
Mulai sejak kemarin berita-berita Pak Muklis memang sedang menjadi topik hangat, dan tentu saja berimbas pada perusahaannya sendiri.
Mulan yang saat ini sedang mencegah para investor yang mau menarik sahamnya, benar-benar merasa kesulitan, mereka semua tidak lagi percaya dengan perusahaan Pak Muklis.
"Mohon Tuan, beri perusahaan kami kepercayaan lagi, sekali lagi saja, Tuan." Mulan Memohon, namun hasilnya tetap saja nihil.
Mulan selaku putri pemilik perusahaan, tentu memiliki tanggung jawab yang besar bila perusahaan Ayahnya bangkrut.
"Nona bagai mana ini?"
"Saham perusahaan semakin turun drastis, Nona."
"Bila seperti ini terus perusahaan benar-benar bisa bangkrut, Nona."
"Perusahaan kita butuh suntikan dana yang cukup besar, Nona."
Semua pertanyaan yang diajukan oleh para bawahan yang saat ini sedang berkumpul di ruang rapat.
Namun dalam kondisi seperti ini Mulan tidak lagi memiliki jalan ke luar, Mulan mengobrak-abrik kertas semua yang ada di ruang meeting.
Merasa itu semua tidak ada artinya lagi.
Arghhhh!
"Kalian semua tidak berguna!" Mulan menunjuk wajah semua orang yang ada di ruangan tersebut, sebelum ahirnya pergi dengan sangat marah.
Mulan masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya, dan menutup pintu dengan keras.
Brak!
Ahhh!
Mulan berteriak seraya menempelkan punggungnya di pintu, menangis berteriak, tangannya terkepal memukul-mukul pintu.
Ahhh!
Mulan meluapkan rasa sesaknya dengan terus menangis dan berteriak, di luar pintu Presdir, Asisten Pak Muklis mendengar pintu yang terus di pukul dari dalam, merasa khawatir dengan keadaan Mulan, namun tidak berani untuk mengetuk pintu.
Kemudian memilih pergi dan menyelesaikan masalah ini sendiri selagi masih bisa ia tangani.
Masalah yang sudah meluap besar menyangkut sampai ke mana-mana, membuat perusahaan Pak Muklis tidak lagi bisa diselamatkan, meski dengan berat hati Mulan harus mengikhlaskan.
Sejak hari Ayahnya dinyatakan mendapat hukuman penjara, sampai hari ini, Mulan terus menangis tiada henti.
Dan tepat dua hari berikutnya, Mulan harus menerima kenyataan pahit, perusahaan milik Pak Muklis dinyatakan benar-benar bangkrut, bahkan sampai tidak tersisa lagi asetnya, rumah satu-satunya juga sudah di sita bank, semua aset yang Mulan miliki juga sudah di ambil untuk melunasi hutang perusahaan.
Saat ini Mulan akan pergi sesuai permintaan Gery waktu itu, namun sebelum itu, Mulan mau menemui Gery yang saat ini sudah berada di kantor polisi, dan setelah itu gantian menemui Ayahnya di lapas.
Mobil taksi yang Mulan tumpangi sudah sampai di kantor polisi, Mulan ke luar berjalan masuk.
Menunggu beberapa saat di ruang tunggu, tidak berselang lama Gery datang.
Mulan langsung berdiri berjalan mendekati Gery dan langsung memeluk Gery dengan suara Isak tangis yang terdengar pilu.
Dalam pelukannya, Gery menenangkan Mulan, sungguh hatinya juga sakit melihat Mulan rapuh, bukan seperti ini yang Gery mau lihat dari Mulan, Gery ingin Mulan tetap harus ceria bukan terlihat rapuh seperti ini.
Mulan melerai pelukannya. "Aku akan pergi, dan aku ke sini meminta alamat apartemen kamu yang ada di London."
Gery menatap lekat wajah Mulan, yang terlihat terpancar aura kesedihan, Gery menghapus air mata Mulan. "Jangan khawatir, kamu harus bisa melewati semua ini, aku akan menuliskannya sekarang, mana hp kamu?"
Mulan kemudian menyerahkan hp nya ke tangan Gery, dan dengan segera Gery mencatatkan alamat apartemennya di hp Mulan.
Setelah selesai, Gery menyerahkan kembali hp tersebut ke tangan Mulan, Gery memegang bahu Mulan, dari sorot mata Gery, Mulan bisa menangkap bahwa saat ini memintanya untuk kuat, tapi justru tatapan peduli Gery membuat Mulan menangis lagi.
Mulan kembali memeluk Gery dengan tubuhnya bergetar karena Isak tangis, sungguh dahulu Mulan pernah miliki keinginan bila di saat sedih bisa memeluk Aldebaran pria yang begitu sangat ia cintai, ingin dipedulikan dan juga dicintai.
Lagi-lagi teringat itu semua semakin membuat Mulan menangis, rasanya ribuan jarum menusuk hatinya, namun yang terjadi saat ini Gery yang harus ia peluk untuk menyalurkan kesedihannya.
Sebelum waktu kunjung habis, Mulan dan Gery mengucapkan kata perpisahan, Mulan melambaikan tangannya sebelum ahirnya pergi meninggalkan Gery, yang terus melihat Mulan hingga tidak terlihat lagi.
Setelah sampai di lapas, Mulan langsung bertemu Ayahnya.
Mulan menceritakan pada Ayahnya, bila dirinya akan pergi ke London, dan dengan berat hati Mulan juga menceritakan bila perusahaan saat ini sudah tidak ada lagi.
Meski Pak Muklis juga pasti akan tahu itu, kini ia bisa merasakan yang juga Aldebaran rasakan waktu itu, meski Pak Muklis juga merasa rapuh, tapi di depan Mulan, Pak Muklis bersikap biasa saja, menunjukan bila dirinya sudah ikhlas.
"Hiduplah dengan baik di sana, Nak." Pak Muklis berkata seraya mencium kening Mulan.
Sebelum pergi Mulan memeluk Ayahnya, karena jadwal ia terbang itu sebentar lagi, dan setelah urusannya terselesaikan Mulan meninggalkan tempat tersebut.
Setelah kepergian Mulan, Pak Muklis menangis pilu, tangannya mencengkram kuat jeruji besi.
Sama halnya dengan Mulan yang saat ini sudah sampai bandara setelah beberapa menit lalu mengunjungi Ayahnya, mereka berdua saling memikirkan satu sama lain, sama-sama menangis dalam kejauhan.
Dan tibalah saat nya kapal harus lepas landas, pikiran Mulan masih terus teringat Ayahnya.
"Saat waktunya tiba nanti aku juga akan mengatakan the welcome Indonesia."
Langit yang cerah pelan-pelan berganti gelap, menghapus semua kejadian di hari ini, berganti malam hari.