
Ibu Fatima mulai menceritakan semua masa lalu Heena.
Flash back off.
Ibu Tiara yang sedang hamil besar, ia bersama suster yang menemani di dalam, ingin keluar ruangan sebentar untuk mencari udara segar, karena masih pagi hari, jadi udara masih terasa sejuk.
Ibu Tiara duduk di kursi roda, dan suster yang mendorongnya, saat tangan sudah membuka pintu tapi belum sampai terbuka lebar, Ibu Tiara mendengar percakapan suaminya dengan madunya, Ibu Tiara bingung saat melihat Suaminya berteriak seraya mendorong tubuh madunya.
"Tidak!"
Suaminya tidak mau, namun entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, Ibu Tiara tidak mendengar percakapan mereka tadi, hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, apa yang mereka bahas, sampai suaminya semarah itu.
Namun tidak lama kemudian, Madunya bicara lagi membahas biaya rumah sakit, dan yang terpenting dirinya bisa melahirkan tetap waktu, dan setelah itu Ibu Tiara melihat Suaminya mulai setuju dengan saran Madunya, tapi Ibu Tiara masih belum tahu apa yang mereka rahasiakan.
Dan setelah Suaminya setuju, Ibu Tiara melihat Suaminya pergi bersama Madunya entah kemana, hanya bisa menatap punggung mereka yang semakin jauh dengan tatapan sayu.
Dan tiba-tiba perasaannya mulai tidak enak, khawatir dengan anak yang ia kandung, Ibu Tiara terus melamun sampai kursi rodanya kini sudah sampai taman di area rumah sakit, dan karena memikirkan yang tidak-tidak ahirnya darah tingginya naik, tiba-tiba Ibu Tiara pingsan.
Suster langsung membawanya masuk ke dalam, dan meminta bantuan dokter juga.
Sampai di ruangannya tadi, Ibu Tiara langsung diperiksa, namun keadaannya semakin lemah, dan semakin berbahaya. Dan saat itu juga Ibu Tiara harus di operasi.
Setelah beberapa jam waktu Ibu Tiara di operasi selesai, Ibu Tiara kembali di bawa ke ruang rawat, tidak ada yang menunggu Ibu Tiara operasi, hanya pelayan pribadinya yang menunggu di luar.
Fatima masuk ke dalam ruangan Ibu Tiara, setelah tiga jam Ibu Tiara tidak sadarkan diri karena habis operasi, saat ini Ibu Tiara sudah siuman.
Fatima mendekat saat Ibu Tiara memintanya untuk menghampirinya.
"Fatima, tolong bawa pergi bayiku, aku miliki firasat buruk bila bayiku tetap bersamaku, tolong Fatima." Ibu Tiara memegang tangan Fatima memohon supaya Fatima mau membawa anaknya pergi.
"Tapi Nyonya, saya tidak berani, bagaimana bila tuan Bara tahu." Fatima kepalanya menggeleng cepat, takut benar takut ia tidak berani.
"Jangan khawatir itu, tolong bawa pergi anakku cepat dari sini." Ibu Fatima kini menangis, dalam hati juga berat bila harus terpisah dengan anaknya yang baru ia lahirkan, tapi firasat buruk itu rasanya akan jadi kenyataan. "Tolong bawa pergi bayiku." Sekali lagi Ibu Tiara bicara dengan suara lirih.
Melihat Ibu Tiara yang menangis dan memohon padanya, Fatima menjadi tidak tega, dan ahirnya dengan berat hati Fatima memenuhi keinginan Ibu Tiara, dan langsung membawa pergi bayi Nyonya nya sebelum Tuan Bara datang.
Fatima menggendong bayi itu, ia segera masuk ke dalam taksi, selama di dalam taksi Fatima bingung harus membawa kemana bayi itu, sementara Ibu Tiara meminta untuk segera kembali, itu artinya Fatima harus meninggalkan bayi itu, namun Fatima bingung harus meninggalkan bayi itu di mana, tempat yang aman itu di mana.
