
Mulan yang saat ini berada di perusahaan Ayahnya dia marah-marah saat mendengar info dari asisten ayahnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, tidak bisa dibiarkan!" Mulan berteriak seraya menjambak rambutnya sendir.
"Ah! bila sepeti ini rencana aku jadi gagal untuk memaksa Aldebaran menikahiku dengan menggunakan aset kekayaan itu." Mulan bicara dengan penuh amarah di wajahnya.
Mulan menyalahkan Ayahnya yang sudah mengembalikan aset milik Aldebaran tanpa bicara lebih dulu dengan Mulan.
Dengan wajah yang sangat marah, Mulan ke luar ruang kerjanya, kini tujuannya untuk menemui Ayahnya.
Saat berjalan di lantai dasar Mulan tidak peduli dengan karyawan Ayahnya yang menyapanya, Mulan terus berjalan dengan wajah dingin.
Mulan mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, tidak peduli dengan kendaraan yang lain, saat ini yang Mulan pikirkan untuk segera bertemu Ayahnya.
Dan setelah beberapa menit tidak begitu lama, karena Mulan mengendarai mobilnya dengan cepat. Kini Mulan sudah sampai di kantor polis.
Mulan duduk di kursi tunggu, menunggu Ayahnya dengan perasaan kesal. Pak Muklis yang baru tiba di ruang tunggu, perasaannya sangat bahagia saat melihat wajah putrinya yang beberapa hari ini ia rindukan.
"Mulan sayang." Pak Muklis tersenyum seraya merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Mulan.
Namun perlahan senyum di wajah keriput Pak Muklis memudar saat mendengar perkataan Mulan.
"Ayah! kenapa Ayah mau menandatangani surat yang Aldebaran bawa! Ayah tahu, gara-gara kesalahan Ayah itu rencana Mulan gagal lagi, Ayah ..." Mulan berteriak sambil terisak, hatinya benar-benar kecewa dengan keputusan Pak Muklis.
Pak Muklis tidak kuasa melihat Mulan yang terisak, namun apa yang akan Mulan perbuat itu salah, dan Pak Muklis tidak ingin Mulan semakin berbuat kesalahan.
"Mulan, Ayah sudah melakukan yang benar."
"Tidak Ayah!" potong Mulan dengan cepat dan tegas.
Pak Muklis menggelengkan kepalanya. "Sebaiknya kamu lupakan Aldebaran dan cari pria lain, Mulan!"
"Tidak Ayah, Mulan tidak akan lepaskan Aldebaran begitu saja!" Mulan bicara dengan amarah yang meletup-letup seraya berjalan mendekati Ayahnya yang saat ini sedang berdiri.
"Mulan sangat mencintai Aldebaran, Ayah?" suara Mulan melembut bercampur derai air mata seraya menunjuk dalam dadanya.
Pak Muklis juga ikutan menangis, memegang bahu Mulan yang bergetar. "Ayah tidak mau kamu semakin merasa sakit, Nak."
"Mulan memang sudah sakit, Ayah!" Mulan berteriak seraya menjauhkan tangan Ayahnya dengan kasar. "Mulan hanya mau Aldebaran."
Setelah berkata demikian Mulan menghapus air matanya dengan kasar, lalu pergi begitu saja meninggalkan Ayahnya.
"Mulan," suara Pak Muklis tercekat di tenggorokan, ia menangis tersedu-sedu, sedih hatinya saat melihat putri tercintanya tetap kekeh mau memperjuangkan cintanya.
Polisi membawa Pak Muklis masuk ke dalam sel, semua teman-teman Pak Muklis di dalam sel melihat ke arahnya, saat polisi mengantar dirinya masuk ke dalam sel.
Pak Muklis tidak langsung duduk, ia berdiri seraya memegangi jeruji besi dan menempelkan wajahnya di sana.
Mulan maafkan Ayah, sepertinya Ayah sudah salah mendidikmu selama ini, kini kamu tumbuh menjadi orang yang begitu egois, batin Pak Muklis.
Pak Muklis berharap Mulan bisa berubah menjadi wanita lebih baik.
Di tempat yang berbeda.
Heena saat ini sedang bersama Bibi Sekar menghadiri acara arisan, yang di selenggarakan di sebuah restoran.
Bibi Sekar memperkenalkan Heena dengan beberapa teman sosialitanya, Heena disambut cukup baik di acara arisan ini.
Heena juga ikutan ngobrol-ngobrol dengan wanita yang terlihat tidak jauh dengan usianya.
Heena yang tidak pernah miliki acara ibu-ibu seperti ini, karena dulu meski menikah dengan Michael, Heena hanya di rumah, dan hari ini Heena merasakan keseruan.
Acara arisan sebenarnya sudah selesai dari beberapa menit lalu, saat ini untuk makan-makan saja, sambil menyuap kue ke dalam mulut, Heena dan wanita itu terus mengobrol yang kadang di selangi tawa juga.
Dari tempat tidak jauh dari tempat Heena duduk saat ini, Bibi Sekar melihat Heena merasa bangga karena Heena tipe wanita yang mudah bergaul.
Bibi Sekar menghampiri Heena, lalu mengajak Heena untuk makan siang, dan wanita itu juga.
Makan siang di tengah-tengah keramaian ibu-ibu memberikan suasana menyenangkan. Tadi Bibi Sekar berkata bahwa acara arisan seperti ini setiap satu bulan sekali, dan di tempat-tempat yang beda, sesuka para ibu-ibu yang meminta.
Heena menghabiskan makannya dengan perasaan senang, selain rasa masakannya yang lezat, tempat restorannya juga menyenangkan.
Dan setelah acara itu selesai, Heena dan Bibi Sekar langsung menuju pulang. Bibi Sekar yang banyak cerita, selama di dalam mobil selalu bicara, membuat Heena kuwalahan untuk menjawab.
Saat mobil melewati area permainan anak-anak, Heena jadi teringat Yusuf.
Heena tidak mengalihkan pandangannya terus menatap ke luar. "Yusuf sedang apa ya?" gumamnya pelan.
Bibi Sekar memukul pelan pundak Heena, seketika Heena menoleh ke arah Bibi Sekar, Bibi Sekar menatap Heena dengan kening berkerut, ada apa? begitu sorot mata yang Heena tangkap.
Heena menggeleng, kemudian Bibi Sekar kembali duduk di posisi semula, menikmati perjalanan selama mobil melaju.
Cuaca siang yang begitu terik, panasnya sampai menembus ke dalam mobil, meski sudah menggunakan AC, seolah tetap terasa panas, panasnya di luar mobil begitu kentara.