
Setelah Heena merasa sedikit tenang, tangannya mengusap matanya yang basah, kemudian Heena kembali duduk sempurna seraya menatap Lulu lagi.
"Maafkan ibu saya, Kak." Lulu menunduk ia saat ini merasa takut, hanya bisa berharap dalam hati bila Kak Heena mau ikut bersamanya pulang, tapi melihat Kak Heena begitu terpukul, akal sehatnya mengatakan sulit.
Saat ini Lulu benar-benar dilanda kebingungan, namun tiba-tiba mendengar suara Heena, Lulu seketika mengangkat wajahnya.
"Aku mau bertemu ibumu, bisa antarkan saya." Menatap lurus ke arah Lulu, sebisa mungkin Heena menekan bibirnya supaya tidak bergetar, karena sungguh dirinya masih terkejut.
Lalu langsung mengangguk cepat, kemudian Heena dan Aldebaran berpamitan pada Bibi Sekar, wanita paruh baya itu mendoakan semoga lancar sampai tujuan.
Setelah mobil melaju, Heena yang duduk di samping Aldebaran yang saat ini sedang mengemudi.
Wanita itu terus menatap jalanan luar, dengan tatapan kosong, entah dirinya harus bahagia atau sedih, dan benar atau salah keputusannya ini yang ingin bertemu ibunya Lulu, namun hati kecilnya memintanya untuk harus segera bertemu.
Di kursi belakang juga melakukan hal yang sama, Lulu melihat jalanan luar, dalam hati kasihan melihat Kak Heena, meski dirinya juga kurang tahu kisah masa lalu Ibunya, tapi soal ini Lulu tidak ingin bertanya. Biarlah itu jadi urusan orang dewasa.
Yang penting sekarang dirinya berhasil mengajak Kak Heena pulang untuk bertemu ibunya.
Sementara Aldebaran pria itu hanya fokus mengemudi sedari tadi, membiarkan Heena berdiam diri untuk menenangkan hati, sedikit tahu sikap wanita, bila sedang bersedih itu perlu berdiam diri.
Sementara Aldebaran sendiri tidak akan menghalangi, apa pun nanti keputusan Heena, ia cukup mendukung saja.
Lelah dengan pikirannya yang memikirkan banyak hal, yang baru Heena ketahui, menghubungkan masalah satu dengan masalah lainnya, lama-lama Heena merasa ngantuk dan akhirnya tertidur.
Di kursi belakang Lulu saat ini juga tertidur, tinggal hanya Aldebaran yang masih terjaga dan terus melajukan mobilnya, hingga tidak terasa waktu sudah satu jam berlalu, kini mobil sudah sampai tujuan.
Mobil berhenti tepat di GPS, Lulu bangun dan mengatakan rumahnya berada di lima rumah ke depan dari rumah saat ini tempat mobil berhenti.
Biasa di desa GPS suka salah, ahirnya Aldebaran melajukan lagi mobilnya, kini sudah benar sampai di rumah ibunya Lulu.
Heena keluar mobil, berjalan mendekati Aldebaran, rumah Lulu ada di pinggir jalan sebelah kanan, mobil Aldebaran berhenti di sebelah kiri jalan, kini Heena dan Aldebaran sama-sama menatap rumah Lulu yang masih terbuat dari anyaman bambu.
Melihat itu Heena meneteskan air mata, bila benar yang tinggal di dalam sana adalah ibu kandungnya, ternyata selama ini hidup susah.
Heena sedikit berpikir apa karena dulu hidup susah maka dirinya dibuang di panti asuhan, tapi kini pikirannya teralihkan saat di dalam rumah Lulu nampak banyak orang.
Lulu segera mengajak Heena dan Aldebaran untuk masuk ke dalam rumah.
Ternyata di dalam rumah Lulu ada tujuh ibu-ibu yang saat ini sedang mengerubungi wanita yang sedang berbaring di atas ranjang.
"Ibu ..." teriak Lulu saat melihat ibunya di atas ranjang tidak berdaya, Lulu langsung memeluk Ibunya dengan cucuran air mata melihat kondisi Ibunya yang semakin lemah.
