
"Dokter!" pekik seorang pria yang suaranya menggelegar memenuhi seisi ruang IGD rumah sakit. Dua perawat melihat pria itu mengangkat seorang wanita tua.
Perawat tersebut segera mendorong brankar dan pria itu langsung menaruh tubuh wanita tadi di atas brankar tersebut.
"Segera beri penanganan, cepat!" pekiknya lagi pria itu seolah sudah tidak ada waktu lagi.
Dan dengan segera dua perawat tersebut membawa masuk ke ruang IGD, tidak lama kemudian di susul oleh seorang dokter.
Heena dan Lulu saling berpelukan menatap pintu ruang IGD yang sudah tertutup rapat. Mereka berdua sudah menangis terus sedari tadi.
Apa lagi Lulu gadis kecil itu sekarang tubuhnya sampai terasa panas, karena perasaan takut terhadap keadaan Ibunya.
Heena mengajak Lulu untuk duduk seraya menenangkan gadis kecil itu, meski dirinya juga merasa tidak tenang dengan apa yang akan terjadi di dalam sana.
Lulu masih terus menangis terisak, sebagai seorang anak yang tidak miliki siapa-siapa lagi selain ibunya, tentu perasaan takut itu begitu menyerang.
Heena mengusap-usap lembut lengan Lulu, berharap Lulu bisa lebih tenang, tapi sepertinya itu tidak mudah, karena Lulu masih saja terus menangis sampai tidak bersuara.
Sesak sekali dan sangat pilu rasanya melihat Lulu yang semakin menangis terisak. Heena langsung memeluk Lulu dari samping, dirinya yang sudah dewasa saja merasakan takut luar biasa seperti ini, apa lagi Lulu yang masih muda, tentu pasti pikiran-pikiran buruk bila akan di tinggal ibunya harus bagaimana.
Dalam pelukan Heena Lulu melepaskan semua rasa sesak dalam dada, dan lama-kelamaan tangis itu mulai berganti sesenggukan, Heena mengusap punggung Lulu, dan gadis kecil itu mulai lebih tenang, kemudian melerai pelukannya.
Lulu menatap wajah Heena. "Kak Heena, apa kah Kakak bisa memaafkan, ibu?"
Raut wajah Lulu memancarkan sebuah harapan bila Heena bisa memaafkan kesalahan ibunya di masa lalu, tapi Heena sendiri belum tahu, meski dalam hati kecilnya ingin segera memaafkan, namun Heena tetap butuh tahu dulu penjelasan yang sebenarnya mengapa saat itu ibu tidak mau merawatnya.
"Kak?" suara lirih Lulu, dari diamnya Heena seolah Lulu memahami bila Kak Heena masih berat untuk memaafkan ibunya.
Tapi Lulu tidak tinggal diam, gadis kecil itu tiba-tiba bangkit dari duduknya, kemudian berjongkok di hadapan Heena, Lulu berlutut meminta maaf untuk kesalahan ibunya.
"Lulu mohon Kak, maafkan, ibu." Lulu kembali menangis terisak seraya memegang kaki Heena.
Heena menggeleng cepat, tidak! Bukan seperti ini yang Heena inginkan, ia diam bukan tidak mau memaafkan tapi Heena masih ingin mendengar penjelasan dari Ibu, memaafkan itu mudah bagi Heena, yang saat ini ia mau mendengar langsung penjelasan ibunya.
Tapi sepertinya Lulu sudah salah paham, Heena memegang lengan Lulu, dan membawa gadis kecil itu bangun dari tempatnya. "Lulu ... kamu tidak perlu seperti ini? Kaka Heena sudah memaafkan, ibu."
Ucap Heena ahirnya, seraya menuntun Lulu untuk duduk lagi di sampingnya, biarlah Lulu tenang lebih dulu, Heena akan mengesampingkan semua pertanyaannya karena tidak ingin menambah Lulu menjadi kepikiran.
Melihat tubuhnya yang kurus saja, Heena merasa kasihan dengan Lulu.
"Badan kamu panas, aku antar cari obat ya?" tanya Heena, yang langsung mendapat anggukan kepala cepat Lulu.
