HEENA

HEENA
BAB 140. Persembahan gagal.



Yang di luar terus berkelahi, sementara yang berada di dalam, ritual berhasil di lakukan. Kemudian muncul seperti kumpulan asap hitam, Tuan Bara, Mala, dan juga Rexci melihat asap hitam tersebut mendekati Heena.


Heena ketakutan melihat yang terjadi di hadapannya, dan semakin takut saat kumpulan asap hitam berubah menjadi siluman Yang mau melahapnya.


Aaaaaaa! Heena menjerit saat kabut asap hitam kini benar-benar mau melahapnya, namun tiba-tiba.


"Dia sudah tidak suci lagi ...."


"Kalian semua membohongi! Dia bukan perawan seperti yang aku minta!"


Suara amarah iblis itu seraya menjauh dari tubuh Heena.


Tuan Bara dan Mala tercengang mendengar itu, keduanya melupakan permintaan iblis itu, dan ini memang salahnya karena dari awal Heena sudah mengatakan bila sudah menikah.


Dan sekarang yang menjadi kekhawatiran Mala ada nyawa putranya, Mala tidak mau hal itu terjadi.


"Kalian sudah melanggar kesepakatan!" teriak iblis itu lagi seraya mengeluarkan kekuatan ilmunya yang di arahkan ke Tuan Bara dan Mala.


Aaaaa!


Bruk!


Teriak Mala dan Tuan Bara bersamaan, tubuhnya diangkat ke atas oleh iblis itu lalu di hempaskan ke bawah, hingga mati dan keluar darah dari hidung dan mulutnya. Dan bersamaan itu iblis pun pergi.


"Ibu ... Ayah!" teriak Rexci seraya langsung berlari mendekati kedua orang tuanya yang kini sudah mati. Rexci menangisi kedua orang tuanya.


Brak!


Pintu di buka dengan kasar oleh Aldebaran, pria itu langsung mendekati Heena dan melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Heena.


Setelah tali itu terlepas, Aldebaran memeluk Heena, perasaannya sekarang sudah lega saat mendapati Heena baik-baik saja.


"Maafkan aku yang telat menolong kamu." Ucap Aldebaran seraya menangkup wajah Heena.


Heena mengangguk, dan menjelaskan bahwa dirinya baik-baik saja, namun yang mati adalah Tuan Bara dan Mala.


Aldebaran seketika melihat yang ada di belakangnya, ternyata Rexci sedang menangisi kepergian kedua orang tuanya.


Aldebaran kemudian mengajak Heena keluar dari tempat itu, bersama Dika dan juga Govi.


Setelah masuk di area sekitar rumah, keadaan mulai kembali, sudah banyak pelayan yang saat ini tengah sibuk memindahkan mayat-mayat yang tergeletak.


Saat ini tujuan Heena mau menemui ibunya, dan setelah sampai di kamar ibunya, Ibu Tiara dalam keadaan drop, Aldebaran bersama yang lain langsung membawa Ibu Tiara ke rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, mobil sampai di rumah sakit, Ibu Tiara langsung mendapatkan pertolongan terbaik. Di dalam sana para dokter dan juga suster saat ini sedang menangani Ibu Tiara.


Sementara Heena saat ini sedang menangis di pelukan Aldebaran sembari keduanya duduk di kursi tunggu depan ruang IGD tersebut.


Apa yang terjadi masih sulit rasanya untuk Heena percaya, dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat Ayahnya ingin mengorbankan dirinya sebagai persembahan, sungguh Heena tidak bisa berpikir lagi jika seandainya dirinya masih perawan seperti yang diinginkan oleh iblis itu.


Heena pasti akan mati saat itu juga dan meninggalkan semua orang yang dirinya sayangi, Heena semakin terluka dengan perlakuan Ayahnya yang hanya sebatas pura-pura baik selama ini.


Heena semakin menangis mengingat itu semua, seperti rekaman yang tidak akan pernah Heena lupakan seumur hidup.


Dan sekarang tinggal memastikan keadaan Ibu Tiara, yang saat ini masih di tangani oleh dokter di dalam sana.


