
Heena yang sedang menunduk seraya memegang bandul kalung, seketika membeku saat mendengar Aldebaran berkata cantik.
Heena menahan nafas saat Aldebaran perlahan membalik tubuhnya, kini Heena berhadapan dengan Aldebaran.
Heena masih menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya, Aldebaran meraih dagu Heena untuk menatapnya.
"Kamu tidak suka."
Heena langsung bengong, dari tempat sedekat ini, Heena bisa melihat bila Aldebaran terlihat kecewa, tapi siapa yang tidak suka, jelas-jelas dirinya bahagia sampai pipinya merah merona.
Namun Heena tidak tahu bila yang ditangkap Aldebaran bahwa Heena tidak suka, karena tadi Heena menunduk.
Heena tersenyum. "Suka, aku sangat suka, apa lagi bandulnya." Heena menunjukan nama pada bandul kalung itu dengan tersenyum.
Wajah kecewanya menghilang, berati dia ingin aku mengakuinya, hemm lucunya, batin Heena.
Aldebaran tersenyum kecil seraya mengangkat tangannya mengacak rambut Heena dengan gemas, kemudian merangkul bahu Heena lalu mengajaknya berjalan.
Wajah Heena masih dihiasi senyum-senyum, apa lagi posisinya saat ini berjalan sembari pundaknya di peluk Aldebaran, ini sudah seperti belanja sambil kencan.
Saat Heena melihat beberapa pasang mata yang tersenyum ke arahnya, karena melihat dirinya dan Aldebaran berjalan romantis, Heena jadi malu, masih terus senyum-senyum tanpa berani bicara pada Aldebaran untuk menurunkan tangannya.
Sementara Aldebaran terlihat cuek tidak peduli, Heena pikir Aldebaran memiliki sifat ganda, bila di rumah cuma berdua dia cuek, tapi saat di luar dia harmonis, seperti saat ini perlakuan Aldebaran merasa Heena dimiliki.
Benar kata orang, bahwa pelangi muncul setelah hujan, setelah banyaknya air mata yang Heena lalui sejak mulai pisah dengan Aldebaran dulu, kini bisa merasa kembali bahagia saat bersama Aldebaran lagi.
Terjalin pernikahan yang unik, seolah semesta memang menginginkan untuk bersatu lagi.
Heena bersyukur dan menikmati hari-harinya, sejauh ini yang dirasa cukup bahagia saat bersama Aldebaran, meski di awal Heena akui sedikit meragu.
Lamunan Heena terbuyarkan saat tiba-tiba Aldebaran menghentikan langkahnya, tentu langkah Heena juga ikut berhenti.
"Yusuf sedang apa ya?" Aldebaran bicara sembari melihat wahana permainan anak-anak, ia pikir pasti Yusuf akan senang seandainya ikut bersamanya kemari tadi.
Mendengar Aldebaran menyebut nama putranya, hati Heena langsung merasa bahagia, Heena menatap wajah Aldebaran.
"Biasanya jam segini dia sedang tidur." Heena menjawab, Aldebaran seketika melihat arlojinya, menganggukkan kepalanya saat sudah tahu jam berapa.
Kemudian mereka berdua berjalan lagi, kali ini menuju restoran yang ada di pusat perbelanjaan tersebut, Heena sudah duduk, sementara Aldebaran yang memesan makanan, selesai makan niat hati ingin nonton bioskop.
Setelah beberapa saat Aldebaran kembali membawa dua makanan dan dua minuman, setelah meletakkan di meja, Aldebaran pamit pergi ke kamar mandi.
Heena belum menyantap makanannya, karena menunggu Aldebaran, saat ini Heena sedang bermain hp nya, tiba-tiba mendengar suara yang familiar memanggilnya, Heena melihat orang tersebut.
Michael, gumam Heena dengan terkejut.
"Heena, kamu di sini?" Michael bertanya dengan antusias.
Heena mengangguk, masih tidak percaya bila akan bertemu Michael di sini juga, Heena toleh-toleh melihat Aldebaran, namun pria itu belum kelihatan.
Michael meraih kursi ia bawa ke samping Heena, kemudian duduk di sana, Michael menatap Heena. "Katakan bila yang kamu ucapkan ke marin itu salah iya, kan."