Heena membawa Lulu ke salah satu ruangan, di sana Lulu di periksa, namun saat masih dalam pemeriksaan, Lulu tiba-tiba tertidur, Heena bicara dengan dokter untuk membiarkan Lulu tetap di ruangan ini untuk istirahat.
Heena menatap wajah Lulu yang terlihat sangat lelah, apa lagi saat tahu cerita gadis itu yang mencarinya sampai berhari-hari, Heena menghargai usaha keras Lulu yang sudah berusaha seorang diri mencarinya untuk mempertemukan dengan ibu kandungnya.
Heena menyelimuti tubuh Lulu sampai batas leher, kemudian ia keluar dari ruangan tersebut.
"Menangislah sampai kau tenang," bisik lembut Aldebaran di telinga Heena, wanita itu semakin erat memeluk Aldebaran, bersyukur dalam hati di saat dirinya berada dalam masalah ini sudah miliki Aldebaran lagi, yang mampu memberikan perlindungan dan kenyamanan, serta menenangkan jiwanya.
Merasa dicintai dan disayangi benar-benar memberikan kekuatan untuk mampu melewati semua ini.
Tidak bisa terbayang seandainya belum memiliki Aldebaran, akankah sanggup menghadapi kenyataan ini sendirian.
Sementara di dalam ruang IGD, Ibu Fatima sudah melewati masa kritisnya, Dokter dan dua perawat yang menangani merasa lega.
Dokter meminta dua perawat untuk memindah pasien ke ruang rawat, sementara dirinya langsung berjalan menuju ke luar, membuka pintu, dan kedatangannya langsung disambut oleh keluarga pasien.
"Dokter!" Heena bicara panik seraya berdiri yang diikuti oleh Aldebaran juga.
Dokter tersenyum kemudian mengajak Heena dan Aldebaran untuk mengikutinya ke ruangannya.
Heena menatap Aldebaran seraya mengeratkan pelukannya di lengan Aldebaran, mereka berdua berjalan mengikuti langkah Dokter di depannya.
Dalam hati Heena sudah merasa khawatir dengan yang akan dokter sampaikan, bila tidak begitu penting pasti Dokter akan langsung mengatakannya, tidak mungkin sampai mengajaknya masuk ke ruang kerjanya.
Aldebaran merasakan gemetaran dari tangan Heena, masih dalam berjalan bersama Aldebaran mengusap punggung tangan Heena yang memegang lengannya.
Usapan lembut Aldebaran di punggung tangannya membuat Heena sedikit lebih tenang, meski perasaan takut itu masih ada.
Dokter sudah melangkah masuk ke dalam ruangannya, Heena dan Aldebaran melangkah masuk juga.
Sampai di dalam sana, mereka berdua duduk di hadapan Dokter dengan meja sebagai pembatas.
Dokter itu tersenyum tapi dibalik senyumnya seperti menyimpan kecemasan, dan setiap detiknya Heena harus menunggu apa yang Dokter itu ingin sampaikan, membuat hati Heena semakin merasa takut.
Masih disertai senyum, Dokter itu menerima kertas laporan yang diberikan oleh perawat yang baru saja masuk ke ruangannya.
Dokter tersebut membaca sebentar, dan terdengar helaan nafas keprihatinan, Heena semakin takut, dan disaat dokter menyerahkan kertas laporan itu padanya, dengan tangan gemetar Heena menerima.
Kalimat per kalimat Heena baca, air mata itu keluar kembali tanpa mau ia bendung, penyakit apa ini mengapa penyakit ini sangat aneh sekali pikir Heena seraya menggelengkan kepala.
Heena tidak sanggup membaca sampai akhir, ahirnya Aldebaran yang melanjutkan membacanya, pria itu terlihat mengerutkan keningnya, seperti menemukan keanehan, dan terus membaca sampai selesai.
"Sebuah virus, Nyonya Tuan."
Deg!
Virus, virus apa yang menyerang ibu! Pekik Heena dalam hati, saat ini tenggorokannya terasa tercekat tidak bisa hanya sekedar bertanya.
Aldebaran menenangkan Heena lagi yang masih belum berhenti menangis, baru saja bertemu ibunya tapi sudah mendengar penjelasan yang mengerikan, sampai membuat Heena tidak sanggup, saat mengingat penjelasan di kertas laporan tadi ibunya terkena virus mematikan.