
Ahirnya hari yang melelahkan kini telah usai, Heena dibantu dua wanita yang saat ini berjalan menuju kamar hotel presiden suite.
Setelah pintu lift terbuka, Heena melangkah ke luar dengan rasa kaki gemetar, semakin dekat dengan pintu kamar, jantung Heena semakin berdebar.
"Cukup, kalian boleh pergi," pintanya yang kini sudah berdiri tepat di depan pintu.
Dua wanita itu menunduk, kemudian melenggang pergi, dengan perlahan tangan Heena menekan password kamar yang sudah diberitahu oleh Aldebaran sebelum naik tadi.
Bahkan kamar hotel ini sudah Aldebaran beli, dan hanya dirinya yang boleh memakai. Mengingat itu Heena tersenyum hangat.
Pintu terbuka, Heena melangkah masuk ke dalam, di sana ada lilin dan juga banyak kelopak bunga mawar yang bertaburan di lantai juga di atas ranjang, seprai warna putih, dua bantal dan juga selimut dibentuk angsa.
Heena belum menghidupkan lampu, tapi lilin-lilin yang menyala sudah membuat Heena bisa melihat betapa indahnya kamar ini.
Aroma wangi dari lelehan lilin aroma terapi menyebar ke seluruh ruangan.
Tek. Lampu menyala terang, Heena menoleh ke belakang, matanya langsung bertemu dengan mata pria yang sampai saat ini masih membuat hatinya merasa berbunga-bunga.
Aldebaran menyalakan lampu, melihat Heena tersenyum ke arahnya, Aldebaran berjalan mendekat, sampai di depan Heena, Aldebaran sedikit membungkuk lalau mereka berdua sama-sama melihat dan terkekeh bersama, Aldebaran kemudian merengkuh pinggang Heena dan memeluknya erat.
Cukup lama mereka berdua berpelukan, Aldebaran melerai pelukannya lalu mengajak Heena duduk di pinggiran ranjang.
Kini keduanya saling menatap wajah satu sama lain, Aldebaran menempelkan keningnya dengan kening Heena, di posisi intim seperti ini jantung Heena berasa ingin melompat ke luar. Berdebar-debar kuat.
Hidung mancung keduanya kini saling bersentuhan, perlahan Aldebaran memiringkan wajahnya lalu mencium lembut bibir Heena.
Setelah merasakan Heena kehabisan oksigen, Aldebaran melepas ciuman itu, dan perlahan menjauhkan wajahnya.
Ibu jarinya mengusap bibir Heena yang basah. "Mau mandi bersama atau sendiri?"
Ditanya seperti itu Heena tersenyum malu, menunduk seraya menyembunyikan rona merah di pipinya. "Mandi sendiri."
Heena melihat dari ekor matanya, Aldebaran berdiri lalu berjalan dan berdiri di belakangnya.
Heena masih diam seraya merasakan resleting gaun pengantinnya menurun, ternyata Aldebaran membantu membukanya.
Aldebaran mengambil handuk lalu memberikannya kepada Heena, sebelum melepas gaunnya, Heena meminta Aldebaran untuk berbalik, pria itu menurut seraya melepas jas hitamnya ia letakkan di atas ranjang.
Selesai melepas gaun pengantin, Heena segera berlari masuk ke kamar mandi, meninggalkan gaun pengantin tergeletak di lantai.
Aldebaran terkekeh melihat tingkah Heena, lalu mengambil gaun itu ia letakkan di kursi sofa yang ada di ruangan ini.
Aldebaran berjalan menuju balkon kamar hotel, ia menatap langit yang saat ini banyak bintang bertaburan.
"Pa, ma. Sekarang Al sudah menikah dengan wanita yang dulu Al kenalkan dengan papa dan mama, seandainya papa dan mama masih hidup, pasti kebahagian Al lebih lengkap, pa ma."
Aldebaran mengusap sudut matanya yang basah, hari ini Aldebaran merasa sudah cukup bahagia, tapi berandai-andai jika kedua orang tuanya masih ada mungkin kebahagian ini akan memang terasa lengkap.
Sesat kemudian Aldebaran tersenyum masih menatap bintang-bintang, tidak mau terlihat sedih, tidak ingin membuat kedua orang tuanya ikut bersedih di sana.
