
Heena turun dari angkutan umum, pagi ini ia mendatangi tempat kerja barunya, setelah kemarin mendapat informasi bahwa email lamaran pekerjaannya telah di terima.
"Permisi," sapaannya setelah sampai di tempat kerja yang ada bacaan DA Corp.
"Silahkan masuk, mari."
Heena mengikuti langkah seorang wanita, yang dilihat dari penampilannya sepertinya pegawai D.A Corp juga.
Wanita itu membawa Heena ke sebuah ruangan, ruangan yang ada beberapa meja dan kursi, sepertinya semua karyawannya bekerja dalam satu ruangan, meja sebelah ujung ada tulisan Syifa, wanita itu tersenyum saat melihat Heena, Heena juga membalas senyuman Syifa.
Heena duduk berhadapan dengan wanita tersebut, dengan meja sebagai pembatas.
"Dengan Ibu Heena, benar?" tanyanya dengan senyum ramah.
"Iya, saya yang bernama Heena." Telapak tangan Heena terasa dingin, ia khawatir bila gagal review, sementara ia sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Wanita itu membuka kembali beberapa gambar yang Heena bawa, ia harus memastikan bahwa Heena layak diterima, karena tidak ingin mengecewakan Bosnya.
Dan setelah puas dengan hasil gambar yang Heena bawa, wanita itu memfotonya lalu ia kirim ke Asisten Bosnya, yang saat ini sedang bersama pergi ke luar kota.
"Sebentar, ya, Ibu Heena." ucapnya sembari menatap Heena.
Tidak lama kemudian, wanita itu mendapat balasan, bernafas lega yang kemudian tersenyum ke arah Heena. "Selamat ya, Bu Heena, selamat bergabung dengan D.A Corp." keduanya saling berjabatan tangan.
"Dan nama saya Tia, di sini kita menjadi teman." ucapannya lagi.
Tia mengantar Heena ke tempat meja Kerjanya.
Mulai hari ini juga Heena langsung mulai bekerja.
Di hari pertama kerja, Heena merasa beruntung, karena dipertemukan dengan teman yang baik, Tia dan Syifa. Yang tadi membantunya saat ada hal yang belum ia mengerti.
Sore hari Heena pulang, ia menggunakan angkutan umum untuk menghemat biaya.
Sampai di halaman rumah, Heena terkejut saat tiba-tiba suara Anak kecil berdiri di teras rumah berteriak padanya.
"Mama ..." Yusuf berlari ke arah Heena.
Heena sedikit berjongkok dan menangkap tubuh Yusuf seraya membawa berputar-putar.
Terdengar gelak tawa renyah dari bibir Yusuf. Heena membawanya masuk ke dalam . " Ane, kamu sendiri?" Menatap Ane yang berdiri di teras.
"Iya Nyonya, pak Samsul sedang sibuk."
Heena mengangguk mengerti, Ane mengikuti langkah Heena dari belakang.
Heena mendudukkan Yusuf di sofa, sementara ia mau mandi lebih dulu, Ane kembali bersuara saat Heena hendak mau masuk ke dalam kamar.
"Nyonya? Tuan Muda malam ini mau menginap di sini."
Heena membalikkan badan menatap Ane, dahinya berkerut memastikan yang ia dengar itu tidak salah.
Ane yang paham mendapat tatapan kebingungan dari Nyonyanya, ia kembali bicara, "Benar, Nyonya. tuan Michael sudah memberi ijin."
Heena mau bertanya sesuatu tetapi di potong lebih dulu oleh suara Yusuf.
"Benal, Yusuf mau tinggal sama Mama, sampai Yusuf puas." Yusuf tertawa meringis hingga gigi ompongnya kelihatan.
Heena kembali berjalan mendekati Yusuf lalu memeluknya lagi. "Sayang, Mama bahagia banget." Memeluk Yusuf dengan gemas, Yusuf hanya tergelak tawa.
Setelah selesai mandi dan berpakaian rumahan, Heena dan Ane memasak di dapur, Yusuf asyik nonton TV di ruang keluarga.
Nasi goreng udang sudah siap, ketiganya makan bersama di meja makan.
