
Heena saat ini sedang tertidur, Dokter juga sudah mengobati luka di kaki Heena, tadi Aldebaran langsung membawa Heena ke rumah sakit.
Aldebaran berdiri di samping ranjang pasien, ia melihat Heena yang tertidur dengan wajah pucat.
"Apa yang terjadi hingga membuatmu seperti ini?" bicara dalam hati, merasa sudah larut malam, Aldebaran memutuskan untuk tidur di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Tidak tega bila harus meninggalkan Heena sendiri, akhirnya memutuskan untuk menginap.
Di tempat lain, Ayunda yang khawatir dengan keadaan Kakaknya, ia terus menghubungi nomer ponsel Heena sedari tadi, namun tetap suara operator yang menjawab, entah sudah berapa banyak panggilan yang Ayunda lakukan.
Ahirnya wanita cantik itu memutuskan untuk istirahat, dan berencana akan menemui Kakaknya esok hari.
Pagi hari di rumah sakit.
Heena bangun dari tidur panjangnya, matanya langsung mengedarkan ke seluruh ruangan yang bewarna putih tulang, Heena memegangi kepalanya yang terasa sakit saat mencoba mengingat semuanya.
Matanya beralih melihat selang infus yang menempel di punggung tangannya. "Apa! aku di rumah sakit," gumamnya terkejut.
Pikirannya masih mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka, menampakkan pria yang sangat ia kenal.
"Kamu sudah bangun?" Aldebaran bertanya seraya berdiri di samping Heena.
Heena mengangguk, kini dia ingat bahwa semalam ia bertemu Aldebaran di jalan, namun setelah itu ia tidak ingat lagi kejadian selanjutnya.
"Aku panggilkan dokter untuk memeriksa kamu, dan aku juga harus segera pergi karena ada urusan dengan, om aku."
Heena hanya mengangguk kecil, melihat Aldebaran yang melangkah pergi meninggalkan ruangannya.
Tidak berselang lama, Dokter bersama suster datang, lalu memeriksa keadaan Heena.
Heena hanya perlu istirahat dan tenangkan pikiran, setelah selesai dengan tugasnya, Dokter dan Suster pergi meninggalkan Heena sendirian.
Setelah kepergian Dokter, Heena teringat Ibu Jamilah kembali yang telah tega padanya, mengusap sudut matanya yang basah seraya menguatkan hati untuk tidak lemah lagi.
Ketika selama ini Ibu selalu keras terhadapku, bahkan aku tidak pernah berfikir bahwa Ibu membeda kasih antara aku dan Ayunda, meski aku melihatnya aku selalu berusaha menutup kenyataan, semua aku lakukan karena baktiku pada Ibu.
Tapi setelah aku tahu, Ibu dengan sengaja memarahiku dan menyuruhku menikah dengan pria lain untuk menebus hutang Ibu, aku kecewa saat tahu alasannya karena aku bukan putri Ibu kandung.
Sakit, Bu," lirih Heena seraya menggigit bibirnya yang bergetar.
Siang hari di tempat lain tepatnya di perusahaan.
Michael mendapat laporan dari pelayan yang ada di Mansion, bahwa Istrinya Mawar telah pergi meninggalkan Mansion sejak pagi.
Brak!
Seketika Michael marah, ia menggebrak meja dan langsung ingin kembali ke Mansion untuk mengecek keadaan di Mansion.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai sudah sampai di Mansion.
Pelayan menunduk saat melihat Tuannya datang.
Michael tidak menghiraukan pelayan, ia langsung menuju kamar yang selama ini Mawar tempati.
Michael membuka pintu dengan kasar, lalu berjalan mengecek almari pakaian serta almari tempat menyimpan barang branded milik Mawar.
Sialan, umpatnya. Saat melihat almari tersebut telah kosong, tanpa pikir panjang Michael langsung memukul almari tersebut hingga membuat tangannya sendiri berdarah.
Michael melihat sekeliling ruangan, ia berjalan menuju meja rias lalu membuka laci, ia mendapati sebuah surat.
Michael membaca surat tersebut, seketika marahnya semakin membuncah seraya meremat surat tersebut.
"Beraninya dia membohongi aku, bahwa dia hamil anakku!"
Arghhhh!
