
Mobil yang membawa Bibi Sekar dan Heena sudah sampai di pelataran rumah.
Bibi Sekar dan Heena ke luar mobil bersamaan dari pintu yang beda. Keduanya lalu berjalan bersama masuk ke dalam rumah.
Rasa lelah menyelimuti badan masing-masing, padahal di sana tadi cuma duduk dan mengobrol.
Sampai di pintu masuk, tiba-tiba dikagetkan dengan suara Rengky yang menyembul di balik pintu, ternyata tadi dia sembunyi.
"Kalian kenapa baru pulang ini jam berapa." Rengky menatap tajam, Bibi Sekar yang melihat tatapan Rengky langsung memukulnya.
Plak!
"His! kamu ini tidak lucu." Bibi Sekar berkata sedikit sewot.
"Mama! sakit tahu." Rengky mengusap lengannya.
"Biarin! ayo Heena tidak usah diladeni anak nakal ini."
"Mama! anak nakal ini adalah yang paling tampan ..." teriak Rengky saat melihat Bibi Sekar berjalan menjauh dengan menggandeng tangan Heena, Bibi Sekar balik badan lalu bibirnya menyebik ke arah Rengky.
Heena geleng kepala melihat tingkah Mama dan Anak, mereka sangat lucu lebih seperti teman sendiri pikir Heena.
Rengky menghela nafas panjang seraya bergumam, "Mengapa saat ini Heena lebih terlihat seperti anak, mama."
Rengky terkekeh kemudian mau ke luar rumah, ingin bertemu pacarnya yang baru jadian dua hari lalu.
Namun saat sudah berbalik, Rengky kaget saat tiba-tiba melihat Aldebaran.
"Bro, kamu udah pulang." Rengky menepuk pundak Aldebaran.
Aldebaran menghela nafas kemudian langsung melangkah pergi.
"Orang aneh," gumam Rengky seraya berjalan ke luar.
Bibi Sekar yang saat baru saja membuka pintu kamar, merasa bersyukur melihat Aldebaran sudah pulang.
"Al, Bibi boleh minta tolong." Bibi Sekar bicara sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Aldebaran yang sudah melewati depan kamar Bibi Sekar, ia kembali berjalan mendekati Bibi Sekar. "Boleh, Bi. Mau minta tolong apa?" tanya Aldebaran saat ini ia sudah berdiri di hadapan Bibi Sekar.
"Begini Al ... Bibi ada pesanan baju di butik, itu baju untuk kado buat teman Bibi, dan mau Bibi kirim, bisa minta tolong ambilkan, Bibi lagi pusing kepala," tutur Bibi Sekar panjang lebar sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.
Aldebaran memegang bahu Bibi Sekar. "Bibi istirahat saja." Aldebaran tersenyum, Bibi Sekar mengangguk.
Heena yang baru saja membuka pintu kamar, begitu terkejut saat melihat Bibi Sekar seperti menahan sakit. Heena langsung cepat berjalan mendekati Bibi Sekar.
"Bibi tidak apa-apa." Heena bicara dengan kepanikan memegang tangan Bibi Sekar.
Bibi Sekar menggelengkan kepalanya, Heena kemudian membantu Bibi Sekar untuk masuk ke dalam kamar.
Aldebaran sudah berjalan menuju mobil, saat mau membuka pintu mobil, suara Heena menghentikan niatnya.
Aldebaran mengangguk kecil, bersamaan dirinya masuk ke dalam mobil, Heena juga masuk ke dalam mobil, tapi Heena membuka pintu belakang.
Aldebaran yang sudah duduk di kursi kemudi menghela nafas panjang saat melihat Heena ternyata duduk di kursi belakang.
"Pindah ke depan."
Terdengar suara dingin dan tegas yang terucap dari bibir Aldebaran, Heena sampai terbengong, memang sengaja dirinya duduk di kursi belakang, karena untuk menjaga kewarasan jantungnya, yang entah mengapa Heena merasakan detak jantungnya aneh saat terlalu dekat dengan Aldebaran.
Heena masih diam belum mau pindah, hingga mendengar dua kali suara perintah dari kusi orang kursi depan.
"Heena."
"Ah! iya." Heena kemudian langsung pindah di kursi depan, Aldebaran melajukan mobilnya, tidak ada pembicaraan lagi diantara keduanya.
Heena terus melihat arah luar melalui jendela mobil, melihat pohon-pohon di pinggir jalan yang cepat berlarian seiring mobil berjalan.
Setelah menempuh beberapa menit, mobil sampai di depan butik langganan Bibi Sekar.
Bersamaan Heena dan Aldebaran yang ke luar mobil lalu berjalan masuk ke dalam butik.
Mulan kebetulan baru ke luar dari kafe, dan matanya langsung menangkap punggung tegap yang sangat ia kenali.
"Aldebaran," gumam Mulan seraya tersenyum berbinar, kebetulan bertemu di sini, karena tadi ia sempat mencari.
Senyum di bibirnya perlahan memudar, saat teringat Aldebaran tadi masuk ke dalam butik bersama wanita.
"Siapa wanita itu!" Mulan bicara dengan wajah yang marah, ia tidak terima Aldebaran miliknya didekati wanita lain.
Dengan langkah cepat Mulan menyusul Aldebaran berjalan masuk ke dalam butik.
Mulan belum menemui Aldebaran, kini ia berdiri di balik baju pengantin, dari arah sini Aldebaran tidak melihatnya karena pria itu berdiri memunggunginya.
Namun Mulan bisa melihat Aldebaran yang ternyata masuk ke dalam butik bersama Heena.
"Heena!" gumam Mulan dengan kesal seraya mengepalkan tangannya.
Di mata Mulan mereka berdua mungkin sedang memesan baju, tapi yang sebenarnya tidak seperti itu.
Mulan yang cemburu, tapi cemburunya salah karena cemburu pada pria yang bukan siapa-siapanya.
Dengan amarah yang sudah tidak bisa Mulan kendalikan, karena hatinya panas melihat Aldebaran berdekatan dengan Heena.
Mulan menarik tangan Aldebaran dengan kasar, membuat Aldebaran yang tadi berdiri memunggunginya kini langsung menatap wajah Mulan dengan tajam.
Heena melihat dua orang di hadapannya yang sama-sama saling menatap tajam, Heena sudah siap-siap mau mundur dan milih pergi saja, namun harapan Heena hanya sia-sia.
Karena saat Heena mau berjalan mundur dengan gerakan cepat Aldebaran menarik tangan Heena hingga membuat Heena masuk ke dalam pelukannya dan membentur dada bidangnya.
Deg!