HEENA

HEENA
BAB 120. Terlanjur dibuat sakit.



Pagi ini setelah membuka mata, pemandangan yang pertama Heena lihat adalah pria yang tidur di sebelahnya, yang tidur pulas seraya melingkarkan tangannya di pinggangnya.


Heena tersenyum seraya jemarinya menyentuh wajah Aldebaran, rasa bahagia itu masih menyelimuti, sampai detik ini rasanya masih seperti mimpi.


Heena kemudian mengangkat kepalanya lalu mencium kening Aldebaran, perlahan wajahnya menjauh masih disertai senyum, menatap sebentar wajah Aldebaran, dan tangannya perlahan menjauhkan tangan Aldebaran yang melingkar di pinggangnya.


Heena kemudian duduk dan ingin membersihkan diri, kakinya sudah menyentuh lantai, tiba-tiba merasakan tangannya ditarik kebelakang, membuat Heena terguling lagi di atas ranjang.


Ahh! Teriak Heena reflek, namun terkejutnya berganti senyum lega, ternyata Aldebaran menariknya dan kembali memeluknya lagi.


"Mau pergi kemana?" bisiknya tepat di telinga Heena, hembusan nafas Aldebaran membuat telinga Heena memerah.


"Aku mau membersihkan diri." Heena menjawab tanpa melihat wajah Aldebaran, karena tidak ingin jantungnya semakin berdebar, saat ini saja sudah berasa mau melompat jantungnya.


Hemm.


Hanya kata itu yang keluar dari bibir Aldebaran, yang saat ini malah kembali terpejam, bukannya membiarkan Heena mandi malah kembali memeluknya.


"Al ... Aku mau mandi?" rengek Heena yang sudah merasa tidak nyaman, karena terbiasa mandi pagi, apa lagi ini sudah pukul delapan pagi, sudah waktunya bagi Heena untuk mandi.


Tapi sepertinya Aldebaran belum mau melepas pelukannya, posisi seperti ini sangat nyaman, dan ingin berlama-lama bersama Heena, lagian tidak akan berangkat kerja pikirnya, jadi buat apa cepat-cepat mandi.


"Nanti dulu temani aku." Selesai bicara Aldebaran malah mengeratkan pelukannya, kaki jenjangnya ia letakkan di atas paha Heena.


Heena menghela nafas panjang, malah jadi gemas melihat tingkah suaminya yang mendadak manja.


Tidak ada pilihan lain, ahirnya Heena menurut untuk menemani Aldebaran tetap di atas ranjang, niat hati hanya menemani eh malah Heena ketiduran kembali.


Aldebaran yang tadi ternyata hanya pura-pura tidur saat ini terkekeh melihat Heena malah tidur pulas lagi, masih ngantuk kan pake bilang mau mndi segala gumam Aldebaran, yang kemudian mencium pipi Heena dengan gemas.


Tepat pukul sembilan pagi Heena dan Aldebaran sudah siap untuk pergi meninggalkan kamar hotel yang menjadi tepat tidur ternyaman semalam.


Aldebaran berjalan seraya merengkuh pinggang Heena, menggunakan pakaian biasa dengan kaca mata hitam.


Heena yang jadi malu sendiri dengan perlakukan manis Aldebaran di tempat umum, apa lagi banyak pasang mata yang senyum-senyum melihat ke arahnya.


Sampai di luar hotel dekat mobilnya, Aldebaran membukakan pintu mobil untuk Heena, Heena tersenyum, telapak tangan Aldebaran di letakkan di atas kepala Heena supaya tidak terpentok atap pintu mobil, Heena perlahan masuk ke dalam mobil.


Aldebaran menutup pintu, lalu berjalan mengitari mobil, masuk ke dalam dan melajukan mobilnya.


Dalam perjalanan keduanya masih sama-sama saling melempar senyum, sampai kini mobil telah sampai di rumah.


Aldebaran keluar lebih dulu, kemudian membukakan pintu mobil untuk Heena.


Mereka berdua berjalan bersama masuk ke dalam, sampai di depan teras, Heena samar-samar mendengar pembicaraan orang di dalam sana.


"Jika begitu Kaka Heena tahu."


"Dia tahu, tapi tidak tahu siapa ibunya."


