
Bibi Sekar masih lanjut olah raga senam, Heena melirik sekilas kemudian menekan simbol kirim, pesan terkirim.
Heena bangkit dari duduknya, berjalan mendekati Bibi Sekar, ia melanjutkan lagi olah raga senamnya.
Bergerak sesuai ritme musik, keduanya sangat kompak, kaos olah raga yang melekat di tubuhnya sudah basah akan keringat, karena mereka sudah lama melakukan senam tadi.
Di ruangan itu banyak pilihan alat olah raga, namun yang biasa Bibi Sekar lakukan itu olahraga senam.
Musik pertama selesai, Bibi Sekar menyalakan musik lain lagi, kali ini lebih top suaranya, tentu gerakannya lebih cepat karena musiknya cepat.
Heena berdiri di belakang Bibi Sekar, mengikuti gerakannya, tapi Heena kwalahan karena terlalu cepat.
Heena mengagumi Bibi Sekar luar biasa, pantas saja di usianya yang sudah tidak muda lagi tapi masih cantik dan fresh.
Heena malah jadi kelelahan, dan nafas terengah-engah. "Bibi aku menyerah!" teriak Heena karena suara musik itu sangat kencang.
"Lanjut Heena, nanggung!" Bibi Sekar bersuara tinggi seraya masih terus bergerak-gerak melanjutkan senamnya.
Heena hanya mengibaskan tangan, tanda sudah tidak mau, Heena mengambil air mineral lalu meneguknya.
"Bibi aku kembali!" teriaknya seraya berjalan ke luar dari tempat olah raga tersebut.
Heena berjalan menuju kamar, saat ini waktu baru pukul sepuluh pagi, Heena mengeringkan keringatnya dulu, setelah itu ia mau bersiap, karena tadi Ane mengirim pesan padanya, bila Yusuf mau makan siang bersamanya.
Tentu Heena tadi saat mendapat pesan masuk langsung bahagia, ibu mana yang tidak senang bila akan bertemu putranya, apa lagi tidak tinggal bersama membuatnya jarang bertemu.
Dan disaat putranya ingin makan siang bersama di luar, tentu saja Heena kabulkan.
Setelah beberapa saat keringat mengering, Heena membersihkan diri di kamar mandi. Cukup lima belas menit Heena sudah selesai, saat ini sedang berpakaian, memoles tipis wajahnya dengan make-up, setelah semua selesai Heena berangkat untuk menemui Yusuf.
Heena pergi diantar sopir, sopir yang Aldebaran perintahkan khusus untuk mengantar Heena ke mana pun.
Saat mobil melewati toko permainan, Heena meminta sopir untuk menepikan mobilnya, setelah mobil menepi, Heena ke luar, kemudian berjalan memasuki toko permainan.
Heena mau membawa mainan untuk diberikan putranya, Heena membeli sebuah mobil permainan anak keluaran terbaru.
Setelah membayar tagihannya, Heena kembali ke mobil, mobil kembali melaju, niat hati Heena ingin menunggu tapi mobilnya malah terjebak macet.
"Perjalannya terhambat sebentar, Nyonya. Di depan sepertinya ada yang kecelakaan." Pak sopir menjelaskan.
"Baik Pak tidak masalah." Heena sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat yang terjadi di depan sana, namun tidak kelihatan, yang ada cuma mobil berbaris karena terjebak macet.
Bila Heena sedang terjebak macet, Yusuf dan Ane sudah ke luar dari sekolah, sekarang tinggal mau menuju tempat restoran untuk makan siang bersama.
"Hole mau beltemu mama ..." teriak Yusuf seraya mengangkat kedua tangannya, sebelum masuk ke dalam mobil.
Ane tersenyum melihat anak asuhnya bahagia, kemudian membawa Yusuf masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju membelah padatnya jalanan kota, saat ini waktu sudah menunjuk pukul dua belas siang, Ane mendapat pesan masuk dari Heena, bila ia akan sedikit terlambat nantinya, karena terjebak macet.
Setelah beberapa saat mobil yang membawa Yusuf dan Ane sampai di tempat tujuan, Yusuf langsung berlari masuk ke dalam restoran saat pintu mobil terbuka, membuat Ane harus segera mengejar.
Yusuf terus berlari, tanpa pedulikan teriakan Ane yang menghawatirkan dirinya takut jatuh, tapi Yusuf terus berlari dan baru berhenti saat menemukan kursi kosong.
Dengan gerakan lincah Yusuf langsung duduk, matanya melihat pengasuhnya yang masih berjalan cepat ke arahnya, Yusuf malah tertawa.
