HEENA

HEENA
BAB 56. Siapa yang menikah.



"El, kamu di sini." Heena kemudian mengajak Michael berjalan ke teras rumah, karena ada yang ingin ia bicarakan.


"Kamu mengagetkan aku El, ada apa kamu ke sini, bila karena Yusuf, dia baik-baik saja bersama aku."


Heena bicara panjang lebar, kini keduanya sudah berdiri di teras dengan saling berhadapan.


"Maafkan aku Heena, tidak ada maksud seperti itu." Michael menatap Heena dengan penuh permohonan maaf.


Heena menghela nafas panjang seraya menoleh ke arah lain. "Ok, sekarang aku mau tanya, mengapa kamu bercerita kepada Yusuf, bila kamu ingin ketemu aku tapi takut, harusnya kamu tidak bercerita seperti itu! karena itu sama saja kamu memberi harapan hubungan kita kepada, Yusuf." Heena menatap lekat wajah Michael, hatinya sangat kesal.


Mendengar perkataan Heena, Michael jadi merasa bersalah, ia sudah salah, memang harusnya apa pun itu ia harus diam. Dan melihat Heena seperti ini jadi tidak enak hati.


"Maafkan aku, Heena." Michael hanya bisa berkata maaf, melihat wajah Heena yang terlihat penuh kecewa.


Hah! maaf lagi maaf lagi, tidak bosan apa dia minta maaf mulu, aku aja yang mendengarnya saja bosan, batin Heena seraya menghela nafas kasar dan melihat ke arah lain. "Pulanglah!"


Michael tersenyum kecil. "Heena."


Perlahan Heena melihat tangannya yang saat ini sedang di pegang oleh Michael, dan beralih menatap wajah pria itu.


"Aku pergi," ucap Michael masih memegang tangan Heena, terdiam dan perlahan berjalan mundur, hingga pegangan tangannya lepas, melihat Heena masuk ke dalam rumah lebih dulu, lalu kemudian Michael berbalik berjalan menuju mobil.


Melihat ke arah rumah dimana ada dua orang kesayangannya, Michael tersenyum sebelum ahirnya menutup kaca mobil dan melajukan mobilnya.


Di tempat lain.


Di sebuah rumah yang besar, seorang pria tampan tampak melamun menatap ke arah luar sedari tadi.


Entah apa yang pria itu pikirkan, seolah memiliki beban berat, yang mampu dibaca dari sorot matanya.


Tanpa ia sadari bahwa ada yang memperhatikannya sedari tadi.


Aldebaran kenapa ya, aku lihatin melamun terus sejak tadi, batin Rengki.


Rengki berjalan mendekat, dan menepuk pundak Aldebaran." Bro!"


Aldebaran menoleh seraya membuang nafas kasar. Melihat Rengki sebentar, lalu ingin segera pergi.


Namun dengan cepat Rengki mencegahnya. "Aku tahu kamu sedang ada masalah."


Aldebaran tidak menjawab, hanya berhenti sebentar dan kemudian melanjutkan langkahnya.


Rengki yang merasa penasaran, memilih mengikuti Aldebaran kemana pun pria itu pergi.


Ternyata Aldebaran masuk ke ruang bola sodok atau biliar. Dan mulai melakukan permainannya, Rengki awalnya masih diam dan cukup melihat Aldebaran, yang seolah sedang mengalihkan masalahnya.


Namun beberapa detik kemudian, Rengki mengikuti juga permainan biliar, sambil bermain keduanya saling mulai bicara.


"Kamu yakin tidak mau bercerita." Rengki menyodok bola.


"Sapa tahu aku bisa bantu." Rengki berhasil membuat bolanya tepat sasaran, hingga membuat beberapa bola berpencar.


Aldebaran tidak lagi melanjutkan permainannya, ia berdiri tegap seraya menatap Rengki yang saat ini masih lanjut bermain.


"Aku sudah menikah." Aldebaran belum melanjutkan ucapannya, masih ingin melihat reaksi Rengki bila dia tahu Aldebaran sudah menikah.


Dan mendengar ucapan Aldebaran barusan, Rengki langsung menjatuhkan Cue yang ia pegang untuk menyodok permainan bola sodok, jatuh mengenai kakinya.


"Ka-kamu serius!" teriaknya dengan terkejut seraya meringis kesakitan di kakinya.


Aldebaran kemudian menceritakan kejadian yang membuatnya berujung sebuah pernikahannya. Kejadian di vila yang tiba-tiba ada warga datang mengatakan ia berbuat mesum, dan kebetulan di sana ada Heena, ahirnya sama-sama dibawa warga lalu dinikahkan.


Hahahah!


Rengki tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Aldebaran, yang menurutnya sangat lucu, sambil memegangi perutnya, Rengki masih terus tertawa.


Setelah puas tertawa Rengki kembali bicara, "Trus apa yang kamu pusingkan?"


Aldebaran mendesah kasar. "Aku bingung pernikahan ini sebenarnya benar atau salah."


"Bila ada kedua saksi, dan kalian itu sadar, tentu saja benar. Memang yang nikahkan kalian tidak tahu hukum," sarkas cepat Rengki.


Aldebaran kemudian memikirkan perkataan Rengki, tapi ada masalah lain yang harus ia hadapi, yaitu meyakinkan Heena dan bicara dengan putranya.


Sebenarnya Aldebaran juga tidak mau memaksa, tapi masa iya baru nikah terus bercerai, entahlah saat ini pikiran Aldebaran masih pusing, belum menemukan jalan ke luar, Aldebaran mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mending kamu cerita sama papa." Rengki berjalan menuju kursi sofa yang ada di ruangan ini.


Aldebaran juga ikutan duduk di sofa, matanya masih terlihat jelas kebingungan.


Aldebaran juga berpikir untuk bicara dengan Pamannya, namun dari kemarin masih ia urungkan, bingung juga mau memulai.


Disaat Aldebaran masih sibuk memikirkan cara untuk berbicara dengan Pamannya, tiba-tiba kembali mendengar suara tawa Rengki.


"Hahah, kalo aku lihat kalian ini lucu, dulu kalian dipisahkan, sekarang kalian disatukan, mungkin ini adalah cara terbaik." Masih ada sisa-sisa tawa Rengki menepuk pundak Aldebaran.


Aldebaran tidak bergeming, mungkin apa yang diucapkan Rengki ada benarnya, hanya saja mengapa harus seperti ini, ah lagi-lagi mungkin ini adalah cara terbaik.


Aldebaran beranjak berdiri dari duduknya dan ingin pergi dari ruangan tersebut, Rengki segera berdiri dan mengikutinya.


"Pernikahanmu ini harus segera dibicarakan, Al."


"Siapa yang menikah?"


Rengki dan Aldebaran langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang bertanya siapa yang menikah.