Setelah menempuh perjalanan dua jam, Fatima sampai di sebuah panti asuhan, tadi Fatima sempat menemukan ide bila tempat teraman untuk Nona kecilnya saat ini adalah panti asuhan, karena Fatima tidak miliki waktu banyak dan segera kembali ke rumah sakit, Fatima segera meletakkan bayi itu di teras panti asuhan, tidak lupa kalung itu Fatima kalung kan di leher Nona kecilnya.
Fatima segera pergi, masuk ke dalam mobil taksi lagi, dan memintanya untuk mengantarnya ke rumah sakit yang tadi.
Saat ini Fatima merasakan takut yang luar biasa, dirinya sungguh terpaksa, rasanya dosa kini menghantuinya, perasaan bersalah terhadap Nona kecilnya, tapi tidak bisa menolak permintaan Ibu Tiara.
Fatima masih bingung dan terus bertanya-tanya, mengapa Ibu Tiara ingin berjauhan dengan anaknya, tapi kembali teringat ucapan Ibu Tiara yang tentang firasat buruk, Fatima kembali semakin bingung, sebenarnya apa yang Ibu Fatima sudah ketahui.
Fatima yang saat ini sudah sampai di rumah sakit, langkahnya terayun pelan, menyusuri koridor rumah sakit, saat sudah sampai di depan pintu ruang rawat Ibu Tiara, Fatima mendengar Ibu Tiara menangis dengan Tuan Bara yang suaranya meletup-letup marah.
"Aku tidak percaya bila putriku mati, aku tidak percaya!" teriak Tuan Bara yang frustasi setelah kembali, mendengar kabar putrinya sudah meninggal.
"Itu benar suamiku, hiks hiks hiks maafkan aku." Ibu Tiara mencoba meraih tangan Tuan Bara, namun di tepis oleh suaminya itu.
"Kamu pasti bohong, kamu pasti menyembunyikan anakku, kan!" Tuan Bara menatap tajam istrinya Tiara.
Ibu Tiara menggelengkan kepalanya. "Tidak suamiku, untuk apa aku membohongimu."
Ahhh! Teriak Frustasi Tuan Bara, kini berjalan duduk di sofa, sebelahnya ada Mala istri kedua.
Terlihat dari sudut bibirnya, Mala tersenyum miring. Seperti bahagia melihat anak suaminya meninggal.
Sementara Fatima tidak jadi masuk ke dalam, ia ahirnya duduk di luar, kepalanya mendongak ke atas, mendengar pertengkaran kedua majikannya, Fatima semakin khawatir bila rahasianya dan Ibu Tiara suatu hari terbongkar.
Dan setelah beberapa hari di rumah sakit, ahirnya Ibu Tiara bisa dibawa pulang juga, hari pertama sampai di rumah, rumah masih rumah yang dulu meskipun sudah bangkrut tapi belum pindahan, sampai tinggal beberapa hari di sana, Fatima merasa ada yang aneh, karena juga tidak kunjung keluar dari rumah ini. Dan setelah beberapa hari lagi mendengar kabar Tuan Bara tidak jadi bangkrut, Fatima kembali merasa aneh tapi ia pendam sendiri kecurigaannya.
Sementara Ibu Tiara semenjak melahirkan ia terus sakit-sakitan, tubuhnya tidak pernah sehat, Fatima terus mengurusnya, bahkan Ibu Tiara sudah tidak peduli apa pun yang suaminya lakukan, Ibu Tiara cukup diam dan merindukan anaknya dalam diamnya.
Kejadian demi kejadian terus terjadi sampai Fatima pernah melihat Tuan Bara dan Ibu Mala menggunakan pakaian serba hitam seperti mau melakukan pemujaan, Fatima memegangi dadanya benar-benar terkejut.
Semua terus semakin berlalu, Fatima mulai tidak menghiraukan lagi kejadian yang aneh-aneh, ia hanya fokus mengurus Ibu Tiara yang sakit.
Baginya kesembuhan Ibu Tiara sangat penting, bahkan punya impian bersama bila Ibu Tiara sembuh akan menjenguk putrinya di panti asuhan, yang pasti sekarang sudah tubuh besar dan lucu, karena sudah enam bulan yang lalu, Ibu Tiara kembali menangis mengingat itu semua.