Ane geleng kepala, untung saja baik-baik saja bila jatuh, sudah habis Ane dimarahi Tuannya, tidak! pasti Nyonya Heena juga pasti ikut marah padanya pikir Ane.
Ane kemudian ikut duduk, menjaga Yusuf sebelum Heena datang.
Sebenarnya tadi sudah tidak lama lagi sampai tempat tujuan, dan setelah lima belas menit perjalanan mobil sampai.
Heena langsung bergegas ke luar dan berjalan memasuki restoran, setelah mobil terparkir rapih.
Saat langkah kaki Heena terus berjalan cepat untuk segera bertemu Yusuf, yang sudah terlihat duduk di ujung sana bersama Ane, tiba-tiba matanya menangkap pria yang entah muncul dari arah mana, pria itu duduk di kursi samping Yusuf saat ini.
"Michael," gumam Heena dengan terkejut, sampai berdiam diri, Yusuf dan yang lain menatap ke arahnya dengan senyum, perlahan Heena melanjutkan langkahnya.
"Mama?" ucap Yusuf dengan bahagia. Heena kemudian duduk di kursi depan Yusuf.
Acara makan siang bersama berjalan lancar, dari wajah senyum Yusuf, Heena bisa melihat bahwa putranya senang, karena saat ini sudah seperti keluarga yang utuh.
Kebetulan di restoran ini ada sebuah kolam ikan hias, Yusuf ingin melihat tempat tersebut, dan Ane menemani.
Saat ini menyisakan Heena dan Michael saja, dalam beberapa saat hanya tercipta keheningan.
"Aku pikir kamu tidak datang."
Suara Heena memecah keheningan, yang saat ini sedang mengaduk jus jeruk di tangannya, tanpa melihat lawan bicara.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Michael menatap Heena, ingin melihat reaksi wanita itu.
Melihat Heena tidak bergeming, Michael kembali bicara, "Apa menurutmu setiap orang pantas mendapatkan kesempatan kedua." Menelisik wajah Heena, ingin melihat ekspresi wanita cantik itu.
Heena tersenyum seraya menatap Michael. "Itu tergantung, asal mau memperbaiki diri, orang tersebut menurutku pantas mendapatkan kesempatan kedua."
Eh! aku bicara apa sih, Heena menutup mulutnya yang baru selesai bicara, tunggu dulu, Heena berpikir Michael mau apa kenapa bertanya hal tersebut.
Belum sempat hilang keterkejutannya karena memikirkan perkataan Michael barusan, Heena kembali terkejut dengan ungkapan kata yang baru saja ia dengar.
"Heena aku mencintaimu." Michael meraih tangan Heena di atas meja, ujung jempolnya mengusap lembut punggung tangan Heena.
Heena masih diam belum memberikan reaksi apa pun, masih sangat nyok, otaknya blank masih mencerna apa yang ia dengar barusan itu salah, karena tidak mungkin Michael mencintainya, tapi tunggu dulu, eh!
Michael ingin mencium punggung tangan Heena, saat tangan itu sudah mau mendekati bibir Michael, Heena menarik tangannya dengan cepat.
Membuat Michael langsung menatap Heena dengan tatapan kecewa, dan bertanya kenapa begitu sorot mata Michael yang Heena tangkap.
Heena menghela nafas ambil nafas ia lakukan berkali-kali hingga ahirnya ia bicara yang langsung membuat Michael bagai tersambar petir.
"Aku sudah menikah." Heena bicara mantap seraya mengangkat telapak tangannya yang di mana ada sebuah cincin berlian yang tersemat di cari manisnya. Heena putar telapak tangannya yang kini semakin terlihat jelas cincin berlian itu.
Saat ini tidak ada yang bisa menyelamatkan Heena dari ucapan Michael barusan, selain berkata jujur bila dirinya sudah menikah
Itu tidak mungkin gumam Michael seraya menggelengkan kepalanya, bahkan tubuhnya saja sudah terasa lemas, tenaganya seperti menghilang begitu saja.
"Hubungan kita tidak lebih hanya untuk menjaga Yusuf bersama." Tekan Heena.
Duar!
Harapan yang belum tersampaikan kini lebih hancur duluan.
Setelah bicara tersebut Heena pergi dari restoran.
"Heena," suara Michael tercekat dalam tenggorokan, ia masih syok dengan yang barusan ia dengar, seraya menatap punggung Heena yang semakin berjalan menjauh, tangannya terkepal.