
Kini Aldebaran sudah sampai di rumah, sudah berganti baju juga dengan baju rumahan, kaos lengan pendek di padu dengan celana jeans panjang selutut.
Ganteng banget, Heena memuji dalam hati, seraya terus memperhatikan Aldebaran, yang saat ini sedang memotong mangga muda, kulit mangga sudah di kupas tadi.
Aldebaran melirik sekelas Heena yang saat ini berdiri di sampingnya, hanya sekelas karena saat ini dirinya sedang memotong buah, bila menatap Heena lebih lama takut yang terpotong malah jarinya bukan buahnya.
"Kenapa senyum-senyum begitu? ada yang aneh ya, di muka aku?" Aldebaran bicara sembari tetap fokus dengan buah yang di potong.
"Enggak, tapi kamu terlihat tampan saat ini," ucap Heena disertai senyum-senyum cengingisan.
"Kenapa saat ini? bukannya sudah dari dulu." Aldebaran memindahkan separuh potongan buah mangga ke piring.
"Iya, tapi saat ini lebih tampan," ucap Heena lagi masih disertai senyum seraya menggerak-gerakan tubuhnya.
Aldebaran tidak menjawab malah menjulurkan lidahnya.
Plak!
Heena memukul pelan lengan Aldebaran. "Aku bicara serius." Bibir Heena mengerut tajam.
Seketika Aldebaran mencium bibir itu, sesat keduanya hanyut dalam ciuman, Aldebaran mengacak rambut Heena dengan gemas, kemudian mengambil celemek.
"Oyo pasangkan." Aldebaran menyerahkan celemek itu ke tangan Heena, Aldebaran balik badan, Heena memasangkan celemek itu ke tubuh Aldebaran.
Setelah celemek terpasang sempurna, Aldebaran balik badan menatap Heena lagi. "Aku tidak pernah memasak, apa lagi membuat rujak mangga, jangan protes bila rasanya tidak enak."
"Pasti enak kan anak kita yang minta," ucap Heena seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Aldebaran manggut-manggut paham, bahan rempah yang sudah di cuci, seperti bawang putih, cabe, ada juga kacang tanah, gula merah, dan terasi. Heena ingin ada rasa terasinya.
Saat sudah Aldebaran cicipi, pria itu malah bingung, benarkah rasanya seperti ini? manis-manis pedas pikir Aldebaran.
Entah lah karena Aldebaran juga tidak tahu seperti apa rasa rujak mangga, karena belum pernah makan yang namanya rujak mangga.
Sambal itu tetap berada di cobek, Aldebaran membawanya ke meja makan, buah mangga muda sudah Heena bawa ke meja makan lebih dulu.
Kini Aldebaran dan Heena sudah duduk di kursi, Heena mencoba mengambil satu potong kecil mangga mudanya lalu Heena colekan ke sambel.
Heena yang makan, tapi Aldebaran yang merasakan rasa asamnya dari mangga muda itu.
"Mata kamu kenapa seperti itu?" tanya Heena kini mau menyuap lagi.
"Itu pasti asam banget," ucap Aldebaran matanya masih merem-merem seperti menahan rasa asam.
"Tidak, ini enak banget, ayo cobain." Heena menawarkan, kini menyodorkan satu potongan kecil buah mangga ke mulut Aldebaran.
Aldebaran membuka mulutnya dan mengunyah mangga muda itu, seketika Aldebaran merasa keasaman.
Heena tertawa melihat itu, sembari menyuap lagi dan lagi. Aldebaran meminum air putih, setelah rasa asam sedikit hilang, Aldebaran mengambil ponselnya dan menunjukan sesuatu ke Heena.
Heena sambil menyuap dan kunyah-kunyah matanya melihat video yang Aldebaran tunjukkan.
"Seriusan kamu yang manjat, Sayang?" tanya Heena yang masih tidak percaya bila yang berada di Vidio itu suaminya, mau tidak percaya tapi di Vidio itu memang Aldebaran.
Aldebaran yang ditanya Heena seperti itu langsung menepuk dadanya bangga, seraya berkata Aldebaran. Heena langsung terkekeh.
Aldebaran masih ingat sesuatu yang belum di ceritakan yaitu jatuh dari pohon mangga saat melihat ulat, tapi biarlah menjadi rahasia Aldebaran, tidak mungkinkan sudah membanggakan diri, tiba-tiba cerita jatuh dari pohon mangga, kan tidak etis pikirnya.