
Selesai mandi dan berpakaian rapi, Aldebaran sarapan bersama dengan Heena, masakan Heena memanjakan lidahnya. Aldebaran ingin membawa bekal, selesai sarapan, Heena langsung membuatkan bekal untuk Aldebaran, masih menggunakan lauk dan sayur yang sama.
Heena mengantar Aldebaran sampai depan rumah, sebelum Aldebaran masuk ke dalam mobil, ia memeluk Heena mencium pipi Heena dan yang terakhir mencium perut Heena yang masih rata.
"Papa berangkat kerja, di rumah hati-hati sama Mama," ucap Aldebaran di depan perut Heena, seolah calon bayinya mendengar.
Aldebaran berdiri mencium kening Heena sekilas, kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
Heena masuk ke dalam rumah, pagi ini akan ada seorang perawat khusus yang Aldebaran sewa untuk tinggal di rumah ini menemani Heena, supaya mengontrol terus kesehatan Heena.
Pukul delapan Heena sudah mandi, dan sudah berpakaian rumahan, tiba-tiba pintunya di ketuk, Heena membukanya, ternyata seorang pelayan yang datang dan mengatakan bila perawat Devi sudah tiba.
Heena kemudian turun ke bawah, untuk menemui perawat Devi. Sampai di ruang tamu, Heena dan perawat Devi sama-sama saling melepas senyum.
"Nyonya, mulai hari ini saya akan tinggal di rumah Nyonya," ucap perawat Devi, dan langsung mendapat anggukan kepala Heena.
"Semoga betah bekerja dengan kami," ucap Heena dengan tersenyum, perawat Devi meng Amin kan ucapan Heena.
Kemudian Heena menunjukan kamar untuk perawat Devi, di dalam sana sudah lengkap dengan perlengkapan dokter, yang sudah Aldebaran siapkan khusus untuk menangani Heena.
"Nyonya, boleh saya periksa dulu keadaan, Nyonya?"
Heena mengangguk, lalu mengambil posisi berbaring, dan perawat Devi mulai memeriksa keadaan Heena. Seperti ini lah nanti pekerjaan perawat Devi setiap hari, memastikan kesehatan Heena. Juga makanan dan minuman yang Heena konsumsi harus jelas kesehatannya.
Tentu semua itu perintah Aldebaran, karena apa pun itu mau yang terbaik untuk istri dan calon anaknya.
Setelah selesai pemeriksaan keadaan Heena, dengan hasil ibu dan janinnya sehat, Heena dan perawat Devi turun ke lantai satu, di sana sambil nonton TV keduanya saling mengobrol.
Tepat pukul sebelas siang Yusuf datang bersama Ane dan juga Nelly, belum pulang ke rumah, habis dari sekolah langsung menuju ke sini.
"Mama ..." teriak Yusuf sembari terus berjalan masuk.
Heena yang mendengar suara Yusuf, langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri sumber suara.
"Hei, sayang," ucap Heena setelah tahu bahwa yang datang beneran putranya.
Heena langsung menggendong Yusuf seraya menciumi pipi putranya.
"Mama, ku mau tulun, nanti adek bayi sakit kalo aku di gendong Mama," ucap Yusuf yang ingin segera diturunkan.
Heena tersenyum, Ane juga tersenyum, Nelly yang mendengar ucapan Yusuf juga tersenyum.
Heena kemudian menurunkan Yusuf, dan mengajak Yusuf serta Ane dan juga Nelly masuk ke ruang keluarga.
Nelly berjalan bersama Ane, karena Nelly buta dan belum terbiasa ke rumah Heena, bila sudah biasa Nelly tidak perlu dibantu.
Heena kemudian memperkenalkan Yusuf adalah putra pertamanya pada perawat Devi, Yusuf juga berkenalan menunjukan namanya pada perawat Devi.
"Aku udah mau punya adik lho?" Yusuf pamer.
"Wahh, sebentar lagi mau dipanggil Kakak dong?" ucap perawat Devi seraya tersenyum.
"Iya ... Nanti Yusuf mau jagain adik dan mau ajak main adik," ucap Yusuf dengan wajah imut.
Semua orang jadi gemas liat Yusuf bicara.
"Wahh, calon kakak yang baik, ya?" tanya perawat Devi, yang langsung Yusuf jawab.
