HEENA

HEENA
BAB. 31. Michael merasa cemburu.



Di ruang kamar, seorang pria ke luar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk warna putih yang melingkar di pinggangnya, tampak kaki jenjangnya yang berjalan menuju ruang ganti, tangannya meraih kaos dalaman yang sudah di siapkan lalu ia memakainya, berganti memakai celana panjang, lalu memakai kemeja putih dan memakai jas hitam. Melakukannya semua dengan gerakan elegan.


Tangganya meraih dasi yang pas lalu ia gunakan, pria itu berganti membuka lemari sepatu dan memilih warna sepatu yang ia inginkan, ia mengambil sepasang sepatu dan ia gunakan, berjalan mendekati cermin, pria itu menyisir rambutnya dengan rapih, lalu berjalan ke arah samping tempat di mana deretan jam mewah, tangannya mengambil salah satu lalu ia gunakan.


Beralih menatap parfum lalu ia mengambil dan menyemprotkan parfum itu ke seluruh tubuh dengan gerakan dramatis.


Menatap diri dari pantulan cermin, wajah datar serta bibir merah alami, pandangan mata sedalam lautan, membenahi jasnya kemudian balik badan lalu berjalan ke luar kamar.


Sampai di teras Mansion, langkahnya terhenti saat disapa oleh Sepupunya.


"Al, jam berapa nanti kamu pulang."


"Larut sepertinya." Aldebaran menjawab acuh dan langsung melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil.


"His dia, pergi tidak mengajak-ajak aku!" Rengky bersungut seraya menjatuhkan tubuhnya duduk di kursi kembali.


Mobil Aldebaran sudah berjalan ke luar Mansion. Membelah padatnya jalanan di malam hari, tidak butuh waktu lama, mobil sampai di butik yang siang tadi ia datangi.


Aldebaran membuka setengah kaca mobilnya, kini ia bisa melihat dengan jelas Heena sedang berdiri menunggunya.


Gaun warna krim yang Heena kenakan menambah keanggunan dan kelembutan wanita itu, Heena berjalan menuju mobil Aldebaran.


Heena yang merasa tidak nyaman ia memilih ingin duduk di belakang, tangannya sudah memegang handel pintu tapi terhenti.


"Duduk depan!"


Terdengar suara perintah yang tidak mau di bantah,Heena ahirnya mengalah dan dengan berat hati ia membuka pintu depan dan duduk di samping Aldebaran.


Aldebaran langsung melajukan mobilnya ke tempat tujuan.


Heena menunduk, ia benar-benar merasa grogi seraya meremat jari-jemarinya.


Selama perjalanan tidak ada yang bersuara, Aldebaran juga hanya fokus mengemudi tanpa ingin membuka percakapan.


Hanya dengkuran nafas yang terdengar dari keduanya, dengan menempuh kurang lebih empat puluh menit, mobil sampai pada tujuannya.


Sebuah gedung menjulang tinggi, sebelahnya adalah pusat perbelanjaan. Heena ke luar mobil ia menatap ballroom hotel yang sudah banyak pengunjung.


Aldebaran berjalan lebih dulu yang langsung Heena ikuti dari belakang.


Sampai di pintu Aldebaran menghentikan langkahnya seraya balik badan melihat Heena. "Kita ke lantai lima belas dulu, untuk bertemu tuan Mamad."


"Baik, Tuan."


Keduanya kembali berjalan menuju lantai lima belas.


Heena dan Aldebaran masuk dalam lift, sebuah lift berkaca transparan hingga Heena di dalam sana bisa melihat para orang-orang di bawah sana.


Lantai lima belas.


Heena dan Aldebaran ke luar lalu berjalan menuju ruangTuan Mamad.


"Aldebaran." Tuan Mamad menyambut saat Aldebaran dan Heena sudah dipersilahkan untuk masuk.


Aldebaran dan Tuan Mamad berpelukan, kemudian Tuan Mamad mempersilahkan Aldebaran beserta Heena untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


Keduanya terikat perbincangan cukup lama, tanpa Heena mau ikut campur.


Namun Aldebaran tidak menutupi bila Heena mau menguping juga tidak masalah, Tuan Mamad adalah orang yang nanti akan membantunya untuk meretas data-data yang nanti akan menjadi barang bukti kasus pembunuhan Papa Bagas.