Di ruang kamar ini ada tujuh ibu-ibu warga, salah satunya adalah istri Pak RT.
"Lulu Ibumu semakin parah sakitnya semenjak kamu pergi tidak pulang," terang ibu RT.
Dan disitulah Lulu semakin menangis karena merasa bersalah, bukan tidak mau pulang, karena saat itu dompetnya di copet hingga membuatnya tidak bisa pulang.
"Kamu sudah pulang, Nak?" ucap lirih hampir-hampir tidak terdengar, Lulu menunduk mencium pipi Ibunya dan berbalas Ibunya juga mencium pipi Lulu.
Lulu meletakkan tangannya di pipi Ibunya, seraya menatap dalam bola mata Ibunya. "Ibu ... sekarang Lulu sudah pulang, Ibu harus sembuh." Lulu mencium lagi kening Ibunya.
"Nak, jangan pergi lagi, Nak. Ibu khawatir." Terang Ibunya lagi yang juga ikut menangis saat ini.
Lulu menggeleng seraya menghapus air mata Ibunya, saat ini Lulu ingin mengatakan bahwa berhasil kembali dengan membawa kak Heena.
Heena yang sedari tadi hanya berdiri seraya menatap interaksi Lulu dan Ibunya, hatinya sedikit terenyuh, bahkan dirinya sejak tadi juga sudah ikutan menangis, Aldebaran mengusap-usap lembut bahu Heena.
Dan rasanya detik-detik saat Lulu akan mengatakan kehadiran dirinya saat ini, Heena malah semakin tidak kuat, belum bisa menerima begitu saja, tapi saat melihat kondisi Ibunya Lulu yang sakit, ia pun tidak mungkin bertanya hal-hal yang akan memicu Ibunya Lulu makin tambah sakit.
"Ibu, lihat siapa yang Lulu ajak pulang." Lulu menunjuk Heena, dan perlahan mengajak arah pandangan mata Ibunya untuk melihat Heena.
Ibu meneteskan air mata. "Sheila," gumam nya lirih, tiba-tiba dalam hatinya terasa penuh membuatnya semakin terisak menangis tanpa suara.
Sebagai wanita yang berhati lembut, Heena tidak bisa melihat seorang ibu menangis, Heena mendekat lalu memeluk Ibu Fatima.
Seketika Ibu Fatima semakin menangis, tidak menyangka bayi yang dulu ia tinggal di pantai asuhan dengan tega, saat ini sedang memeluknya, sungguh perasaan bersalah itu kini menghujam menjadi satu.
Namun karena kondisi Ibu Fatima yang masih lemah, belum bisa menerima pikiran berat yang saat ini sedang ia pikirkan, tiba-tiba Ibu Fatimah pingsan, Heena dan Lulu serta ibu-ibu yang ada di kamar tersebut langsung heboh, berteriak ini harus gimana, ada yang menangis ketakutan.
Ahirnya Aldebaran menggendong tubuh kurus Ibu Fatima, untuk ia bawa ke rumah sakit, Heena berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil.
Setelah Ibu Fatima masuk ke dalam mobil, yang di susul oleh Heena dan Lulu, di dalam mobil kepala Ibu Fatima di letakkan di pangkuan Heena.
Aldebaran langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat, dengan kecepatan sedikit cepat.
Lulu terus menangis merasa takut dengan keadaan Ibunya, bibirnya meracau berkata jangan tinggalkan Lulu.
Apa lagi saat melihat Ibunya yang semakin lemah, bahkan nafasnya sudah sangat terdengar susah, pingsannya sudah hampir mau sadar, tapi bernafasnya kesulitan.
"Ibu sudah tidak kuat."
Aaaaaa!
Mendengar suara rintihan Ibunya yang lemah Heena dan Lulu seketika menjerit takut.
Aldebaran seketika menambah lagi kecepatan laju mobilnya, dan setelah menemukan rumah sakit, mobil berhenti.
Aldebaran yang sudah keluar mobil segera membawa Ibu Fatima masuk ke dalam.
Heena dan Lulu berjalan di belakang Aldebaran.