Kalimat yang Heena dengar dari bibir Bibi Sekar seketika membuat dirinya merasa penasaran, apa yang sedang dimaksud Bibi Sekar.


Heena menyembul masuk ke dalam bersama Aldebaran di sampingnya. "Siapa yang tahu dan siapa yang tidak tahu?"


Semua orang menoleh mantap dirinya, Heena kembali dibuat bingung saat menangkap tatapan mata mereka yang terlihat terkejut saat melihat dirinya.


Dan siapa dia aku merasa tidak kenal pikir Heena, saat melihat Lulu yang saat ini tengah menatap ke arahnya.


"Kak Heena?"


Heena semakin terkejut saat melihat gadis kecil yang baru ia lihat itu ternyata mengenali namanya.


Bibi Sekar bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Heena, dan mengajak Heena dan Aldebaran untuk sama-sama duduk.


Setelah semua duduk, Bibi Sekar meminta Lulu untuk angkat bicara, biarlah Lulu yang mengatakan semuanya, karena menurutnya Lulu lebih berhak.


Lulu sendiri juga bingung harus memulai pembicaraan dari mana, bila hanya ucapan tanpa adanya bukti, Lulu khawatir Kak Heena tidak akan percaya dan takut malah tertawa seperti respon Rengky tadi.


Dan ahirnya Lulu mengingat sesuatu, yaitu sebuah kalung yang sama persis dengan milik Kak Heena, Lulu mengeluarkan kalung itu dan menunjukan pada Heena, untung saja kalung tersebut tidak ikut tercopet, karena saat itu Lulu simpan di saku celana.


Deg!


Melihat kalung itu yang saat ini di telapak tangannya, Heena terkejut bukan main, karena ini benar-benar mirip dengan yang ia punya, tidak! Ini adalah sama.


Dengan tangan gemetar Heena membuka bandul kalung tersebut, perlahan matanya langsung membola, foto bayi dalam bandul kalung tersebut memang fotonya saat dirinya masih bayi, Heena bisa tahu itu karena dulu sempat melihat foto bayinya yang waktu masih tinggal di rumah Ibu Jamilah.


"Kamu kenapa?" tanya Aldebaran yang melihat wajah Heena terlihat pucat saat melihat isi bandul itu.


"Ini adalah fotoku," jawab Heena kini sudah mulai terisak, Heena kemudian beralih menatap gadis kecil yang memberikan kalung tersebut.


Melihat tatapan Kaka Heena, Lulu langsung menjelaskan kembali bila kalung tersebut adalah milik Ibunya, Lulu menceritakan semuanya tentang ibunya yang selama ini mencari Kak Heena, mendatangi panti asuhan tempat Kak Heena masih bayi, tapi kak Heena sudah tidak berada di sana.


Ibunya terus mencari sampai ahirnya jatuh sakit di dua tahun ini, dan hari ini tidak bisa ikut mencari Kak Heena karena sudah tidak bisa lagi kemana-mana.


Mewakili ibunya Lulu mengucapkan maaf atas ibunya yang dulu telah melantarkan Kaka Heena waktu masih bayi, menyampaikan perasaan Ibunya bila ibunya sangat menyesal dan ingin menebus semua kesalahannya.


Lulu menangis di hadapan Heena dengan kepala menunduk tidak sanggup membalas tatapan mata Heena yang terlihat sangat sedih.


Dan mendengar cerita Lulu sampai habis tadi, Heena langsung menangis hatinya terkoyak sakit, setelah sekian tahun kini baru akan bertemu dengan yang dibilang gadis kecil itu adalah ibu kandungnya, entah Heena harus bersikap apa nanti, tapi mendengar cerita gadis kecil itu yang mengatakan ibunya menyesal telah meninggalkan Heena di panti asuhan, bukankah itu artinya dulu sengaja di tinggal.


Mengingat itu Heena semakin menangis, ingin rasanya tidak peduli, karena hati ini sudah terlanjur dibuat sakit, tapi dirinya sendiri juga seorang ibu, mungkin ada alasan lain yang Heena juga harus tahu, di balik dirinya mengapa harus di titipkan di panti asuhan.


Aldebaran mengusap punggung Heena yang saat ini menangis di pelukannya.