Sekitar ada tiga puluh menit pembicaraan keduanya, Aldebaran ijin pamit yang diikuti oleh Heena.


Lift membawa keduanya turun ke lantai dua tempat acara pesta antar bisnis.


Ruang lift terbuka, Aldebaran ke luar lebih dulu dan berjalan, di depan pintu lift Heena mematung saat matanya menatap sosok yang sangat ia kenal.


Michael juga hadir di pesta ini bersama Mawar, bukan rasa cemburu tapi melihat mereka berdua mengingatkan lukanya.


Tatapan Heena masih mengunci mengarah pada mereka berdua yang terlihat begitu mesra, tanpa peduli pada sosok pria yang saat ini berdiri di hadapannya.


Hingga suara dehheman keras dari pria itu mampu menyadarkan lamunan Heena.


"Tuan, maaf maaf." Heena menutup mulutnya seraya menunduk.


Aldebaran menghela nafas kasar, ia tahu ke mana arah pandangan mata Heena tadi, Heena yang masih menunduk terkejut dan langsung mendongakkan wajahnya menatap Aldebaran saat pria itu meraih lengan tangan Heena dibawa melingkar ke lengan kokohnya.


Aldebaran mendekatkan wajahnya ke telinga Heena. "Jangan lepaskan sebelum aku meminta."


Heena mematung masih mencerna maksud perkataan yang baru ia dengar, sementara Aldebaran membawa Heena untuk berjalan namun tiba-tiba ada empat orang wartawan yang datang menghampirinya.


Seketika langkah kaki keduanya terhenti, salah satu wartawan melempar sebuah pertanyaan.


"Tuan Aldebaran, bagaimana bisnis Anda yang baru ini?"


Kamera menyorot wajah Heena dan Aldebaran, dan hal ini menarik perhatian orang-orang yang ada ruangan tersebut, bahkan Michael dan Mawar juga ikut menatap ke arah mereka.


Aldebaran mengusap lengan Heena yang melingkar di lengannya, seraya menatap ke arah Michael pria yang Aldebaran kenal adalah mantan suami Heena.


Bibir Aldebaran menyungging senyum sinis saat tatapan matanya bertemu dengan mata tidak suka milik Michael.


"Usaha baru kami sudah jauh lebih baik." Aldebaran tersenyum menatap kamera yang berlomba-lomba mengambil gambarnya.


Dan setelah beberapa pertanyaan yang wartawan lemparkan, kini wartawan tersebut ingin menanyakan satu hal dengan takut-takut.


Michael masih menatap ke arah Aldebaran dan Heena.


"Apakah Nona cantik ini kekasih, Tuan?"


Deg!


Heena dan Michael yang juga mendengar pertanyaan itu langsung terkejut.


Sementara wartawan yang baru berbicara langsung membekap mulutnya sendiri, takut laki-laki di hadapannya akan marah.


Namun ternyata tidak seperti yang wartawan itu pikirkan, Aldebaran tersenyum manis, sangat manis, rasanya kamera tidak akan sampai ketinggalan pemandangan yang langka itu.


"Dia teman aku." Aldebaran meletakkan tangannya di lengan Heena seraya tersenyum manis ke arah Heena.


Jawaban Aldebaran sudah membuat hati karyawan merasa puas, mereka terus pergi. Heena dan Aldebaran berjalan menuju tempat duduk para pengunjung pesta ini.


Melihat kepergian Heena bersama pria lain, membuat hati Michael merasa terbakar, baru kali ini ia melihat Heena bersama laki-laki lain, Michael yang tiba-tiba marah hingga tidak mempedulikan Mawar yang juga merasa kesal karena wanita itu dirinya cuekin.


Michael berjalan ke arah lain meninggalkan Mawar.


"Heena lagi, Heena lagi!" umpatan kesal Mawar yang selalu menyalahkan Heena.


Meski hatinya juga kesal terhadap Michael, namun wanita itu juga tetap mengejar pria yang sebagai status suaminya itu.


Mawar yang sudah mulai mensejajari langkah Michael, ia langsung meraih tangan pria itu. "Kau sebenarnya kenapa? hah!"


Michael tidak fokus dengan pertanyaan Mawar, kini matanya malah menatap wanita yang sudah menjadi mantan Istri, terpaku dengan kecantikan Heena malam ini yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan teman wanita.