
Dari arah belakang Aldebaran terdengar suara orang mengaduh, Aldebaran balik badan dan ternyata dua orang penjahat itu bangun dan berjalan sempoyongan menuju mobil mereka.
Aldebaran menarik Heena untuk menjauh dari mobil itu, kini mobil penjahat itu melaju pergi.
Heena dan Aldebaran masih melihat mobil itu sampai menghilang dari pandangannya.
Heena membuang nafas panjang seraya melihat pergelangan tangannya yang saat ini di pegang Aldebaran, Heena baru sadar hal itu.
Ehem. "Mereka sudah pergi, bisa tolong lepas tanganku." Heena menunduk menyembunyikan wajahnya.
Aldebaran tersentak, dan langsung melepas tangan Heena, yang tadi ia genggam. "Maaf."
Aldebaran sedikit tidak enak hati, melihat ke arah lain untuk menutupinya dari rasa tidak enak hati. Hingga suara Heena membuat Aldebaran menoleh.
"Masuklah, obati dulu lukamu di bibir." Heena kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Aldebaran menghela nafas, dan kemudian mengikuti langkah Heena.
Kini Aldebaran sudah duduk di kursi sofa yang ada di ruang tamu. Heena datang dari dalam membawa baskom kecil, kemudian menyerahkannya kepada Aldebaran.
"Kompres dulu lukamu," ucap Heena, yang langsung Aldebaran terima baskom tersebut. Heena kembali masuk ke dalam, sementara Aldebaran sudah mulai mengompres lukanya.
Meski tidak seberapa banyk luka pukulan di wajahnya, namun tetap saja terasa sakit, pelan-pelan Aldebaran mengompres luka di wajah dan bibirnya, kini wajah tampan itu terlihat sedikit membiru.
Setelah merasa cukup untuk mengompres, Aldebaran meletakkan baskom dan kain pengompres di atas meja.
Aldebaran bersandar di kursi seraya menengadahkan kepalanya ke atas sembari membuang nafas panjang. Aldebaran memikirkan keselamatan Heena saat ini, hatinya masih khawatir bila penjahat-penjahat itu kembali lagi dan melukai Heena.
Aldebaran tidak ingin hal itu terjadi, namun juga tidak tahu harus berbuat apa, tinggal bersama di rumah Heena, juga tidak mungkin, apa lagi rumah ini sudah didatangi penjahat, tentu Aldebaran merasa sudah tidak aman rumah ini untuk ditinggali.
Aldebaran kemudian mengirim pesan ke pamannya, tidak berselang lama pesan yang Aldebaran kirim kini dibalas oleh pamannya. Aldebaran menjadi sedikit tenang setelah membaca pesan masuk dari pamannya, Aldebaran bersyukur karena selama ini Pamannya selalu membantunya.
Saat ini Aldebaran tinggal menunggu Heena datang, karena sejak masuk ke dalam tadi Heena belum ke luar juga.
"Maaf aku lama mengambilkan minum," ucap Heena yang saat ini sudah berdiri di dekat meja.
Aldebaran yang tadi sempat menunduk melihat arlojinya, perlahan mengangkat kepalanya melihat Heena yang saat ini sedang menaruh teh hangat di atas meja.
Heena duduk di kursi dengan kepala menunduk dan masih memegang nampan.
Aldebaran berpikir sejenak sebelum ahirnya bicara, "Beresin semua baju-bajumu, dan ikut aku."
Heena mengerutkan keningnya masih bingung dengan ucapan Aldebaran yang barusan ia dengar.
Menangkap wajah kebingungan Heena, Aldebaran menjelaskan lagi, "Di sini kamu sudah tidak aman, aku khawatir penjahat akan datang lagi dan menyakiti kamu."
Mendengar kata penjahat, Heena menjadi ketakutan, membenarkan yang Aldebaran ucapkan, tapi Heena masih bingung bila pergi harus tinggal di mana, Heena belum menangkap pembicaraan Aldebaran yang pertama, karena tidak ingin terus bingung dan penasaran Heena ahirnya buka suara.
"Tinggallah bersamaku."
Deg!
Heena seketika menatap Aldebaran dengan rasa keterkejutannya, Heena berpikir apakah dirinya salah dengar, namun lagi-lagi Heena mendengar kalimat yang sama dari bibir Aldebaran yang pria itu ucapkan.
"Tinggallah bersamaku, di sana ada paman, bibi, dan sepupu aku. Kamu akan lebih aman." Aldebaran menjelaskan semua supaya Heena tahu bahwa tidak akan tinggal berdua saja.
Tidak, ini tidak mungkin, Heena menggelengkan kepalanya pelan, tidak mungkin harus tinggal bersama keluarga Aldebaran, meski saat ini ia adalah istrinya Aldebaran, Heena hanya belum siap saja bertemu dalam waktu secepat ini.
Jika pun Heena ingin bertemu, Heena mau bukan dalam waktu seperti ini, ini sama saja Heena merepotkan pikirnya.
"Maaf, aku sepertinya tidak bisa." Heena menunduk, ia tahu penolakannya ini pasti membuat Aldebaran kecewa.
Aldebaran menghela nafas panjang seraya berpikir harus melakukan cara apa untuk membujuk Heena, karena bila Heena masih berkekeh tinggal di rumah ini, Aldebaran yakin Heena akan dalam bahaya terus menerus, dan Aldebaran tidak mau itu.
Aldebaran tiba-tiba bangkit dari duduknya dan mau berjalan ke dalam, Heena langsung berdiri dan mencegah.
"Mau ke mana." Heena menatap Aldebaran.
Aldebaran menghentikan langkahnya lalu balik badan. "Mau mengemasi baju-bajumu," ucap acuh Aldebaran, dan kemudian berjalan lagi.
"Hei! tunggu ..." teriak Heena sambil meraih lengan Aldebaran untuk menghentikan langkah Aldebaran.
Kini Heena sudah berdiri tepat di depan Aldebaran. "Jangan lancang, dan jangan memaksa." Heena berkata tegas.
"Aku tidak butuh persetujuanmu, kamu lupa siapa aku." Aldebaran tersenyum miring, kemudian berjalan lagi.
Heena menghela nafas kasar, Heena merasa tidak bisa melawan kemauan Aldebaran.
Al ... jangan membawaku dalam situasi yang lebih sulit, aku malu Al, malu dengan keluarga mu! batin Heena seraya menatap punggung Aldebaran, Heena langsung tersentak saat Aldebaran sudah memegang handel pintu kamarnya.
"Al, em Tuan. Tunggu." Heena berjalan mendekat, bibirnya masih bingung harus memanggil Aldebaran dengan sebutan apa.
Heena menjauhkan tangan Aldebaran dari handle pintu. "Biar saya saja yang mengemasi baju dan barang-barang saya." Menatap Aldebaran sejenak lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.
Aldebaran menunggu Heena di teras rumah, tidak lama kemudian Heena sudah tiba dengan membawa satu koper miliknya.
Aldebaran mengambil alih koper Heena, dan langsung membawanya masuk ke bagasi mobil.
Heena hanya bisa menghela nafas melihat sikap Aldebaran.
Setelah mobil sudah melaju, dalam perjalanan hening tidak ada yang buka suara, bila Aldebaran fokus mengemudi, berbeda dengan Heena yang menoleh ke kiri melihat jalanan luar, dengan segala pertanyaan dalam benaknya.