Tidak ada yang membuatnya lebih tenang saat ini selain berada di dekat Aldebaran, Heena belum menyadari bahwa saat ini lengan Aldebaran terluka, dan pria itu tetap terus menenangkan Heena dalam pelukannya.


"Apa yang terjadi tidak usah kamu pikirkan lagi, semua anggaplah cerita dalam hidupmu," ucap Aldebaran sembari mengusap punggung Heena.


Heena melerai pelukannya, lalu menggenggam tangan Aldebaran seraya menatap wajah Aldebaran. "Terimakasih sudah mencintaiku dan terimakasih sudah selalu ada untuk aku, dan terimakasih sudah menyayangiku," ucap Heena dengan mata berkaca-kaca.


Aldebaran langsung kembali menarik Heena dalam pelukannya. "Jangan berkata seperti itu lagi, kita pasti akan terus bersama sampai hari tua," ucap Aldebaran sembari mengecup rambut Heena.


Cinta biasanya akan semakin tumbuh kuat setelah bersama-sama melewati permasalahan, dan setelah semua yang terjadi, Aldebaran semakin mencintai Heena, hatinya tidak salah telah memilih Heena menjadi wanitanya kembali, Aldebaran semakin mengeratkan pelukannya.


Saat kepala Heena menoleh, ia baru tahu bila ternyata lengan Aldebaran terluka.


"Al lengan kamu terluka?" ucap panik Heena seraya melerai pelukannya dan memastikan apa yang dirinya lihat itu benar.


Dan benar saja bahwa dirinya tidak salah lihat. Namun Aldebaran hanya menanggapi dengan biasa saja.


"Hanya luka kecil tidak perlu dipermasalahkan," jawab sembarang Aldebaran yang tidak ingin melihat Heena khawatir dengan keadaannya.


"Tapi ini harus diobati, Al?" ucap Heena tidak mau di bantah, dan saat itu juga Heena membawa Aldebaran ketempat ruang pemeriksaan supaya Aldebaran mendapat penanganan.


Dalam perjalanan Aldebaran selalu bicara tidak perlu, tapi Heena tidak mendengarkan semua itu, baginya luka kecil mau pun besar harus segera diobati, Heena hanya khawatir takut terjadi infeksi dan akan membuatnya semakin berbahaya, jadi harus diperiksakan.


Dan setelah sampai di ruang pemeriksaan, Heena terkejut saat dokter mengambil peluru pistol yang tertanam di lengan Aldebaran.


"Al kenapa kamu tidak bilang bila tertembak!" ucap marah Heena karena Aldebaran milih diam dari pada bercerita padanya, dan jawaban pria itu semakin membuat Heena kesal.


Aldebaran tertawa. "Sudahlah ini hanya luka kecil."


"Luka kecil kau bilang, lihat itu!" Heena menunjuk peluru yang baru saja dokter ambil dengan mata melotot.


Aldebaran malah semakin tertawa melihat Heena marah, itu terlihat menggemaskan di mata Aldebaran.


Dokter yang saat ini masih memperban lengan Aldebaran hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat interaksi pasiennya dengan istrinya.


Setelah tugas dokter selesai, dokter pun pamit keluar, saat ini menyisakan Heena dan Aldebaran saja.


Heena masih cemberut wajahnya murung duduk di samping Aldebaran yang juga duduk di pinggiran ranjang pasien.


Aldebaran memegang bahu Heena, wajah Heena melengos menatap ke arah lain. Masih kesal karena Aldebaran tidak mau langsung jujur.


Aldebaran tersenyum. "Plis jangan marah, aku hanya tidak ingin membuat kamu khawatir."


Mendengar suara Aldebaran dengan nada terdengar memelas, perlahan Heena membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Aldebaran.


"Apa pun itu, kamu harus cerita sama aku."


Aldebaran mengangguk dan tersenyum, kemudian keduanya kembali saling memeluk, setelah beberapa saat, kembali berjalan ke ruang IGD, untuk melihat hasil pemeriksaan ibu Tiara.


Sebelum sampai di sana, Aldebaran menghubungi Paman Syafiq dan mengatakan bahwa dirinya saat ini sedang berada di rumah sakit.