HEENA

HEENA
BAB. 99. Terlihat menggemaskan.



Ayunda yang sudah berada di dalam mobil tersenyum, sembari melihat gadis kecil melalui kaca spion, yang ia kasih makanan tadi.


Ayunda kemudian menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya.


Tadi Ayunda sedang makan di restoran, dan saat ke luar ia melihat Lulu yang tidak ia kenal namanya siapa, Ayunda kemudian masuk ke dalam lagi membeli makanan lalu dibungkus.


Kemudian ia berikan untuk Lulu, dan saat berdiri di depan gadis itu ternyata sedang menangis.


Ayunda melajukan mobilnya membelah jalanan malam. Malam ini Lulu tidur di depan ruko yang sudah di tutup, sampai tiba waktu pagi Lulu bangun dan melanjutkan pencarian Heena lagi.


Di tempat lain.


Aldebaran dan Heena sudah rapih, hari ini Heena mau ikut Aldebaran di kantor, merasa di rumah jenuh, Heena pikir bila di sana nanti kan bisa bantu-bantu Aldebaran bekerja.


Selesai sarapan mereka berdua langsung pamit pergi, namun sebelum Heena masuk ke dalam mobil, mendengar suara Bibi Sekar.


"Hati-hati di jalan, dan kalian itu memang harus selalu bersama." Bibi Sekar mendekat, Heena tersenyum kemudian masuk ke dalam mobil, Bibi Sekar membantu menutup pintu mobil.


Mobil melaju, Bibi Sekar melambaikan tangan, melihat mobil yang dikendarai Aldebaran sampai menghilang.


Bibi Sekar kembali masuk ke dalam rumah, putranya Rengky yang menyembul dari dalam rumah, berpamitan juga mau berangkat kerja.


"Kerja ya kerja, jangan main!" Bibi Sekar bicara tegas saat Rengky selesai mencium punggung tangannya.


"Iya Ibu negara yang bawel." Rengky bicara sembari mencium pipi Ibunya, kemudian lari segera masuk ke dalam mobil.


Bibi Sekar geleng kepala tapi bibirnya tersenyum, kemudian melanjutkan berjalan masuk ke dalam rumah.


Bibi Sekar menghela nafas, bila semua sudah berangkat kerja rumah pasti sepi, Bibi Sekar berpikir enaknya ngapain, duduk di ruang tamu sembari lihat-lihat tas-tas di toko online, hal yang selalu dilakukan bila lagi sendiri di rumah.


Sementara Mobil Aldebaran kini sudah sampai di kantor. Heena menyembul ke luar dari dalam mobil, menatap gedung tinggi pencakar langit milik Al-Gazali Group sembari tangannya menutup pintu mobil perlahan, perusahaan yang sudah di bangun kembali.


Aldebaran ke luar mobil, masih menggunakan kaca mata hitam, tangannya menutup pintu mobil, melihat Heena yang sedang melihat perusahaan baru miliknya, berdiam sebentar melihat Heena dari belakang, kemudian berjalan mengitari mobil seraya membenahi jas hitamnya yang tidak dikancingkan, berhenti di dekat Heena yang kemudian menoleh dan tersenyum ke arahnya.


Aldebaran melepas kaca mata hitamnya seraya tangan kirinya menggenggam tangan Heena untuk diajak masuk kedalam, Heena dan Aldebaran berjalan bersama, dengan tangan kanan Aldebaran masuk ke dalam saku celana.


Saat baru masuk di lantai satu, karyawan yang melihat Bos Aldebaran membawa wanita langsung bengong, melihat ke arah Aldebaran sampai menghilang di dalam lift.


Akan tetap bengong, bila tidak diingatkan untuk bekerja, apa lagi yang bekerja di perusahaan ini adalah karyawan baru semua, bisa-bisa akan ada pecat masal bila kerjanya tidak bagus.


Saat Aldebaran dan Heena ke luar dari dalam lift, yang sudah di lantai tempat ruang kerja Aldebaran berada, wanita yang bekerja di bagian sekertaris pemasaran produk terkejut saat melihat Heena yang di samping Aldebaran.


"Heena!" gumam marah wanita itu yang bernama Angel dengan tangan terkepal, masih terus menatap tajam ke arah Heena sampai Heena dan Aldebaran masuk ke dalam ruang Presdir.


Angel tersenyum miring, seperti sedang mau merencanakan sesuatu, kemudian pergi menuju ruang kerjanya.


