
Malam hari setelah selesai belajar, Yusuf tiba-tiba muntah-muntah, Ane panik mendapati itu semua.
Suhu tubuh Yusuf juga menghangat, namun bocah kecil itu tidak menangis, hanya terlihat sayu matanya.
Ane berjalan ke dapur lalu mengambil wadah kecil dan kain pengompres, Ane berjalan lagi ke kamar, ia menyelimuti Yusuf yang tiba-tiba menggigil.
Yusuf sepertinya terkena demam pikir Ane, dengan segera Ane mengubungi Michael, ternyata Michael tidak lama lagi sampai.
Ane juga menghubungi Dokter pribadi keluarga Henderson.
Sambil menunggu Dokter dan Tuan Michael, Ane menjaga Yusuf, bibir Yusuf terlihat memucat, dan selalu bergumam menyebut mamanya.
"Mama ..." suaranya terdengar lemah.
Yusuf sepertinya merindukan Mamanya batin Ane, tetapi ia tidak berani untuk sekedar menghubungi Heena, karena takut di amuk oleh Tuan Michael, ahirnya Ane mengurungkan niatnya.
Tidak berselang lama, Michael datang berlari dari luar menuju kamar Yusuf, Michael langsung menghampiri Yusuf menangkup wajah putranya yang terlihat pucat, seraya meminta Ane untuk menghubungi Dokter Malika supaya lebih cepat datang.
Michael mendekap tubuh Yusuf supaya merasa lebih hangat, hatinya merasa sedih mendapati putranya sedang sakit, Michael mencium kening dan pipi Yusuf, bibir mungil Yusuf selalu menyebut Mamanya, Michael yang mendengar itu semua semakin merasa bersalah.
"Maafkan, Papa, Nak." Menangis di dekat Yusuf.
Ane masuk ke kamar Yusuf lagi dengan membawa Dokter Malika, Michael Bagun dari tempat tidur, memberi ijin Dokter Malika untuk memeriksa Yusuf.
Dokter Malika tersenyum, ia berkata tidak ada yang perlu di khawatirkan, dengan memberikan obat penurun demam, maka Yusuf akan segera sembuh.
Michael kini bisa bernafas lega, setelah merasa khawatir karena takut terjadi apa-apa pada Yusuf.
Dokter Malika menyiapkan obat, lalu ia letakkan di atas meja yang ada di ruang kamar Yusuf.
Setelah selesai dengan tugasnya, Dokter Malika pamit, menunduk pada Michael, lalu Ane mengantar Dokter Malika ke luar Mansion.
Ane kembali ke kamar Yusuf sudah membawa air putih, kemudian Ane menyiapkan obatnya, dengan di bantu Michael, Yusuf mau minum obat.
Yusuf kembali berbaring, Ane menemani Yusuf, sementara Michael mau membersihkan tubuhnya lebih dulu, lalu akan kembali lagi ke kamar Yusuf untuk menemani putranya tidur.
Michael masuk ke kamar Mawar, wanita itu ternyata sedang tidur. Michael menghela nafas panjang, saat melihat Mawar yang kurang peduli dengan Putranya. Padahal ke marin malam mengatakan ingin dekat dengan Yusuf.
Tidak mau memikirkan Mawar, yang hanya membuatnya tambah pusing, Michael memutuskan untuk segera mandi.
Setelah selesai mandi dan selesai memakai baju tidur, Michael mau segera ke luar kamar, Mawar tidurnya terusik, ia membuka mata yang ternyata suaminya sudah pulang.
"Sayang, kamu sudah pulang." Mawar menatap jam ternyata pukul delapan malam.
Michael diam enggan mau menjawab, Mawar yang tidak mendapat jawaban ia bertanya lagi, apa lagi saat melihat Michael yang sepertinya mau ke luar kamar.
"Sayang, kamu mau ke mana?" Mawar bangun dari tempat tidur.
"Sayang ...."
Tidak lama dari Michael masuk, Ane ke luar kamar Yusuf, Mawar yang sudah berada di depan pintu, langsung mengusir Ane dengan sinis.
Mawar masuk ke dalam, ia melihat Michael yang sudah berbaring di ranjang dengan berbagi selimut bersama Putranya.
Mawar membuang nafas kasar, hatinya merasa kesal, setelah ia di cuekin, pertanyaannya tidak di jawab, yang ternyata hanya ingin tidur bersama Yusuf.
Mawar ahirnya ke luar dari kamar Yusuf, ia berjalan ke arah meja makan, lagi-lagi Mawar membuang nafas kasar saat harus makan malam sendirian.
Makan sendiri mulutnya sambil komat-kamit, ngedumel sendiri punya suami seperti tidak punya suami, selesai makan malam Mawar terus kembali ke kamar, pelayan membereskan meja makan.
Semua orang di Mansion mulai istirahat semua, waktu semakin larut, tepat pukul dua dini hari, Yusuf terbangun, ia menangis memanggil Heena mamanya.
Michael menenangkan seraya berjanji akan mengajak Yusuf bertemu Heena, mengusap punggung Yusuf, kini Yusuf tidur kembali.
Michael menatap lekat-lekat wajah putranya, ia usap rambutnya, tidak terasa cairan bening menetes dari pelupuk matanya.
Pagi hari.
Mawar yang baru ke luar dari kamar, yang saat ini sedang menapaki tangga, menatap jengah saat matanya menangkap suaminya yang sedang memangku putranya.
Dan semakin jengah, saat dirinya bertanya mengapa belum berangkat kerja, yang ternyata jawaban Michael hari ini ia libur untuk menemani Yusuf.
Mawar langsung berlalu pergi dari ruang keluarga, dengan hati yang sangat kesal karena Michael tidak memperhatikannya.
"Terus saja anakmu, terus yang di urus!" Mawar berjalan ke arah taman belakang.
Ane yang sudah membuat bubur ayam khusus untuk Yusuf, kini ia menyuapinya, meletakkan telapak tangannya di kening Yusuf, panasnya sudah menurun, kini Ane bisa tersenyum melihat Tuan Mudanya sembuh.
Selesai sarapan, Yusuf kembali bermain dengan Papanya, hari ini Yusuf terlihat tampak happy, setelah Heena pergi dari Mansion, baru kali ini tawa renyah yang barusan Ane dengar dari bibir Yusuf.
Waktu, Papanya benar-benar menggantikan waktu, Mamanya yang hilang.
"Papa, tendang lagi bolanya ...."
"Gol ...."
Yusuf bersorak-sorai saat tendangan bolanya masuk gawang.
Ane tersenyum melihat ke arah keduanya yang sedang asyik bermain bola, Ane mengambil foto mereka, lalu mengirimkan ke Heena.
Di rumah Heena.
Heena yang baru menerima pesan masuk sebuah foto keceriaan Yusuf, ia merasa tenang, setelah tadi merasa panik saat mendengar Yusuf sakit.
Heena mengusap foto Yusuf. "Selalu sehat, Nak."