ia menuju kamar.
Tiba malam hari.
Heena mengusap rambut Yusuf yang sudah tidur di sampingnya. pikirannya seraya mencari ide untuk mengungkapkan kata maaf bila besok berangkat kerja.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi tanda pesan masuk, yang ternyata pesan dari Syifa yang memintanya untuk jangan tidak telat. Dan memintanya untuk menyiapkan beberapa berkas untuk laporan besok.
Baru membaca pesannya saja sudah membuat Heena merinding, karena membayangkan besok akan bersitatap lagi dengan pemilik D.A Corp.
Heena bangkit dari ranjangnya yang kemudian menyiapkan yang Syifa minta, dan setelah semua selesai ia kembali untuk tidur.
Tidak ada yang tahu tentang takdir hidup, setiap orang hanya bisa meminta dan berdoa untuk diberikan takdir baik, meski perpisahan itu nyata adanya, namun bila bisa meminta ingin selalu bersama orang yang di cintai dalam waktu yang lebih lama.