Merasa angin malam terasa dingin, Aldebaran memutuskan untuk masuk ke dalam lagi.
Empat puluh menit berlalu.
Heena dan Aldebaran kini sudah berada di atas ranjang dengan saling memeluk.
Jika hari kemarin Aldebaran masih ragu untuk satu ranjang bersama Heena, tidak untuk sekarang ini, karena hal yang membuatnya ragu kini sudah terselesaikan.
Saat ini Heena benar-benar miliknya, Aldebaran mencium puncak kepala Heena, tidak akan ada siapa pun lagi orang yang akan menyakiti Heena.
Awal bebas dari penjara memang tidak ada niat untuk bersama lagi dengan Heena, apa lagi wanita itu dulu sudah menikah, saat takdir bercampur tangan yang menempatkan Heena sebagai karyawannya, juga tidak ada perasaan untuk kembali, padahal saat itu Aldebaran tahu bila Heena sudah janda.
Saat itu dalam benak Aldebaran hanya ingin menikmati hidup, mengubur perasaannya dalam-dalam untuk tidak mendekati wanita yang sama.
Saat Heena terjatuh mengejar Yusuf yang dibawa masuk ke dalam mobil oleh Mawar, di situ langkah kaki Aldebaran terasa sangat berat, tidak ingin membantu tapi mata orang yang melihat Heena jatuh, membuat hatinya kasihan pada wanita itu.
Ahirnya menolongnya lalu sedikit berbicara berdua saat itu, entah mengapa saat pulang setelah bertemu Heena, hati Aldebaran merasa bahagia, suatu perasaan yang aneh menurutnya.
Dan hari itu teralihkan karena harus pindah kerja di perusahaan Mulan. Tapi bila merasa rindu dengan wajah polos Heena, sesekali Aldebaran datang di perusahaan yang lama hanya ingin melihat wajah Heena sebentar.
Kadang menggunakan alasan yang unik untuk bisa datang ke sana.
Sampai di peristiwa yang seharusnya tidak terjadi tapi saat itu malah terjadi, hari di mana dirinya harus menikah dengan Heena dipaksa oleh warga.
Lagi-lagi takdir ikut campur untuk menyatukan keduanya.
Jika tidak ada kejadian itu, dapat dipastikan Aldebaran tidak akan mungkin menikahi Heena, meski masih ada perasaan untuk wanita itu, walau setiap kali bertemu Heena Aldebaran memasang wajah dingin, jauh beda dengan Aldebaran yang dahulu, namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih menyimpan rasa sayang untuk Heena.
Tapi Aldebaran juga tidak menyesali, memang mungkin seharusnya untuk bersama lagi.
Saat itu Aldebaran juga marah pada Mulan, setelah tahu semua itu adalah rencana wanita itu, tapi untuk menjebak dirinya dengan Mulan.
Ahirnya hati kecilnya bersyukur setelah yang ia nikahin bukan Mulan tapi Heena, awalnya memang bingung, tapi setelah ada dukungan dari keluarga, Aldebaran bisa mengambil keputusan sampai sejauh ini.
Dan di sinilah sekarang, wanita yang ia cintai berada dalam pelukannya, tidur terlelap di sampingnya.
Bulu matanya yang lentik, adalah pemandangan indah yang Aldebaran sukai, mata itu, Aldebaran bisa jatuh cinta, bahkan jatuh cinta kedua kali pada wanita yang sama hanya karena mata itu.
Dari mata itu Aldebaran bisa melihat bahwa Heena adalah wanita yang baik-baik, dan bisa melihat segala kepribadian Heena.
Aldebaran terus memandangi wajah Heena, wanita cantik itu tidur dengan pulas, terlihat sekali nampak kelelahan, sehari semalam harus menemui tamu undangan, pasti sangat melelahkan.
Aldebaran jadi gemas melihat hidung mancung Heena, ia sedikit menunduk lalu menyatukan hidungnya dengan hidung Heena.
Heena mengeliat membuat hidung Aldebaran berpindah di pipi Heena, dan mencium wanita itu.
Malam ini mereka berdua tidur bersama hanya dengan saling memeluk, tidak melakukan hal yang lebih.
Malam ini dilewati dengan mimpi yang indah bagi keduanya