
"Kak Heena di mana? aku mendatangi rumah kak Heena tapi tidak ada orang, dan terlihat kotor seperti sudah beberapa hari tidak kak Heena tempati. Ayunda khawatir dengan kak Heena, kak Heena di mana?"
Bunyi pesan masuk yang Ayunda kirim ke Heena, raut wajah Heena langsung berubah tidak enak hati, karena semua serba dadakan saat pindahan kemarin, jadi belum sempat menghubungi Ayunda, bahkan beberapa barangnya masih ada di rumah yang dulu.
Heena kemudian membalas pesan dari Ayunda, Heena memberitahu alamat rumah yang sekarang, dan akan menjelaskan semua nanti saat sudah bertemu.
Aldebaran yang melihat wajah Heena sedikit cemas, jadi ingin tahu apa sebabnya.
"Siapa?" tanya Aldebaran sembari menatap wajah Heena.
"Ayunda, dia ingin bertemu aku, dan aku pinta untuk datang ke rumah," jelas Heena setelah selesai mengirim pesan ke Ayunda.
Aldebaran mengangguk. "Tapi kita sekeluarga masih di sini."
"Iya tadi aku mengatakan sore hari aku suruh datang, seperti itu." Heena tersenyum. Heena tidak menyangka rasanya baru kali ini bicara panjang lebar dengan Suaminya sendiri, memang lucu sih kedengarannya, tapi memang seperti itu faktanya.
Di halaman yang luas, di atas rerumputan hijau, semua anak-anak bermain di sana, ada juga beberapa pohon sehingga membuat tempat tersebut teduh dan nyaman.
Sementara para orang dewasa duduk di teras sambil memantau anak-anak yang sedang bermain.
Dari arah sini Heena bisa melihat bahwa saat ini Yusuf sedang ceria bermain bersama teman-teman barunya.
Sementara Bibi Sekar sedang mengobrol juga dengan Ibu Cece dan dua ibu panti asuhan yang lainnya.
Tiba-tiba mendengar suara ribut-ribut anak kecil, Ibu Cece dan Heena langsung berjalan mendekati.
"Ini mainan aku jangan ambil mainan aku!" bentak anak kecil yang merasa memiliki mainan itu.
"Bukan! ini mainan milik aku!" Anak kecil satunya tidak mau kalah.
Mereka berdua terus tarik menarik mainan itu, sampai Heena dan Ibu Cece tiba di dekat mereka dan memisah mereka.
"Hei ingat tidak boleh berantem, kalo nanti berantem, mainannya akan Ibu ambil." Ibu Cece menasehati dua anak kecil tersebut, dan ahirnya menurut, anak kecil yang satunya mengalah memang bukan mainannya, dan dia tadi hanya ingin minjam tapi tidak boleh.
"Di sini bermain bersama-sama, tidak boleh ada yang berantem, apa kalian mengerti?" jelas Ibu Cece lagi seraya menatap dua anak kecil tersebut.
"Ayo, saling minta maaf." Heena menimpali, tersenyum dan sedikit membungkuk untuk melihat jelas wajah dua anak itu.
Dan setelah itu mereka berdua saling memaafkan lagi, dan bermain bersama-sama lagi dengan anak kecil lainnya.
Setelah mereka berdua tadi yang berantem tidak ada yang berantem lagi, anak-anak bermain dengan tenang sampai tiba siang hari, Heena bersama keluarganya harus pamit pulang.
"Terimakasih ya Bu Sekar dan sekeluarga sudah mau mengunjungi dan mengadakan acara syukuran di sini, saya melihat Anak-anak terlihat sangat bahagia." Ibu Cece bicara, kemudian saling memeluk Bibi Sekar dan juga Heena.
Semua sudah pamitan, bersama anak-anak juga sudah berpamitan, melambaikan tangan sebelum Heena dan yang lain masuk ke dalam mobil.
Anak-anak panti dan ibu-ibu pengurus panti terus melihat mobil sampai menghilang dari pandangan mata mereka.
"Mama ... kapan-kapan kita main ke sini lagi ya?" tanya Yusuf dengan antusias, yang saat ini sedang duduk di pangkuan Heena di dalam mobil.
"Yusuf senang main ke sini?"
Bukan Heena yang bertanya tapi Bibi Sekar seraya memegang tangan Yusuf.
