HEENA

HEENA
BAB 54. Mulan mengancam Heena.



Tadi malam Heena tidak bisa tidur setelah membaca pesan masuk, yang ternyata dari Mulan, wanita itu mengancam Heena, bila tidak mau meninggalkan Aldebaran, Mulan akan menyakiti keluarga Heena.


Yang menjadi kepikiran Heena sejak semalam hingga pagi ini, adalah putranya Yusuf, Heena tidak ingin terjadi hal buruk dengan Yusuf.


Hingga masalah dalam pikirannya membuat Heena tidak fokus dengan sarapannya, Ayunda yang juga ikut sarapan, menggerakkan tangannya tepat di depan wajah Heena, saat melihat Kakaknya itu melamun.


"Kak, ayo habisin sarapannya, jangan melamun." Ayunda menepuk tangan supaya Heena sadar.


Heena menyengir kuda, lalu mulai menghabiskan sarapannya.


Setelah selesai sarapan, Ayunda berangkat ke rumah sakit, Heena mengantar Adiknya itu sampai halaman rumah.


Setelah mobil yang membawa Ayunda pergi, Heena ingin kembali ke rumah, namun niatnya diurungkan karena tiba-tiba ada mobil datang.


Heena masih bingung dengan siapa yang datang pagi-pagi ini, tentu Heena hafal mobil Aldebaran atau pun mobil Michael, dan mobil yang datang ini bukan milik kedua pria itu.


Pintu mobil terbuka, tampak ke luar kaki putih mulus bersamaan sang pemiliknya seorang wanita cantik, yang menyembul keluar dari dalam mobil seraya mengibaskan rambutnya yang panjang hitam berkilau, aroma parfum wangi langsung menyeruak ke seluruh halaman rumah. Berjalan anggun berdiri tepat di depan Heena, bibirnya yang merah menarik garis lengkung tersenyum manis seraya melepas kaca mata hitam.


Mulan, gumam Heena. Jantung Heena semakin berdetak tidak karuan, Heena mundur dua langkah, masih memikirkan apa yang akan wanita ini lakukan.


Mulan mengubah senyumnya yang manis menjadi senyum sinis menatap Heena.


Heena ingin lebih baik menghindar dan masuk ke dalam rumah, dari pada harus meladeni Mulan pikirnya.


Melihat Heena yang tiba-tiba buru-buru mau masuk ke dalam rumah, Mulan langsung mengejar. "Tunggu!" Mulan berhasil mencekal pergelangan tangan Heena.


"Lepaskan!" Heena menghempaskan tangan Mulan dengan kasar.


Kini Mulan dan Heena saling menatap tajam, sama-sama marah yang menyelimuti diri masing-masing.


"Aku datang ke sini hanya untuk mastikan, kamu harus pergi dari rumah ini sekarang juga!"


Heena tersenyum sinis mendengarkan ucapan Mulan, dan melihat Heena hanya tersenyum sinis membuat Mulan semakin marah.


Mulan tidak bisa diremehkan, dan senyum sinis Heena, Mulan artikan bahwa wanita itu mengejek harga dirinya.


"Kau!" Mulan mau menampar pipi Heena, namun dengan gerakan cepat, Heena menahan tangan Mula lalu ia hempaskan dengan kasar. "Jaga tangan Anda baik-baik Nona Mulan, cukup kemarin Anda menampar saya, tapi tidak untuk sekarang!"


Ucapakan Heena yang tegas serta amarah yang terlihat jelas di wajahnya, membuat Mulan mundur dua langkah, batinnya masih belum percaya bila sosok Heena wanita lemah lembut bisa bersikap kasar padanya.


"Pergi dari rumah saya, karena sudah jelas saya tidak miliki urusan dengan Anda."


Mendengar kalimat pengusiran terhadap dirinya, tentu Mulan tidak terima, tawanya yang tadi menggelegar langsung lenyap seketika. "Kau bilang tidak ada urusan dengan saya! kau wanita murahan!"


"Jaga bicara Anda Nona Mulan!" bentak Heena dengan tangan terkepal. "Sampai kapan pun saya tidak akan pernah menuruti kemauan Anda, dan silahkan pergi!" Heena sedikit mendorong tubuh Mulan, kemudian ia masuk ke dalam rumah dan langsung menguncinya dari dalam.


"Heena sialan! buka ... buka!" Mulan menggedor-gedor pintu rumah. "Aku belum selesai bicara, buka!" teriaknya lagi.


Heena masih berdiam diri di balik pintu, untuk mendengarkan segala ocehan Mulan.


"Ingat Heena bila kau tidak menurut denganku, seluruh keluarga kamu akan aku habisi!" Mulan berteriak lagi, dan menendang pintu rumah Heena, kemudian pergi dengan perasaan marah, karena Heena berani melawannya.


Aku sudah melangkah sejauh ini, bila mereka masih terikat suami istri meski hanya nikah siri, ini tetap bahaya untuk posisi aku, aku harus segera menyingkirkan Heena, batin Mulan seraya tersenyum sinis menatap rumah Heena, sebelum ahirnya masuk ke dalam mobil dan membawa mobil tersebut pergi dari halaman rumah Heena.


Heena mematikan tombol off di rekaman, Heena sengaja berdiam diri di balik pintu karena ingin merekam suara Mulan, Heena sudah putuskan untuk tidak takut lagi pada siapa pun, dan rekaman itu akan menjadi bukti bila nanti Mulan berani berbuat sesuatu pada keluarganya.


Setelah pergi dari rumah Heena, Mulan pergi ke perusahaan Ayahnya, kini ia mau menemui Ayahnya, untuk meminta pertolongan.


Setelah beberapa menit, mobil Mulan sampai di tempat tujuan. Mulan langsung masuk ke gedung perusahaan tersebut dengan langkah cepat.


Sampai lift langsung menekan tombol tempat ruang Ayahnya berada, lift membawa dirinya naik ke atas, setelah lift terbuka Mulan langsung berjalan cepat masuk ke ruang Ayahnya.


"Ayah."


Pak Muklis yang saat ini sedang bekerja, langsung mengalihkan tatapannya pada putri tercintanya.


Mulan mendekati Ayahnya, dan langsung melingkarkan tangannya di leher Ayahnya yang sedang duduk.


"Ayah, tolong bantu aku supaya Aldebaran mau menikahiku secepatnya."


Mendengar ucapan Mulan, Pak Muklis menarik tangan Mulan untuk berdiri tepat di hadapannya, Pak Muklis menatap wajah putrinya dengan menghela nafas panjang.


Rasa cinta posesif putrinya untuk Aldebaran selalu meresahkan dirinya, hingga saat ini dirinya merasa terus terbebani dengan permintaan Mulan.


"Mulan, sayang kamu harus sabar, jangan sampai Aldebaran curiga bila kamu tidak sabar?" Pak Muklis menjelaskan dengan lembut supaya Mulan dapat menerima.