Heena merengkuh tubuh Yusuf memeluknya dengan gemas, makin hari Yusuf makin pintar, Heena bangga dengan putra pertamanya.
Saat siang hari semua orang makan siang bersama, suasana jadi lebih ramai, Yusuf juga tidur siang di rumah Heena. Namun tepat pukul empat sore, Yusuf harus pulang.
Heena mengantar mereka sampai depan rumah, setelah mobil sudah membawa mereka pergi, seketika suasana kembali seperti tadi, sepi tidak ada lagi canda tawa Yusuf.
Heena tersenyum kemudian masuk ke dalam rumah, sampai di dalam kamar, Heena mendapat telpon Vidio call Aldebaran.
"Kangen ..." ucap Aldebaran dengan wajah manja.
Melihat itu Heena malah tertawa, karena Aldebaran terlihat lucu dan menggemaskan sama seperti Yusuf, bila sedang bermanja.
"Pulanglah kan sudah sore," jawab Heena apa adanya, bilang kangen berarti harus pulang pikir Heena.
"Belum bisa sayang, malam ini aku mau bertemu klien," ucap Aldebaran dengan lesu yang kemudian menelengkupkan wajahnya ke meja.
Heena makin tertawa, benar-benar lucu baginya.
"Ya sudah bila begitu lihat aku saja sekarang, aku sudah cantik belum, aku habis mandi lho," Pamer Heena seraya meminta di puji.
"Kamu can-."
"Tuan, kita harus berangkat sekarang," terang Sekertaris Alan. Yang masuk di sambungan telepon, menghentikan ucapan Aldebaran tadi.
Aldebaran menghela nafas panjang. "Aku matikan ya, sampai bertemu di rumah," ucap Aldebaran dengan lesu wajah tidak bersemangat.
Sambungan telepon terputus, Heena meletakkan ponsel nya lagi di atas naskah, baru Heena mau mandi, tadi dirinya bohong sudah bilang mandi.
Matahari mulai tenggelam, kegelapan malam mulai naik, pasangan pengantin yang saat ini sedang berbulan madu, sepertinya sedang memadu kasih di dalam kamar.
Tanpa melepas ciuman bibir, Rengky menarik pengikat kecil lingerie yang Ayunda gunakan, posisi keduanya sedang duduk di atas ranjang, perlahan Rengky membawa Ayunda berbaring.
Baru melepas tautan bibir setelah keduanya merasa kehabisan oksigen, Rengky dan Ayunda saling pandang dengan penuh cinta.
"Apa aku boleh?" tanya Rengky yang sudah dipenuhi kabut gairah.
Ayunda perlahan mengangguk, ini adalah baru pertama kali baginya, kemarin setelah menikah belum melakukannya, dan sekarang Ayunda sudah merasa yakin.
Rengky kembali mendekatkan wajahnya, menyapu leher Ayunda dengan lidahnya, sesekali menggigit kecil meninggalkan tanda kepemilikan.
Ciumannya turun ke bawah sampai dada, puas mencium dan membuat tanda kepemilikan di area dada, bibirnya berganti mengulum salah satu bongkahan daging, dengan salah satu tangannya memainkan bongkahan daging yang sebelah seolah takut diambil orang.
Ayunda mulai menikmati setiap sentuhan yang Rengky berikan, suara erotis bersautan dalam ruangan tersebut. Suhu dingin tidak berpengaruh kini berubah hawa panas.
Rengky membuka paha Ayunda lebar, menggesekkan miliknya dengan milik Ayunda dengan gerakan pelan, sampai Ayunda terlihat menikmati, Rengky mulai menerjang masuk, namun sekali dua kali belum berhasil masuk, milik Ayunda masih tersegel rapat.
Yang ketiga kalinya Rengky menghentakkan dengan sekali gerakan miliknya langsung masuk sempurna, bersamaan itu Ayunda meringis kesakitan.
Aww!
Rengky kembali mencium bibir Ayunda membuat wanitanya hanyut dalam sentuhan yang dirinya berikan, dengan pergerakan pelan di bawah sana.
Setelah Ayunda merasa menikmati, Rengky menambah ritme permainannya, malam itu kedua insan mengejar kenikmatan satu sama lain, tidak cukup melakukan satu kali terus melakukan berkali-kali, sampai keduanya kelelahan dan tidur saling memeluk.