Di dalam ruang kerja Aldebaran, Heena duduk di sofa seraya melihat Aldebaran yang saat ini tengah fokus dengan laptop di depannya.


Heena merasa bosan duduk ia lalu berdiri, melihat-lihat seisi ruangan, ada lukisan besar yang di tempel di dinding, ada juga foto keluarga Aldebaran, yang bersama ayah dan ibunya.


Ada sebuah almari bufet, Heena berjalan ke arah situ, semua isinya map-map penting, sebenarnya Heena mencari sebuah majalah, tertawa dalam hati mana mungkin majalah ada di ruang kerja.


Mata Heena masih melihat-lihat menelisik tampilan ruang kerja Aldebaran, sampai suara Aldebaran membuatnya langsung menoleh menatap pria itu.


Buku cerita gumam Heena yang penasaran seperti apa bukunya, masa iya buku cerita pikir Heena, Heena terus mencari dan setelah dapat ternyata benar ada sebuah buku, buku novel yang berjudul The Boss Arogan.


Membaca judul buku Novelnya Heena langsung menoleh ke arah Aldebaran lagi sembari kening berkerut.


Mungkin terlihat sedikit lucu bagi Heena seorang Aldebaran membeli buku novel, karena penasaran dengan ceritanya dalam novel tersebut, Heena membawanya ke kursi sofa, sambil duduk santai Heena membaca.


Asisten Dika masuk ke dalam membawa beberapa laporan untuk diserahkan kepada Aldebaran.


Aldebaran mengoreksi laporan-laporan tersebut, dan setelah selesai memberikannya lagi pada Asisten Dika.


Dika menunduk hormat pada Aldebaran dan juga Heena sebelum pamit ke luar ruangan.


Aldebaran melirik Heena yang saat ini masih terlihat serius membaca.


Aldebaran menghubungi seseorang melalui telepon kantor, bicara sebentar dengan orang di sambungan telepon sana, kemudian ia matikan lagi.


Aldebaran tersenyum kecil setelah melihat Heena yang masih asyik membaca novel, kemudian lanjut kerja lagi, sampai tiba waktu jam makan siang, pintu ruang kerja Aldebaran ada yang mengetuk dari luar.


Mendengar itu Heena berdiri mau membukakan, namun Aldebaran mencegah.


"Tidak usah." Melihat Heena, kemudian bicara lagi, "Masuk!"


Seketika seorang wanita masuk ke dalam setelah pintu terbuka, dengan membawa nampan berisikan makanan, dari tampilannya wanita itu tomboy, rambut pendek dan berkulit manis.


Heena masih terus melihat wanita itu, sampai berhenti di depan meja lalu meletakkan makanan itu di sana.


Aldebaran yang melihat Heena terus menatap wanita yang baru masuk itu, ia terkekeh sambil berjalan munju sofa tempat Heena berada.


"Kenalkan dia sekertaris aku namanya Govi," ucap Aldebaran setelah berdiri di samping Heena sembari memegang bahu Heena membawanya untuk duduk bersama.


"Maaf Nyonya bila kehadiran saya membuat Nyonya tidak nyaman." Govi bicara dengan menunduk dalam.


Heena bernafas lega, setelah beberapa saat lalu ia sedikit curiga, Aldebaran meminta Govi ke luar melalui gerakan tangan.


"Kenapa harus perempuan?" tanya Heena setelah Govi dipastikan ke luar.


Aldebaran mengangkat bahunya sembari mengambil stik kentang ia makan, kunyah-kunyah melirik Heena yang wajahnya terlihat kesal.


Aldebaran menghela nafas. "Aku memilihnya karena dia pandai ilmu bela diri." Menyodorkan stik kentang ke depan mulut Heena.


Apa hubungannya ilmu bela diri dengan sekertaris, pikir Heena yang belum tahu semua alasan Aldebaran.


Heena melirik stik kentang yang disodorkan Aldebaran, hap! lalu ia makan, kunyah-kunyah dengan wajah yang masih ditekuk, sepertinya belum puas dengan alasan Aldebaran.


Aldebaran merasa haus, saat mau minum ternyata Govi tidak membawakan minuman.


Heena yang mengerti Aldebaran mau minum kemudian berdiri mau mengambil minum di pantry.


Aldebaran terkekeh sembari menggelengkan kepala melihat tingkah Heena yang lagi ngambek terlihat menggemaskan.