
Setelah menatap mobil Aldebaran menjauh hingga tidak terlihat dari pandangan matanya, Heena membalikan badan untuk berjalan ke dalam rumah.
Karena waktu sudah malam dan ia baru pulang, jadi rumahnya masih gelap karena belum di hidupkan lampunya.
Heena memegang handel pintu ingin membuka, namun tiba-tiba ia merasakan tangannya di pegang seseorang, Heena menoleh melihat wajah orang tersebut namun tidak kelihatan karena gelap, Heena menarik tangannya dengan kasar.
"Siapa kau!" Heena meninggikan suaranya dengan nafas naik turun lebih cepat, ia sendiri juga merasa takut.
Heena mundur untuk menjauh dari orang tersebut dan ingin berusaha lari, namun saat kakinya sudah mulai ke luar teras, ia kembali terhenti saat mengenali sebuah suara.
"Heena, ini Ibu."
"Ibu," gumam Heena lirih. Ia kemudian membalikkan badan, merasa ia kenal jadi Heena langsung berjalan membuka pintu dan menyalakan lampu.
Dan benar saja memang tadi adalah ibunya, namun mengapa ibunya sampai rela menunggu dirinya di kegelapan sampai menakuti segala.
"Duduklah, Ibu."
Kini keduanya sudah masuk di ruang tamu, Ibu Jamilah duduk sementara Heena masuk ke dalam untuk mengambil air minum di dapur.
Heena kembali dengan membawa secangkir teh yang ia berikan untuk ibunya.
"Minumlah, Ibu." Heena meletakkan cangkir teh di meja depan ibunya, kemudian Heena duduk.
Tidak ingin berlama-lama di rumah Heena, Ibu Jamilah langsung mengatakan tujuannya datang ke mari.
Heena yang sedang memegang pangkal hidungnya, yang karena merasa lelah sudah seharian kerja, tiba-tiba terkejut mendengar kalimat yang Ibunya lontarkan.
"Heena, tolong Ibu, saat ini Ibu butuh uang sebanyak seratus juta, tolong Ibu, Heena."
Deg!
Seratus juta! gumam Heena dalam hati, masih dalam keterkejutannya hingga Heena belum memberi jawaban, karena masih terbengong dengan yang barusan ia dengar.
"Pak Johan, terus mengejar Ibu, bila tidak segera memberi uang padanya, rumah Ibu mau diambil, tolong Ibu, Nak." Ibu Jamilah menggenggam tangan Heena.
"Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu, Ibu?" Heena menarik tangannya perlahan.
"Tolong Ibu, Heena. Tolong!"
Ibu Jamilah merasa ketakutan, yang ia katakan seratus juta pada Heena itu hanya sebagian, karena yang sebenarnya hutangnya lebih banyak dari itu, apa lagi mengingat ancaman Pak Johan, membuat Ibu Jamilah kembali merasa takut.
Kemarin saat Ibu Jamilah yang masih dalam keadaan bingung juga, tiba-tiba ia kembali merasa bingung saat mendapati Pak Johan yang tiba-tiba datang ke rumahnya dengan marah-marah.
Pak Johan teriak-teriak memanggil namanya, karena tidak ingin tetangga semakin mendengar keributan, ahirnya Ibu Jamilah membuka pintu dan mempersilahkan Pak Johan beserta anak buahnya yang berkepala botak untuk masuk ke dalam rumah.
Ibu Jamilah yang masih ingin mengelak, namun lebih dulu mendengar ancaman Pak Johan.
"Kapan kau akan membayar hutang-hutangmu, Hah!" Pak Johan membentak Ibu Jamilah, Ibu Jamilah langsung kaget mendengar suara bariton yang memenuhi seisi ruangan.
"se-secepatnya, Tuan," ucapnya terbata-bata dengan menunduk seraya meremat ujung bajunya. Tubuhnya semakin merinding saat mendengar Pak Johan malah tertawa terbahak-bahak.
Hahaha!
Anak buah Pak Johan juga ikut tertawa, karena sebuah perintah, bila Bosnya tertawa maka Anak buahnya juga harus tertawa.
"Kau bilang secepatnya!"
Brakk!
*Ibu Jamilah sudah semakin ketakutan, namun ia tidak bisa melawan, dirinya hanya bisa berakting sesedih mungkin, supaya mendapat belas kasih dari Pak Johan*.