Setelah selesai makan, ketiganya bersantai di ruang tengah sambil nonton TV. Yusuf mulai mengantuk, Yusuf tidur di pangkuan Heena, sementara Heena dan Ane masih berbincang-bincang, Ane yang menjelaskan hari-hari Yusuf tanpa Ibunya di rumah.
Mendengar penjelasan Ane, hati kecil Heena akan lebih bersemangat lagi kerjanya, supaya bisa segera membawa Yusuf tinggal bersama.
"Ane, tolong jaga Yusuf, selama aku tidak ada di sampingnya." Heena menatap Ane dengan mata berkaca-kaca.
"Tanpa Nyonya minta, pasti saya lakukan."
Mendengar jawaban yang mantap dari Ane, perasaan Heena sedikit tenang, setidaknya ada yang mengawasi keseharian Yusuf.
Waktu semakin malam, Heena memerintahkan Ane untuk istirahat di kamar tamu, Heena membawa Yusuf ke dalam kamarnya.
Menidurkan Yusuf di ranjang lalu menyelimuti tubuhnya serta dirinya ikut berbaring di sampingnya dengan memeluknya. "Ahirnya Mama bisa tidur sambil memelukmu lagi, Nak." Heena mencium dalam kening Yusuf.
Di tempat lain.
Michael malam ini tidur di perusahaan, dirinya malas pulang karena masih ribut dengan Mawar, di tambah Yusuf malam ini nginap di rumah Heena.
Mengingat Yusuf yang malam ini nginap di rumah Heena, membuat Michael yang saat ini berbaring di sofa langsung teringat mantan istrinya itu.
Selama lima tahun menikah dengan Heena, ia tidak pernah bila malam tidak pulang, apa lagi sampai lebih milih tidur di kantor, baru kali ini.
Tiba-tiba ada perasaan rindu yang mendalam, namun Michael harus menekan itu semua.
"Tidak! biarlah dia bahagia, dan mencari kebahagiaannya." Michael mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia berusaha memejamkan matanya, namun sayangnya tidak bisa tidur.
Kemudian ia bangkit dari sofa, lalu berjalan menuju balkon.
Seketika angin malam menerpa wajahnya yang tampak lelah seharian bekerja.
Melihatnya indahnya kota dengan lampu-lampu berpijar di setiap tempat. Ingatan Michael kembali pada lima tahun yang lalu.
*Saat itu, ia yang memang sedang di paksa menikah untuk menyelamatkan perusahaannya menggantikan posisi ayahnya, tiba-tiba Ibu Jamilah yang datang menemuinya, dengan menangis bahkan bersujud di kakinya, untuk meminjami uang yang digunakan untuk membayar hutang.
Namun saat Michael tidak mau menolong, karena merasa tidak kenal dan harus waspada dengan orang baru kenal. Tetapi Ibu Jamilah malah mengatakan akan memberikan putri pertamanya.
"Putriku untuk Anda, tolong saya, Tuan." Ibu Jamilah memegang kaki Michael yang saat itu ingin pergi dari hadapannya.
Mendengar tawaran Ibu Jamilah, Michael tertarik hingga hari berikutnya ia mengadakan pertemuan dengan wanita yang di bilang putri pertama Ibu Jamilah.
Michael kemudian menyetujui tawaran Ibu Jamilah, saat ia sudah bertemu dengan Heena, nama yang anggun bahkan senyumnya mampu menyejukkan hatinya.
Namun setelah menikah perasaan baik Michael berubah, karena ia sering mendapati Heena menangis dengan memeluk foto seorang pria, yang ia tahu dari bibir Heena bahwa pria itu adalah tunangannya.
Sejak saat itu, rasanya Michael ingin marah terus setiap kali melihat wajah Heena*.
Hah! Michael menghela nafas panjang sembari menatap bintang-bintang.
"Kini kejarlah cintamu, dan biarlah aku tetap bersama kenangan-kenangan kita."
Michael kembali ke dalam, ia berusaha untuk tidur karena besok ada meeting pagi-pagi.
Awalnya memang susah namun kelamaan ahirnya Michael tertidur, karena sudah kelelahan. Ahirnya malam pun terlalui.