HEENA

HEENA
BAB 7. Membayangkan saja tidak sanggup



Setelah mengatakan niatnya yang akan menikah lagi, Michael terus berjalan ke luar meninggalkan Heena sendiri di ruang kerja tersebut.


Setelah sepeninggalnya Mickael, Heena kembali menangis terisak seraya memegangi dadanya yang terasa sesak di dalam sana.


Heena tahu bukan wanita yang mendalami agama, tetapi mencintai suaminya sendiri bukan suatu yang salah, meski dahulu pernikahannya karena di jodohkan, dan di pisahkan dengan pria baik hati yang tulus mencintai dirinya.


Tidak mungkin bila tidak ada cinta di hati Heena setelah bertahun-tahun hidup bersama dengan Mickael, bahkan memiliki satu buah hati, anak tampan bernama Yusuf Michael Henderson.


Meski Heena sebagai istri yang di jual ibunya, ia tetap terima terus bersanding bersama Michael, walau pria itu memperlakukannya sangat dingin, Heena masih terima.


Tapi jika harus dimadu hati kecilnya tidak sanggup, tidak sanggup dengan penderitaan baru yang akan Michael berikan.


Heena tubuhnya meluruh kebawah tertunduk di atas lantai dengan tangis yang tergugu, sungguh sakit, sakit takdir yang ia dapatkan.


Keesokan paginya.


Heena menyuapi putranya, yang sebentar lagi akan berangkat sekolah.


Pagi ini hanya ada Heena dan Yusuf putranya di meja makan, karena Michael sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali.


Heena selalu tersenyum setiap di hadapan putranya namun seolah bocah kecil itu tahu bahwa wanita yang berstatus ibunya itu sedang pura-pura menutupi kesedihannya.


Jemari mungilnya menyentuh mata ibunya. "Mama, bila papa kasar lagi sama, Mama. Bilang, Yusuf. Nanti, Yusuf. Gigit." Bibir mungil Yusuf meragakan seperti sedang menggigit.


Sontak saja langsung membuat ibu muda itu tertawa lepas.


Heena mengusap rambut putranya dengan sayang, hanya putranyalah yang mampu mengobati rasa lara dalam hati.


Setelah semua siap Heena mengantar Yusuf ke sekolah. Menemani putranya hingga selesai jam belajar.


Saat Heena keluar dari toko yang tadi hendak membeli minuman, namun tiba-tiba mendengar percakapan antara Yusuf dan teman sekolahnya.


"Yusuf, papa kamu tidak pernah antar sekolah."


Hahaha.


Tiga anak sekolah menertawakan Yusuf.


"Papa," ucap Yusuf dengan mata berkaca-kaca.


Heena yang berdiri tidak jauh dari Anak-anak tersebut langsung mendekati Yusuf seraya mengusap sudut matanya yang mulai basah.


Heena meraih tubuh kecil itu lalu membawanya dalam gendongan, seraya menenangkan Yusuf.


Yusuf yang bersedih karena papanya tidak pernah ada waktu untuknya, membuat hati Heena terenyuh.


Maafkan Mama, hanya mampu dalam hati.


Heena menciumi puncak kepala Yusuf yang berada di gendongannya.


Heena langsung menuju mansion ketika jam sekolah Yusuf sudah selesai.


Ane pengasuh Yusuf langsung meraih anak kecil itu yang berada di gendongan Heena untuk di bawa ke kamar Yusuf.


Sementara Heena langsung menuju kamarnya dan langsung menghubungi ibunya.


Sambungan telepon telah diangkat di seberang sana.


Belum sempat Heena mengatakan salam namun ibunya lebih dulu berkata.


Tut.


Sambungan telepon terputus.


Heena menghela nafas panjang perlahan ia menjauhkan handphonenya dari telinga.


Heena kemudian duduk di kursi depan meja rias lalu menatap langit-langit kamar, tidak terasa air matanya kembali menetes.


Entah akan dibilang egois atau tidak bila ia meminta cerai dari Michael, tapi ia juga bingung bagaimana cara menjelaskan kepada putranya yang masih di bawah umur.


Namun bertahan rasanya tidak akan sanggup, hanya membayangkan saja rasanya pahit sekali bila harus memiliki seorang madu.


Heena menggelengkan kepalanya tangisnya semakin deras, pikirannya masih bingung mencari cara pisah tanpa harus melukai hati putranya.


Saat Heena masih termenung tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar.


Terlihat Anak kecil yang tampan saat pintu kamar tersebut dibuka oleh Heena.


"Mama ..." Yusuf mengangkat kedua tangannya meminta gendong.


Heena menggendong Yusuf seraya mencium-cium pipi putranya.


Heena membawa Yusuf di atas ranjangnya, Yusuf sudah biasa bila tidur siang pasti kamar mamanya.


Heena menidurkan Yusuf, namun Anak kecil itu seolah masih malas untuk menutup matanya.


"Mama, mamanya teman aku ada yang pisah sama papanya." Yusuf terdiam tampak berpikir.


"Apa, Mama. Ingin berpisah sama papa." Yusuf menunduk menyembunyikan air matanya.


Heena langsung merengkuh tubuh mungil itu seraya menenangkan dan mengatakan tidak akan pernah berpisah.


Setelah Yusuf tertidur, Heena menitipkan putranya kepada Ane, karena ia ada keperluan di luar.


Heena sudah sampai di taman, sebuah tempat yang menjadi tempat pertemuannya dengan seseorang yang sudah lama tidak ia temui.


Tidak jauh dari tempat Heena duduk ada wanita cantik yang melambaikan tangan ke arah Heena.


Wanita cantik itu berjalan mendekati Heena dengan langkahnya yang anggun.


"Kakak."


Sapaannya setelah sampai di dekat Heena. Keduanya berpelukan melepas rindu.


"Ayunda." Heena melerai pelukannya, ia menatap adiknya yang terlihat sangat cantik berbalut jas putih.


Ya, Ayunda adalah seorang dokter spesialis bedah. Ada perasaan bangga di hati Heena saat melihat keberhasilan sang Adik.


Keduanya lalu berbincang-bincang menceritakan banyak hal, hingga sebuah pertanyaan dari Ayunda yang langsung membuat Heena membeku.


"Apa benar, Kak Michael. Memperlakukan kakak tidak seperti istri?"


"Aku mendengar, Kak Michael akan menikah lagi." Ayunda memberi tatapan menyelidik kepada Heena, dan seketika membuat Heena tidak bisa lagi berbohong, mungkin sudah saatnya ia bercerita yang selama ini ia pendam sendiri.


Perlahan Heena menganggukkan kepalanya, Ayunda langsung menarik tubuh kakaknya untuk ia peluk kembali.