
Pagi ini Heena masih beraktifitas seperti biasanya. Heena begitu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak mempedulikan temannya yang saat ini sedang membaca berita heboh.
Heena mendengar percakapan Tia dan Syifa, namun tidak mau menimpali karena ia pikir tidak penting.
Memang ada yang lebih penting selain memikirkan hidup sendiri. Tidak ingin terlalu sibuk mengurusi urusan orang.
Di tempat lain.
Yusuf tiba-tiba membuka kamar Papanya, tiba-tiba menangis saat melihat Papanya tergeletak di lantai.
"Papa ...."
Beberapa pelayan dan Ane langsung mendekati Yusuf yang berteriak di kamar Papanya.
"Tuan."
"Tuan Muda."
Ane langsung menggendong Yusuf, sementara pelayan pria yang lain langsung membawa tubuh Michael masuk ke dalam mobil.
Wajah Michael sangat pucat, entah sejak kapan pria itu tergeletak di lantai.
"Papa ...."
"Papa ...."
Yusuf menangis dalam gendongan Ane, mereka berdua ikut dalam satu mobil membawa Michael ke rumah sakit.
"Papa bangun, Pa." Yusuf memegangi tangan Michael dengan menangis, seolah bocah kecil itu takut terjadi hal buruk pada Papanya.
Di sepanjang jalan Yusuf menggenggam tangan Papanya serta tangisnya tiada henti, hingga kini mobil sampai di rumah sakit.
Ane menggendong Yusuf, para suster datang membawa brangkar pasien lalu mendorong Michael untuk dibawa masuk.
Di dalam sana Michael diperiksa keadaanya. Yusuf dan Ane menunggu di luar, hanya berdua.
Siang hari.
Jam istirahat makan, Heena tiba-tiba teringat Yusuf, perasaanya tiba-tiba sedih dan khawatir, ingin rasanya menelpon dan menanyakan kabar putranya.
Setelah beberapa saat Heena berpikir, ahirnya menghubungi ponsel Ane.
Ane mengangkat sambungan telepon, namun suara Ane terdengar seperti habis menangis, membuat Heena jadi penasaran ingin tahu.
"Ane, kamu baik-baik saja?" Heena berbicara lembut.
"Nyo-nya," ucap Ane terbata.
Heena semakin penasaran mendengar ucapan Ane yang terdengar gugup, di sana sepi tidak terdengar ada suara Yusuf. Heena pikir Ane sendiri tidak bersama Yusuf.
"Ane, ada apa? apa ada sesuatu." Sekali lagi Heena bertanya, akhirnya Ane menjelaskan, yang langsung membuat Heena syok hampir tidak percaya.
"Tuan saat ini sedang masuk rumah sakit, Tuan ditemukan sudah tidak sadarkan diri."
"Ane-ane, aku akan segera ke sana, tolong jaga Yusuf, ok."
Heena segera menutup sambungan telepon, lalu dengan segera menyusul ke rumah sakit, karena khawatir dengan keadaan putranya Yusuf.
Tia memahami keadaan Heena lalu mengijinkan Heena untuk absen kerja siang hingga sore nanti.
Heena juga barusan di kasih tau Tia untuk melihat berita trending topik di YouTube, dan seketika mata Heena melebar dengan mulut menggangga mengetahui berita tersebut.
"Perusahaan milik Michael bangkrut, ini tidak mungkin." Heena menggelengkan kepalanya benar-benar tidak percaya bila perusahaan besar milik Michael bisa bangkrut.
Heena membuang nafas panjang berkali-kali, seolah ikut merasakan sesak, dan bila semua ini benar, Heena takut dengan masa depan Yusuf, sementara dirinya juga hanya seperti ini.
Heena ahirnya menangis, ia bersedih mendapati kenyataan ini, cukup dirinya yang hidup susah, ia tidak ingin putranya juga hidup susah, namun bila Michael sudah tidak miliki apa-apa, bagaimana semua ini.
Heena memejamkan matanya seraya berpikir. Mobil sampai di rumah sakit.
Heena langsung ke luar mobil, dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit.
Heena bertanya pada receptionist untuk menanyakan kamar rawat atas nama Michael. Resepsionis memberi tahu, yang langsung membuat Heena berjalan cepat untuk segera sampai.
Heena mulai melambatkan langkahnya, kini ia melihat Yusuf yang tertidur di pangkuan Ane.
"Sayang." Heena mengusap kepala Yusuf, dengan menangis lalu mencium kening putranya.
Heena beralih menatap Ane, Ane mulai menjelaskan keadaan Michael kepada Heena.
Michael mabuk berat dan sempat meminum obat hingga overdosis.
Heena langsung menangis hingga tanpa suara, jika dirinya saja bisa sampai terkejut tidak percaya, apa lagi Michael, pasti pria itu sangat terpuruk.
Heena masuk ke dalam ruangan, untuk melihat keadaan Michael.
El, mengapa ini harus terjadi, apa yang telah kamu lakukan hingga perusahaan bisa bangkrut, batin Heena sedih melihat keadaan Michael yang terbaring lemah.
Jangan membunuh dirimu El, Yusuf masih membutuhkan kehadiranmu, tetaplah bertahan apa pun yang terjadi ke depan, bertahan untuk Yusuf, El. Heena hanya mampu berucap dalam hati, bibirnya Kelu menahan tangis supaya tidak bersuara.
Malam hari.
Yusuf saat ini berada di pangkuan Heena, setelah satu jam lalu menangis melihat Papanya, namun sampai sekarang Michael juga belum mau membuka mata.
Racun di dalam tubuh Michael sudah Dokter keluarkan, tapi mungkin karena pengaruh obat hingga pria itu masih betah tidur.
"Sayang, mau ya makan, biar Yusuf tidak sakit." Heena berusaha membujuk Yusuf untuk makan, karena sejak tadi Yusuf menolak untuk makan.
Yusuf tidak menjawab, ia semakin mendusel-duselkan kepalanya di dada Mamanya seraya memeluk Mamanya.
"Mama juga lapar, kita makan bersama ya, mau ya?"
Heena tidak akan berhenti membujuk putranya, hingga lama kelamaan Yusuf mengangguk mau makan, tapi cuma tiga suap Yusuf sudah tidak mau lagi.
Ahirnya Heena yang menghabiskan makannya, tadi Ane membeli nasi bungkus di luar.
"Mama? Mama jangan pulang, huhuhuhu."
Heena yang sedang makan seketika berhenti saat mendengar ucapan Yusuf dengan menangis.
"Tidak sayang, Mama di sini bersama kalian."