HEENA

HEENA
BAB 156. Apakah benar jatuh cinta.



Menjelang pagi, Sorang gadis buta sudah sibuk berkutat dengan alat masak di dapur, sekarang Nelly sudah paham letak-letak bahan makanan, serta bumbu-bumbu masak, untuk mengetahui bumbu seperti garam atau penyedap rasa, Nelly mencicipinya, dan untuk membedakan ketumbar dan lada, Nelly mencium aromanya.


Pagi ini Nelly masak sendiri, karena Ane harus membangunkan Yusuf untuk bersiap mandi pagi.


Pagi ini Nelly hanya membuat sarapan nasi goreng, dan telur dadar sebagai lauknya. Dua puluh menit Nelly sudah selesai memasak, nasi goreng tidak Nelly pindahkan, karena semua orang masih belum bersiap, Nelly memasukan nasi goreng ke bekal sekolah Yusuf, mengisi botol air minum Yusuf, dan setelah itu Nelly menuju kamarnya untuk mandi.


Sepuluh menit Nelly sudah selesai mandi, tiba-tiba Ane masuk dengan buru-buru menuju kamar mandi, dan meminta Nelly untuk menyusul Yusuf, sebelum Ane menutup pintu kamar mandi.


Nelly yang sudah berpakaian rapi, kini berjalan menuju kamar Yusuf, dengan langkah pelan dan terus menggerak-gerakkan tongkatnya supaya tidak tersandung.


Pelan-pelan menapaki anak tangga satu persatu, mengucap syukur setelah sampai di lantai dua, Nelly langsung membuka pintu kamar Yusuf, karena kamar Yusuf terletak di barisan pertama setelah tangga.


"Mbak Nelly," sapa Yusuf saat melihat Nelly datang, yang saat ini baru selesai menyisir rambut.


Yusuf yang sudah siap semuanya, langsung mengajak Nelly keluar kamar menuju lantai satu, seraya menggandeng tangan Nelly.


Michael yang dari dalam kamarnya berjalan menuju kamar Yusuf, ingin mengajak putranya turun ke bawah bersama.


Michael berjalan menuju pintu kamar Yusuf, seraya mengusap lengan kemejanya yang sedikit ada kotoran, hingga matanya tidak fokus ke depan.


"Papa," sapa Yusuf, seketika Michael melihat ke depan.


Deg!


Michael terkejut saat melihat Nelly yang saat ini berdiri di samping putranya, gadis itu tersenyum manis, dengan baju warna merah yang saat ini Nelly gunakan, semakin membuat gadis itu cantik, warna kulitnya yang putih sangat cocok untuk Nelly.


"Tuan?" sapa lembut Nelly dengan menunduk.


"Papa, ayo kita ke bawah bersama," ucapan Yusuf seketika membuyarkan lamunan Michael.


Ketiganya ahirnya sama-sama turun ke lantai satu, dengan Yusuf yang berada di tengah, sisi kiri ada papanya yang menggandeng tangannya, sisi kanan ada mbak Nelly yang juga menggandeng tangannya.


Bersama-sama menapaki anak tangga, dengan pelan-pelan, karena harus mengikuti langkah Nelly. Yusuf tersenyum melihat keduanya silih berganti.


Deg!


Jantung Michael merasa berdebar-debar, berjalan bertiga seperti ini seperti mengingatkan dirinya pada sebuah keluarga yang utuh.


Apa lagi saat melihat senyum Nelly, seperti ada magnet yang membuat Michael tidak ingin berpaling.


Astaghfirullah, batin Michael berusaha menguasai diri untuk profesional lagi.


Pukul setengah tujuh semua orang sudah berkumpul di meja makan, Yusuf sudah rapih dengan seragam sekolahnya, Michael sudah rapih dengan seragam kerja kantor.


Ane sudah menyiapkan nasi goreng ke piring-piring, Michael tersenyum kecil saat merasakan lezat nasi gorengnya, kini sudah paham, bila ini yang masak adalah Nelly.


"Kalo yang masak mbak Nelly telus, aku lama-lama akan gendut," ucap Yusuf sembari mengunyah makanan disertai tawa cekikikan.


"Ingat saat makan tidak boleh bicara, nanti bisa tersedak," tutur baik Ane, yang langsung mendapat anggukan kepala Yusuf.