Heena tersenyum mendengar cerita Yusuf, tangannya mengusap-usap kepala Yusuf, merapihkan rambut Yusuf.
"Kita langsung pulang? atau mau mampir ke restoran dulu?" Aldebaran bertanya dengan masih fokus mengemudi, tanpa melihat orang yang di ajak bicara.
"Langsung pulang saja Al, Bibi sudah beri tahu pelayan untuk masak makan siang." Bibi Sekar menjelaskan seraya menatap Aldebaran yang masih fokus mengemudikan mobil.
Mobil kembali melaju dengan tenang, Yusuf mulai mengantuk, Heena menyandarkan punggung putranya supaya nyaman tidurnya.
Bibi Sekar dan yang lainnya juga mulai memejamkan matanya, hanya Heena dan Aldebaran yang masih terjaga, dan menyisakan kesunyian.
Heena jadi kepikiran Ayunda, tadi gadis itu mengatakan sangat khawatir padanya, sebenarnya Heena juga khawatir sama keadaan Ayunda, apa lagi Ibu Jamilah yang katanya masih terus memaksa Ayunda untuk menikah dengan aki-aki tua untuk melunasi hutang.
Tapi Heena percaya sih bila Ayunda cerdas dan terus bisa melawan ibunya sendiri.
Lamunan Heena terbuyarkan saat mendengar suara bunyi hp, Heena mengangkatnya dan langsung mendengar suara Ayunda di sambungan telepon, yang mengatakan sudah sampai rumah tempat alamat yang Heena kasih.
Heena mengatakan tunggu beberapa menit juga akan sampai di rumah. Sambungan telepon kemudian terputus, Heena kembali menyimpan handphonenya.
Di rumah Paman Syafiq, Ayunda saat ini sedang berdiri di teras rumah, setelah tadi diijinkan masuk oleh satpam.
Ayunda melihat-lihat rumah yang tampak besar tersebut. "Kak Heena serius tinggal di sini, emmm apa mungkin ini rumah kak Aldebaran." Ayunda masih menerka-nerka, dan tidak mau pusing lebih baik duduk sambil menunggu Heena datang.
Dan setelah menunggu selama tiga puluh menit lebih, ahirnya mobil yang ditumpangi Heena memasuki pelataran.
Ayunda seketika berdiri untuk menyambutnya, Heena ke luar mobil sembari menggendong Yusuf yang lagi tidur, kemudian yang lainnya juga menyembul ke luar mobil bersama.
Heena yang saat ini sudah berdiri di teras depan Ayunda, langsung mengajak Ayunda masuk ke dalam.
Ayunda menunggu di ruang tamu, sementara Heena membawa Yusuf ke kamar dulu, sambil menunggu Heena datang, Bibi Sekar mengajak Ayunda mengobrol.
"Kamu adiknya, Heena?" tanya Bibi Sekar yang saat ini sudah duduk di kursi sofa di depan Ayunda.
Ayunda tersenyum dan mengangguk kecil.
"Sepertinya Bibi pernah melihat kamu." Bibi Sekar berusaha mengingat-ingat.
Ayunda mengerutkan keningnya. "Apa mungkin di rumah sakit?"
"Ah, iya benar! di rumah sakit." Bibi Sekar baru ingat, bila pernah melihat Ayunda di rumah sakit.
"Bila begitu benar Bu, karena saya dokter di rumah sakit yang biasa ibu datangi." Ayunda menjelaskan, kenapa Ayunda bisa tahu, karena Bibi Sekar termasuk pasien yang sering ia lihat di rumah sakit tempat Ayunda bekerja. Tapi bukan pasien yang Ayunda tangani, karena Ayunda bagian dokter operasi.
"Hah, Bibi sudah tua jadi pelupa." Bibi Sekar menepuk jidatnya sambil terkekeh. Heena menyembul datang dari dalam, dan setelah Heena tiba Bibi Sekar masuk ke dalam karena ingin istirahat ucapnya.
"Dek, kamu baik-baik saja kan?" tanya Heena panik seraya menggenggam tangan Ayunda, yang saat ini duduk di samping Ayunda.
"Harusnya aku yang bertanya pada kak Heena." Ayunda protes dengan bibir mengerucut dan kemudian mereka saling berpelukan.
Dari tempat mereka duduk sekarang, ada orang melihat ke arah mereka dengan kening berkerut.