HEENA

HEENA
BAB 19. berhenti mentransfer uang.



Michael langsung meraih tubuh Yusuf yang berada di gendongan Ane, Anak kecil yang wajahnya terlihat menyedihkan, masih sesenggukan tangisnya belum berhenti, Michael berjalan menjauh dari ruangan itu seraya mengusap punggung putranya untuk tenang.


Mawar tidak tinggal diam, ia mengejar langkah Michael untuk menjelaskan kesalahpahaman tadi.


"Sayang, sayang tunggu, tadi tidak seperti yang kamu lihat sayang, aku hanya menasehati, Yusuf. Tidak ada maksud untuk membentaknya, tolong, sayang. Mengertilah."


"Diam!"


Mawar yang tadi ingin mencoba meraih lengan Michael langsung dibuat membeku saat mendapat bentakan dari pria itu.


Mawar mengepalkan tangannya, menatap marah pada pintu yang saat ini sudah tertutup, ia tidak terima mendapat bentakan dari Michael hanya karena pria itu membela Yusuf.


"Akan aku buat anak sialan itu jauh darimu!" Bibirnya tersenyum sinis, Mawar mulai menyusun rencana, pergi dari ruang tersebut seraya mengibaskan rambutnya.


...****************...


Di sebuah rumah salah satu perumahan elit. Wanita berusia sekitar lima puluh lima tahun, sedang mengacak-ngacak meja riasnya, bahkan membanting benda-benda di ruangan tersebut hingga menimbulkan bunyi memekik telinga.


Prannkkk!


Arghhhh!


"Heena, sialan!" Bibirnya terus memaki dan mengumpat nama putrinya sendiri, hatinya benar-benar marah sangat marah, saat tahu fakta putrinya telah bercerai dengan pria yang selama ini menjadi sumber keuangannya.


Dan hal yang membuatnya semakin marah, ia tidak tahu fakta ini sebelumnya, tahu-tahu kabar Heena sudah bercerai dari informasi orang yang ia minta untuk memata-matai.


Padahal dirinya sudah memperingatkan Heena untuk tidak sampai bercerai, tetapi apa yang ia terima kabar saat ini, tangannya terkepal kembali meraih fas bunga dan membanting lagi dan lagi.


Kamarnya sudah tidak berbentuk, kaca-kaca berceceran di lantai, amarah yang membelenggu mengalahkan rasa sakit di kakinya saat menginjak kaca.


Wanita itu berjalan ke luar kamar, bercak darah di kakinya berceceran di lantai sepanjang kakinya melangkah.


"Ibu, Ibu mau ke mana?" Ayunda yang sedang duduk di sofa ruang utama langsung berdiri dan menyapa ibunya saat melihat ibunya keluar dengan aura marah.


"Bukan urusan kamu!"


"Tentu menjadi urusan aku, Ibu?" Ayunda melangkah mendekati ibunya.


Ibu Jamilah wajahnya melengos, tidak suka dengan rasa kepedulian dari putri keduanya itu.


"Ibu?"


"Diam!" Menunjuk wajah Ayunda. "Kau, kau pasti sudah tahu bahwa Heena akan bercerai, iya, kan. Mengapa kau diam saja, tidak memberitahu, Ibu, hah!"


Ayunda menggelengkan kepalanya bahwa tidak benar tuduhan Ibunya. "Bu? bukan seperti itu maksudnya, kakak berhak bahagia, Bu. Biarkan kakak pisah."


Plak!


Ayunda memegangi pipinya yang terasa panas bekas tamparan Ibunya, perlahan Ayunda menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya, lalu menatap Ibunya yang membuang muka ke arah lain.


"Apa kamu tahu, Ayunda. Bila Heena bercerai maka Michael juga akan berhenti mentransfer uang ke Ibu, dan itu artinya kita tidak bisa lagi membeli barang-barang mewah lagi."


Hahahaha!


Mendengar uang gaji yang diucapkan putri keduanya, membuat Ibu Jamilah tertawa terbahak-bahak, tawa yang dalam arti menghina.


"Gajimu tidak seberapa, tidak akan cukup memenuhi kebutuhan Ibu!" Menunjuk marah wajah Ayunda.


Ibu Jamilah langsung berlalu pergi, Ayunda yang mau menghalangi sudah di dorong lebih dulu hingga membuat Ayunda jatuh terjerembab di lantai.


Sekarang yang menjadi tujuan utamanya adalah mendatangi Mansion Michael.


Tidak butuh lama mobilnya sudah sampai di halaman mansion tersebut.


Ibu Jamilah segera ke luar mobil, dan langsung menuju pintu utama, ia berteriak-teriak memanggil nama Heena.


Orang yang di panggil belum ke luar juga, Ibu Jamilah tidak tinggal diam, ia terus berteriak dan bahkan menggedor-gedor pintu itu.


Salah satu sekuriti menghampiri Ibu Jamilah, untuk menunggu dan meminta lebih sabar, akan ia panggilkan Tuannya.


Tidak lama kemudian ada yang membuka pintu, tetapi bukan Michael, melainkan Mawar.


Wanita itu menatap sinis, tatapan merendahkan pada wanita tua yang ada di hadapannya.


Ibu Jamilah mengatakan kedatangannya untuk bertemu Heena, tetapi tidak percaya saat Mawar mengatakan Heena tidak lagi tinggal di Mansion.


Ibu Jamilah mau menerobos masuk, tetapi Mawar mencegah, Mawar mendorong Ibu jamilah hingga wanita itu terhuyung ke belakang, dan hampir jatuh bila Ibu Jamilah tidak menahan keseimbangan.


Ibu Jamilah semakin geram saat diperlakukan tidak baik oleh wanita cantik di hadapannya, yang ia sendiri tidak kenal siapa wanita itu.


Mawar mendekati Ibu Jamilah seraya bertolak pinggang. "Aku adalah istri, Michael. Dan anda silahkan pergi! mataku sakit melihat wanita pengemis seperti Anda!"


Deg!


Istri, istri, Michael memiliki istri lagi, tidak, tidak! wanita ini pasti bohong. Batin Ibu Jamilah tidak percaya.


Hahahaha!


Ibu Jamilah tertawa, merasa lucu akting wanita yang mengaku istri Michael, Mawar menjadi kesal melihat Ibu Jamilah yang malah tertawa, namun seketika tawa Ibu Jamilah lenyap bagai ditelan bumi, lenyap tanpa bekas saat mendengar sebuah suara.


"Dia memang Istriku." Michael dari dalam berjalan ke luar lalu berdiri di samping mawar.


"Kau bohong, itu tidak mungkin!"


"Silahkan Anda pergi, mulai saat ini saya berhenti mentransfer uang ke rekening Anda, kita bukan siapa-siapa lagi!"


Deg!


Kalimat tegas yang terakhir di ucapkan Michael, benar-benar membuat Ibu Jamilah mati kutu, Ibu jamilah menggelengkan kepalanya ia masih tidak percaya, hingga ia merasakan tangannya di pegang dua sekuriti yang kemudian membawanya ke luar Mansion.