Sarapan pagi ahirnya dilalui dengan tenang, namun dengan perasaan yang beda-beda, bila Yusuf bahagia, dan Ane juga bahagia, berbeda dengan Michael, pria itu malah cemas, terus memikirkan Nelly.


Oh! Ada apa dengan aku, batin Michael seraya menghela nafas panjang yang saat ini sudah siap mau menjalankan mobilnya.


Michael terus memikirkan dirinya, yang merasa aneh setiap kali melihat Nelly.


Setelah menurunkan Yusuf di sekolah, Michael langsung melanjutkan perjalanan menuju kantor.


Michael terus menghela nafas panjang, sesekali mengusap wajahnya dengan kasar, Michael benar-benar tidak fokus kerja pagi ini.


Bagaimana mau fokus bila dokumen yang saat ini Michael pegang, malah ada gambar senyum manis Nelly dalam bayangannya.


Aku sepertinya benar-benar sudah gila! Gumam Michael dengan kesal, bagaimana bisa dirinya seperti ini pada pembantunya sendiri.


Sepertinya ada yang tidak beres denganku, gumam nya lagi seraya mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.


"Halo, apa Tuan sakit?" tanya seorang pria di sambung telpon.


"Ya, aku sakit, tolong dokter Jimi datang kemari, di kantor saya," jawab Michael, dan setelah itu sambungan telepon dimatikan.


Michael bersandar di kursi kebesarannya, seraya memijit pangkal hidungnya, dalam matanya terpejam semakin jelas senyum Nelly.


Michael langsung membuka matanya, lalu menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya berulang kali.


Aku sepertinya benar-benar sudah gila, gumamnya terus menerus hanya kalimat itu.


Setelah merasa lebih baik, Michael kembali duduk, namun kali ini duduk di kursi sofa, masih nunggu kedatangan dokter Jimi.


Tiga puluh menit, Dokter Jimi ahirnya sampai, kini sudah berada di ruangan Michael, mulai memeriksa keadaan pria itu, namun setelah dokter Jimi periksa, hasilnya tidak ada tanda-tanda Michael sakit.


"Apa yang Anda rasakan Tuan?" tanya Dokter Jimi seraya duduk di samping Michael.


Michael yang tadi berbaring di sofa, kini ia duduk. "Jantung saya selalu berdebar-debar setiap kali melihatnya."


Dokter Jimi bangkit dari duduknya. "Coba Anda berbaring lagi, saya periksa."


Michael mengikuti saran Dokter Jimi.


"Yang Anda lihat wujud benda atau manusia?"


"Wujud benda," jawab Michael cepat.


"Benda biasa atau mewah?"


"Benda biasa," jawab Michael lagi.


"Coba bayangkan benda yang mewah," ucap Dokter Jimi seraya meletakan teleskop di dada Michael untuk mendengarkan detak jantung pria itu.


Normal, tidak berdetak cepat, gumam pelan Dokter Jimi.


"Bayangkan lagi benda yang biasa itu," perintah lagi dokter Jimi, dan seketika langsung mendengar suara detak jantung Michael yang begitu cepat.


"Baik selesai," ucapnya seraya manggut-manggut. "Jika itu adalah benda biasa yang tidak begitu mahal, sebaiknya Anda beli saja, untuk bisa Anda miliki, sebelum dimiliki orang lain."


Deg! Michael terkejut saat mendengar kalimat terakhir dokter Jimi, ada perasaan tidak terima bila Nelly dimiliki orang lain, tapi Michael belum yakin. Banyak hal yang harus dirinya yakinkan, setelah perasannya sendiri, ada Yusuf yang perlu Michael tanya.


"Jika Anda masih bimbang, boleh Anda bandingkan dengan benda yang lebih mewah supaya Anda lebih yakin," ucapnya lagi dan setelah itu pamit ijin pulang.


Anda jatuh cinta Tuan, batin dokter Jimi seraya menggelengkan kepalanya yang kini berjalan menuju lift.


Sementara Michael, pria itu saat ini diam seribu bahasa, masih bertanya-tanya dalam hatinya sendiri apa kah benar dirinya jatuh cinta dengan Nelly, seorang gadis buta pembantunya sendiri yang baru ia kenal.