HEENA

HEENA
BAB 96. Sadar tidak pantas mendapat kesempatan kedua.



Setelah kepergian Heena dan Aldebaran, tubuh Michael ambruk terduduk ke lantai, tangannya terkepal tapi bagai tidak bertenaga, entah mau percaya atau tidak, tapi melihat wanita yang dicintai dibawa pergi laki-laki lain rasanya separuh jiwanya hilang, dengan kepala menunduk dalam air matanya mengalir tanpa permisi, sesak rasanya di dalam dada, sampai tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang.


Seandainya dulu tidak menyakiti, seandainya dulu tidak menyia-nyiakan kehadirannya, seandainya dulu tidak menikah lagi dan menceraikannya, dan masih banyak lagi kata seandainya dan seandainya di pikiran Michael saat ini.


Rasa penyesalan yang teramat dalam sampai membuat Michael sendiri merasa kesakitan, sampai pikirannya merasa bahwa apa yang Heena dulu rasakan sepertinya saat ini ia rasakan.


Arghhhh! Michael berteriak seraya memukul lantai, orang-orang yang berada di restoran pusat perbelanjaan menatap ke arahnya, pria yang saat ini terlihat menyedihkan.


Meski dulu Michael melepas Heena supaya wanita itu mencari kebahagiannya, karena sadar ia tidak bisa membahagiakan, tapi faktanya saat ini rasanya tidak rela bila Heena dimiliki pria lain.


Tangis karena penyesalan yang saat ini Michael rasakan, menghapus air matanya sembari perlahan bangkit berdiri. Dengan langkah gontai Michael berjalan ke luar dari pusat perbelanjaan tersebut.


Sesampainya di dalam mobil, Michael melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, pikirannya masih tertuju dengan Heena, membuatnya tidak fokus dalam mengemudi.


Beberapa kali mobil di belakang mobil Michael harus membunyikan klakson, karena pria itu melamun hingga membuatnya lambat dalam mengendarai.


Perjalanan yang harusnya cepat kini terasa lama, entah selambat apa Michael membawa mobilnya, waktu tempuh yang seharusnya lima belas menit, menjadi empat puluh menit baru mobil itu sampai di rumah.


Michael menyembul ke luar dari dalam mobil, melihat rumahnya yang terlihat sepi serta beberapa lampu juga sudah mati, di luar lampu teras masih menyala.


Michael berjalan memasuki rumah dengan langkah malas, membuka pintu rumah lalu menguncinya lagi, langkahnya terhenti saat melewati kamar putranya.


Deg! rasa sakit beberapa menit lalu kini semakin terasa sakit saat mau bertemu putranya.


Putranya menjadi korban keegoisannya, yang seharusnya ditemani oleh Mamanya di setiap hari-harinya, tapi kini harus terpisah jauh karena dirinya.


Michael menghela nafas dan perlahan tangannya memutar handel pintu, setelah pintu itu terbuka, rasanya langkah kakinya terasa berat untuk melangkah mendekati ranjang Putranya.


Matanya sudah menggenang air mata, dengan langkah yang terasa begitu berat, Michael berjalan mendekati ranjang Putranya.


Sampai di sana, Michael berjongkok di lantai dengan tubuh bergetar ia menangis, rasa bersalah ketika melihat wajah putranya, dan rasanya semakin bersalah saat melihat wajah polos putranya yang sedang tidur.


"Maafkan Papa, Nak ..." Hanya mampu kalimat tersebut yang terucap di bibir Michael, terus menerus mengatakan kalimat tersebut.


Sakit hatinya tanpa bisa harus berbagi, tanpa bisa harus bercerita, Michael masih berjongkok di samping ranjang dengan kepala menunduk.


Yusuf bangun karena mendengar suara Isak tangis Papanya. "Papa ..." Yusuf duduk masih di atas ranjang, matanya melihat ke arah Papanya.


Dengan segera Michael menghapus air matanya, dan memaksa senyum menatap Putranya yang ternyata bangun tidur.


"Sayang, kenapa bangun ini masih tengah malam." Michael berdiri lalu duduk di ranjang sebelah Yusuf duduk.