Michael meninju kaca meja rias yang langsung membuat kaca pecah menjadi belahan kecil-kecil.
Drrtt. Drrtt.
Michael mengangkat handphonenya yang berdering, ternyata panggilan dari Asistennya, yang mengatakan Michael harus kembali ke perusahaan karena sedang ada masalah.
Pelayan yang melihat Tuannya seperti itu menjadi ketakutan, karena ini baru pertama kalinya melihat Tuannya semarah itu.
Di tempat lain.
Mawar sedang mengendap-endap mencari tempat aman di bandara, setelah memutuskan untuk pergi dari Michael dengan membawa sebagian hartanya.
Mawar memutuskan untuk pergi ke luar negeri, saat ini wanita itu sedang menyamar, supaya niatnya tidak gagal, khawatir anak buah Michael akan mencarinya.
Rambut wig, serta kaca mata hitam, dan baju yang kedondoran. Mawar merasa dirinya sudah aman, diam memegangi koper tanpa berani mengangkat kepala, sesekali ia menoleh ke sekelilingnya untuk melihat situasi.
Sementara Michael yang tadi marah karena sudah ditipu Mawar atas mengaku hamil anaknya ternyata bukan, kini Michael semakin marah saat mengetahui wanita itu pergi membawa setengah hartanya.
Dan kini perusahaan Michael sedang dalam masalah, beberapa investor menarik sahamnya karena ada perusahan lain yang menawarkan keuntungan yang lebih tinggi.
Arghhhh!
Michael membuang berkas-berkas tersebut hingga membuat terbang mengudara jatuh mengenai wajah pegawainya yang ada di hadapannya.
Empat pria orang tersebut langsung gemetaran, kepalanya menunduk seraya bernafas pelan takut hanya sekedar menghirup oksigen banyak.
"Keluar!" teriaknya memenuhi seisi ruangan.
Empat pria tersebut langsung ke luar ruangan, seperti tersangka yang sangat menurut.
Setelah kepergian keempat bawahannya, Michael membuang nafas kasar berkali-kali seraya terkekeh masam, ia tidak menyangka wanita yang selama ini ia cintai berani berkhianat, bahkan lebih dari itu, wanita itu juga menginginkan hartanya.
Arghhhh!
Sreeeeekkkk!
Semua berkas file-file di atas meja kerjanya berjatuhan di lantai, dengan nafas yang masih tersengal-sengal Michael meraih handphonenya lalu menghubungi Sekretarisnya.
Di dalam pesawat.
"Aku sudah aman, sekarang aku sudah berada dalam pesawat."
"Nanti aku hubungi lagi." Mawar memutus sambungan telepon, kini ia sedang duduk bersandar di dalam pesawat.
Saat ini hatinya sudah lega, karena berhasil kabur dari Michael, dan langsung tersenyum puas, karena ia berhasil membawa hartanya Michael, yang ia yakini bahwa Perusahaan Michael akan bangkrut setelah ini.
Hahahaha!
"Pria bodoh itu miris sekali nasibnya, hahaha."
Mawar tertawa puas, orang di sebelah ia duduk menatap aneh ke arah Mawar yang tertawa sendiri.
Sementara Michael saat ini sedang memarahi orang-orang suruhannya yang gagal menemukan Mawar.
Bugh!
Bugh!
Michael memukul para orang-orang suruhannya dengan membabi buta, melampiaskan amarahnya.
"Bodoh! kalian semua bodoh! sudah aku bayar mahal, tapi tidak pecus bekerja ..." Tunjuknya pada wajah orang-orang suruhannya yang sudah terkapar lemas di lantai, tidak ada yang berani melawan.
Michael menendang mereka semua bahkan menginjak perutnya juga, tidak peduli pada orang-orangnya meringis kesakitan, amarahnya sedang membuncah ditambah kerja bawahannya yang tidak beres.
Kegiatan Michael terhenti, saat handphonenya berdering, mengangkat panggilan tersebut.
Sebuah panggilan telepon dari Asistenya yang mengatakan Mawar pergi ke London.
Mendengar informasi tersebut Michael mengepalkan tangannya marahnya tidak terkendali seperti kerasukan setan
"Mawar ...."
Teriaknya menggema ke seluruh ruangan.