Dengan keberaniannya, Ibu Jamilah mencoba bicara lagi. "Tuan, beri saya waktu sepuluh hari, saya janji-."
"Bila tidak kau tepati, rumahmu akan menjadi milikku."
Pak Johan memotong cepat ucapan Ibu Jamilah, Ibu Jamilah langsung tercengang karena bukan rumahnya yang harus ia korbankan, bila rumah sebagai penebus lalu nanti akan tinggal di mana pikirnya.
Ibu Jamilah bernegosiasi karena tidak ingin kehilangan rumahnya.
"Tuan, jangan rumah saya, Tuan. Bila saya tidak mampu memberi Anda uang, saya akan memberikan salah satu putri saya."
Ya, Ibu Jamilah bertekad akan menukar kembali putrinya dengan uang, seperti yang ia lakukan dulu dengan menikahkan Heena dengan Michael.
Mendengar kalimat yang Ibu Jamilah ucapkan, langsung membuat hati Pak Johan senang, meski ia sudah memiliki tiga istri yang cantik-cantik, tapi tidak apalah nambah lagi yang masih muda yang lebih cantik.
Kumis tebalnya bergerak-gerak seiring tawanya yang menggelegar.
Hahahaha!
"Aku setuju tawaranmu, aku tunggu sepuluh hari mendatang, hahaha."
Pak Johan dengan pasukannya pergi meninggalkan rumah Ibu Jamilah, setelah kepergian Pak Johan, Ibu Jamilah merasa tenang, sekarang yang ada di dalam pikirannya datang ke rumah Heena dan membujuk wanita itu supaya mau membantunya.
Lamunan Ibu Jamilah terbuyarkan saat ia kembali mendengar kalimat yang di ucapkan Heena bahwa ia tidak bisa membantu.
Brakk!
Ibu Jamilah marah ia menggebrak meja hingga cangkir isi air teh itu tumpah. "Kau tega dengan Ibumu ini, hah! kau mau Ibu tidak memiliki rumah."
"Tapi aku beneran tidak memiliki uang, Ibu." Heena berani melawan Ibunya, karena menurutnya ibunya sudah keterlaluan, dan ia juga tidak mau ditindas seperti dulu, dalam hatinya ia harus melawan.
Ibu Jamilah tidak kehabisan akal untuk menekan Heena, ia tahu betul Heena sangat menyayangi Ayunda, ia yakin dengan menggunakan Ayunda, Heena pasti luluh dan mau membantunya.
Ibu Jamilah tersenyum sinis, hatinya sudah merasa yakin dengan yang akan ia ucapkan, "Jika kau tidak mau membantu Ibu, maka Ayunda yang akan aku nikahkan dengan rentenir itu! apa kau mau, hah! adik kesayanganmu Ibu korbankan!"
Heena terkekeh masam seraya membuang muka ke arah lain, benar-benar tidak berminat untuk membantu Ibunya lagi meskipun sudah diancam menggunakan Ayunda sekaligus.
Ibu Jamilah yang melihat Heena hanya tersenyum menghina dengan membuang wajahnya ke arah lain, hatinya semakin takut, ia tidak percaya Heena akan bersikap semasa bodoh itu.
Ibu Jamilah mencoba mengancam lagi, ia pikir yang kali ini pasti berhasil, ia yakin kelembutan hati putri pertamanya itu pasti masih ada.
"Baik jika kamu tidak mau menjawab, selamat akan bertemu dengan adikmu Ayunda di hari pernikahannya nanti." Menatap tajam ke arah Heena.
Heena yang sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman atau peringatan atau apalah ia tidak peduli, Heena hanya tersenyum seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
"Jika itu keputusan terbaik menurut, Ibu. Silahkan."
"Kau!" Tunjuk Ibu Jamilah dengan marah, ia tidak menyangka Heena akan berani melawannya. Saat ia masih dalam mode marah-marahnya, semakin marah saat Heena mempersilahkannya untuk pergi dari rumahnya.
"Ibu, sudah malam tidak baik bila Ibu pulang larut malam." Tersenyum manis, tidak menghiraukan Ibu Jamilah yang wajahnya sangat marah.
Dengan hati sangat kesal, Ibu Jamilah pergi meninggalkan rumah Heena.
Heena menatap punggung Ibunya yang melangkah pergi semakin menjauh, tiba-tiba sudut matanya mengeluarkan cairan bening, hatinya sedih saat merasakan kehilangan kasih sayang Ibunya lagi.