"Papa." Yusuf melihat wajah Papanya yang terlihat sedih meski ditutup senyuman. "Jangan sedih Papa, kan ada Yusuf."


Wajah Yusuf tenggelam di dada bidang Papanya, bibir mungilnya bergumam-gumam masih terus mensupport Papanya, "Papa Yusuf, Papa yang terbaik, l love you, Papa."


Michael semakin mengeratkan pelukannya seraya mencium ubun-ubun kepala Yusuf, cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu, sampai Michael merasakan Yusuf tertidur dalam pelukannya.


Perlahan Michael menidurkan tubuh Putranya, menarik selimut sampai batas leher Putranya. Michael tidak langsung tidur di samping Putranya.


Menatap sesaat wajah Yusuf yang sedang tidur, kemudian Michael turun dari ranjang kemudian berjalan ke luar kamar Yusuf, menuju ruang kerjanya.


Di sana Michael kembali melanjutkan tentang apa yang harus ia lakukan. Michael mengambil kertas yang berisi sebuah catatan yang akan ia hadiahkan untuk Heena bila seandainya ada kesempatan kedua.


Masih ada beberapa kekayaannya yang tidak hilang dan semua itu ingin ia berikan untuk Heena, tapi apa yang ia lihat tadi di mall, membuat Michael saat ini meremat kertas itu hingga tidak berbentuk.


Rasanya masih belum ikhlas menerima kenyataan ini, dan dalam kesendirian yang mencengkam ini Michael menjadi teringat betapa keterlaluan nya dulu pada Heena.


Saat itu saat masih baru-baru menikah Michael yang baru memasuki kamar, ia melihat Heena yang duduk di atas ranjang dengan memunggunginya.


Michael mendekat namun semakin dekat dengan Heena, Michael mendengar wanita itu menangis, Michael tidak tahu apa sebabnya, dan dengan langkah pelan tanpa menimbulkan suara kaki Michael semakin mendekati Heena, lalu mengintip apa yang sedang Heena pegang Hinga sampai menangis terisak, dan...


Deg! Michael terkejut setelah melihat apa yang Heena pegang sampai menangis sesenggukan, ternyata gadis itu menangisi pria yang ada di foto.


Michael masih diam meski wajahnya sudah marah, sampai telinganya mendengar sebuah nama, yang Michael pikir adalah nama pria dalam foto tersebut.


"Aldebaran, maafkan aku ... Maafkan aku." Suara tangis Heena semakin terdengar pilu.


Michael sudah merasa kehabisan kesabaran, dengan kasar Michael membalik tubuh Heena untuk menghadap ke arahnya.


Deg! Heena terkejut saat tiba-tiba Michael ada di dalam kamarnya, Heena langsung mau menyembunyikan foto Aldebaran, tapi kalah cepat dengan gerakan tangan Michael.


Michael mengambil foto tersebut, lalu menyobeknya di depan wajah Heena, seketika Heena semakin menangis dengan tubuh bergetar, foto satu-satunya yang ia miliki kini sudah disobek, namun tangis pilunya seketika lenyap saat mendengar suara Michael.


"Ibumu sudah menjual dirimu kepadaku ... bila kau ingin cerai, kembalikan uang yang sudah ibumu terima!"


Seketika Heena merasa hatinya hancur, mengetahui sebuah kenyataan, mendapatkan suami yang kasar, dan dijual oleh ibunya sendiri.


Setelah menikah ini bukan kali pertamanya Michael bersikap kasar padanya, dan saat ini apa! Heena harus mendengar fakta yang menyakitkan.


Arghhhh! Michael berteriak mengacak rambutnya sendiri, sudah tidak kuat mengingat kembali betapa kejamnya ia dulu dengan Heena.


Wajah polos menangis ingin dilepaskan memohon kepadanya, semakin membuat hati Michael sakit.


"Aku harus memastikan kamu bahagia dengan Aldebaran, Heena. Baru aku akan pergi," ucapnya setelah Michael cukup lama merenung, bahwa dirinya memang tidak pantas mendapat kesempatan kedua.