Heena menggeleng, membuang muka. "Aku mengatakan yang sebenarnya, El. Lagian kamu sudah melihat cincinnya, kan."
"Cincin bisa saja palsu, sekarang katakan siapa suami kamu bila memang kamu sudah menikah," sarkas cepat Michael yang masih terus menatap lekat wajah Heena.
Sialan, umpatnya saat menyadari semakin hari Heena semakin cantik.
Tidak jauh dari tempat Heena duduk saat ini, seorang pria mengepalkan tangan sembari terus menatap ke arah Heena.
Michael tersenyum menyeringai. "Kamu bohong Heena, kenapa kamu harus bohong."
Dikata bohong Heena tidak terima, menatap marah ke arah Michael. "Aku tidak bohong, tapi kamu yang tidak percaya!"
"Sebutkan siapa suami kamu." Michael menatap Heena intens.
Heena tidak menjawab, dengan wajah kesal campur marah, Heena berdiri dan niat hati ingin pergi menyusul Aldebaran.
Namun belum sampai Heena melangkah pergi, pergelangan tangannya lebih dulu di pegang Michael.
"Jawab Heena."
Heena mau melepaskan tangannya namun cengkram tangan Michael begitu kuat, hingga Heena tidak bisa melepaskan tangannya.
Saat Heena dan Michael masih saling fokus dengan tangan Heena, tiba-tiba Aldebaran datang bak malaikat penolong Heena.
Dengan gerakan cepat Aldebaran melepas tangan Michael, beberapa saat Aldebaran melihat tangan Heena yang habis di pegang Michael.
Hatinya marah tidak suka miliknya disentuh orang lain. Aldebaran beralih menatap Michael dengan tajam.
Michael tersenyum miring. "Hah, kamu ngapain di sini, jangan ikut campur urusan orang lain, lagian kalian hanya bos dan karyawan."
Michael bicara seperti itu karena ia pikir Aldebaran masih bosnya Heena, karena belum tahu faktanya. Bila sudah tahu apa kah Michael masih bisa sesombong itu.
"Karena dia Istriku," ucap Aldebaran tanpa merubah ekspresi wajahnya yang masih terlihat dingin.
"Istrimu," ulang Michael, dan di detik kemudian Michael tertawa keras.
Hahahaha!
Michael tertawa sampai ke luar air mata, ia pikir Aldebaran becanda, karena tidak mungkin bila Heena menikah dengan Aldebaran, pikiran waras nya masih menolak kebenaran itu.
"Jangan becanda, Al. Heena, kalian jangan becanda!" ucap keras Michael masih ada tertawa.
Aldebaran yang tadi menggenggam tangan Heena, kemudian ia lepas, ia mengambil dompetnya, dan kemudian menunjukan sesuatu yang ia keluarkan dari dalam dompetnya.
Aldebaran menjatuhkan dua benda itu di atas meja, yang terkejut bukan hanya Michael tapi Heena juga.
Heena sampai menutup mulutnya yang menggangga, Michael mendekat meja lalu mengambil dua benda itu.
Deg! buku nikah gumam Michael, bahkan saat ini tangannya gemetar memegang buku nikah tersebut, setelah membaca siapa pemiliknya seketika kaki Michael lemas bagai tidak ada tulang.
Tidak mungkin ini pasti palsu dan rekayasa, namun bagaimana bila ini benar! Michael perang batin, sudah melihat buku nikah sekali pun tetap ingin menyangkal bila itu semua rekayasa.
"Aku yakin kalian sandiwara untuk membohongiku!"
Cih apa juga untungnya membohongi dia, Aldebaran tersenyum miring, mengambil buku nikah di tangan Michael dengan kasar, ia kembali simpan, kemudian menarik tangan Heena untuk meninggalkan tempat tersebut.
Heena berjalan mengikuti langkah Aldebaran, belum sepenuhnya sadar dari keterkejutannya, masih mikir kapan Aldebaran mendaftarkan pernikahannya, sampai saat ini Heena dibikin terkejut.
Aldebaran penuh kejutan pikir Heena, masih terus berjalan mengikuti langkah pria yang barusan membuat dirinya berasa naik rollercoaster.