HEENA

HEENA
BAB. 75. Mulan tidak dapat ampun.



Heena terkejut dengan perlakuan Aldebaran barusan, Heena dan Aldebaran saling menatap dalam menyelami pandangan mata satu sama lain.


Seolah Heena dan Aldebaran sama-sama melihat kenangan di masa lalu di dalam bola mata Heena, begitu pun Heena melihat di dalam bola mata Aldebaran.


Aldebaran kemudian memutus pandangannya, kini beralih menatap Mulan.


Mulan rasanya mau pingsan, benar-benar terkejut tidak percaya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Aldebaran saat ini memeluk Heena.


Entah apa tujuan Aldebaran yang tiba-tiba menarik Heena hingga masuk dalam pelukannya, apa untuk pamer pada Mulan atau untuk membuat Mulan menyerah, saat ini yang dirasa hati Mulan sakit dan matanya panas melihat pemandangan itu.


"Apa maksud kamu ini, Al!" bentak Mulan dengan berapi-api, dadanya terasa bergemuruh dan seketika ingin meledak, marah bercampur kesal dan sakit itulah yang saat ini Mulan rasakan.


Tapi mungkin Aldebaran ingin menunjukan bahwa Mulan sudah seharusnya berhenti mengejar dirinya, terlihat dari perlakukan Aldebaran saat ini terhadap Heena.


Aldebaran mencium pipi Heena kemudian tersenyum hangat menatap wanita itu. Heena diam membeku dan tidak tahu apa kah perlakuan Aldebaran ini sungguh-sungguh atau hanya sekedar akting untuk membuat Mulan marah, entahlah Heena sendiri belum tahu maksud perlakuan Aldebaran saat ini.


Setelah tersenyum hangat ke arah Heena, Aldebaran beralih menatap Mulan dengan tatapan dingin.


Deg! Mulan kaget saat di tatap dingin oleh Aldebaran, bahkan tadi Mulan bisa melihat Aldebaran menatap hangat ke arah Heena, Mulan menghapus air matanya dengan kasar, mempertahankan auranya untuk tetap tenang.


"Pergilah, bukan kah sudah pernah aku bilang? berhentilah mengejarku, apa kamu tidak lihat." Aldebaran kembali mencium Heena, namun kali ini ia mencium bibir Heena, kemudian menatap Mulan lagi setelah selesai ciuman itu. "Aku sudah menikah, dan sebentar lagi kami akan membuat acara resepsi pernikahan yang sungguhan."


Duar!


Seketika bagai runtuh dunia Mulan mendengar pernyataan dari Aldebaran, cintanya yang begitu besar untuk Aldebaran, tidak terima bila harus benar-benar berakhir, Mulan langsung menangis sesenggukan.


Heena terlepas dari pelukan Aldebaran, dalam hati Heena merasa kasian dengan Mulan, tapi perempuan itu terlalu jahat untuk dikasihani, Heena tidak jadi mengasihani, biar pun di bilang kejam terserah, tapi perbuatan Mulan lebih kejam terhadapnya.


Heena menatap Aldebaran. "Al, aku ke kasir mau bayar dulu ya?"


Aldebaran mengangguk.


Mulan yang tidak bisa lagi menahan kesedihannya dan amarahnya, ia tidak peduli dengan orang sekitar atau berhadapan langsung dengan Aldebaran. Dengan gerakan cepat Mulan menarik rambut Heena dengan kasar.


"Wanita sialan!"


Ahhww! sakit!


Bersamaan dengan Mulan memaki Heena, Heena meringis kesakitan memegangi rambutnya yang ditarik oleh Mulan.


Mulan terus menarik rambut Heena, seperti kesetanan matanya terus menatap Heena dengan tajam.


Aldebaran berusaha memisah dua wanita itu namun Mulan malah semakin menarik rambut Heena, bahkan saat ini rambut Heena banyak sudah rontok di tangan Mulan.


"Mulan lepas Mulan! Mulan sakit!" ucap Heena rasanya pandangan matanya Samapi berkunang-kunang karena jambakan sakit Mulan.


"Tidak akan, tidak akan!" Mulan semakin menjadi, tidak peduli dengan orang sekitar yang berusaha mau memisahkan.


Aldebaran yang sudah berusaha memisahkan namun belum berhasil, semakin tidak tega melihat Heena yang menangis, dan rasanya kali ini ia tidak ada ampun untuk Mulan.


Plak!


Plak!


Bersamaan terdengar suara tamparan dua kali, cengkraman tangan Mulan di rambut Heena berlahan mengendur, nafasnya masih memburu, dengan amarah yang masih kentara di wajah cantiknya.


Aldebaran menarik tangan Mulan lalu ia dorong hingga membentur dinding, kemudian Aldebaran mencengkram dagu Mulan, dengan tatapan setajam pisau "Beraninya kau mencari masalah denganku, sampai aku melihat tindakanmu lebih dari ini, aku akan memasukan kamu dalam penjara!"


Setelah berucap penuh penekanan di setiap kata, Aldebaran melepas cengkraman tangannya di dagu Mulan, kemudian membawa Heena pergi dari tempat tersebut.


Kumpulan orang-orang pengunjung butik melihat Mulan dengan tatapan menghina dan ada juga yang berbisik-bisik.


Mulan melihat hal itu kembali tersulut emosi. "Kenapa lihat-lihat! bubar kalian semua, bubar!" Mulan membentak orang-orang tersebut dengan gerakan tangan mengusir.


Setelah itu Mulan juga ikutan pergi meninggalkan tempat butik, sampai di dalam mobil Mulan masih melanjutkan menangisnya dan marah-marah mengumpat seraya terus-menerus memukulsetir mobil.


"Al, kamu jahat! kamu jahat, Al!" Mulan berteriak dengan deraian air mata. Mulan terus berteriak dan menangis hingga merasa tubuhnya lebih baik, Mulan kemudian melajukan mobilnya untuk pulang.


Di tempat yang berbeda.


"Cus, mama mana, Cus. Huhuhuhu." Yusuf bicara dengan pengasuhnya bernama Ane. Yusuf sudah menunggu Heena di rumah Heena, namun Heena juga tidak kunjung pulang, karena memang sudah tidak tinggal di rumah itu.


Dan sudah cukup lama Yusuf dan Ane menunggu, sejak dari Yusuf pulang sekolah tadi langsung mampir ke sini.


Dan sejak tadi nomor handphone Heena di hubungi tidak diangkat, Ane juga bingung karena tidak biasanya Nyonyanya tidak mengangkat seperti ini.


"Apa nyonya Heena dalam masalah ya," gumam Ane pelan. Saat ini Ane sedang duduk dan memangku Yusuf yang sedang menangis.


Ane yang merasa tidak tega perlahan-lahan membujuk Yusuf supaya mau pulang lebih dulu, dan besok datang lagi ke sini, namun Yusuf malah menolak dan semakin menangis.


"Tidak mau! mau mama ... huhuhu."


Ane semakin bingung tidak tahu harus gimana, dan ahirnya Ane membujuk Yusuf kembali dengan alasan untuk mencari Mamanya di jalan sapa tahu bertemu.


Dan Alhamdulillahnya Yusuf langsung berhenti menangis kini tinggal sesenggukan saja.


Ane bersama Pak sopir dan Yusuf, kini sudah berada di dalam mobil yang melaju.