
Dari arah pintu panti asuhan, Ibu Cece berjalan cepat mendekati anak kecil itu.
"Ibu Sekar, maafkan anak kami," ucap Ibu Cece setelah berdiri di samping anak kecil itu, Bibi Sekar tersenyum lalu mengangguk, tadinya ia pikir akan menggendongnya lalu diserahkan pada Ibu Cece, namun ternyata Ibu Cece lebih dulu datang.
"Nesya sayang, ayo masuk ke dalam?" ucap Ibu Cece yang saat ini tengah berjongkok mensejajarkan tinggi Nesa yang baru usia tiga tahun.
Setelah Nesya mengangguk Ibu Cece menggendongnya, lalu melihat ke arah Bibi Sekar dan Heena, mengangguk kecil sebelum ahirnya Ibu Cece berjalan masuk ke dalam panti asuhan.
Tiba-tiba Heena merasa sedih, saat teringat dirinya bukan anak kandung Ibu Jamilah, dan merasa kasihan pada semua anak di pantai asuhan, yang pasti masa lalu mereka juga tidak jauh beda dengan dirinya, yang dibuang ibu kandungnya sendiri.
Meski sejauh ini Heena juga belum tahu alasan apa yang membuat dirinya di buang, tapi Heena tidak ingin mencari tahu soal itu, karena hanya akan menambah luka hatinya bila kenyataannya lebih menyakitkan.
Yang penting sekarang Heena sudah menemukan keluarga baru, yang mencintai dan menyayangi dirinya, bahkan menerima segala kekurangannya.
Heena tersenyum ke arah Bibi Sekar, lalu mengandeng tangan Bibi Sekar, berjalan bersama menuju mobil.
Heena sudah putuskan akan menjaga rumah tangganya yang kali ini, bahkan minta maaf duluan pada Aldebaran di dalam hati, bahwa dirinya tidak akan membiarkan wanita manapun mendekati Aldebaran, cukup bagi Heena kisah masa lalu bersama mantan suami menjadi sebuah pelajaran.
Rumah tangganya hancur karena kehadiran orang ketiga, tapi untuk kali ini tidak akan Heena biarkan, pokoknya Heena akan terus berada di samping Aldebaran, akan ia tunjukan bahwa dirinya adalah Nyonya Al-Gazali istri Aldebaran.
Dengan menatap ke arah luar melalui jendela mobil, Heena terus berada dalam pikirannya sendiri.
Sementara Bibi Sekar kini sedang tertidur, yang mungkin karena kelelahan.
Perjalanan yang rumayan jauh dan melelahkan, ditambah bumi sedang diguyur air hujan, membuat perjalanan mobil tidak bisa melaju cepat.
Ternyata sampai rumah sudah cukup siang, tepat pukul satu siang hari, karena tadi perjalanan juga macet, dan sedikit menghambat waktu.
Baru saja Heena melangkahkan kaki di pintu masuk, handphonenya bunyi, yang ternyata telfon dari Ane yang mengatakan bahwa Yusuf akan datang sore nanti.
Kebetulan sekali, sekalian besok aku mengajak Yusuf, gumam Heena dalam hati, setelah sambungan telepon terputus.
Dan benar saja, setelah tiba sore hari, Yusuf dan Ane datang, mereka berdua naik taksi.
"Sayang, kmu sudah bilang papa belum, jika mau datang ke sini?" tanya Heena yang saat ini berjongkok di depan Yusuf, yang baru masuk di dalam ruang tamu.
"Sudah Mama, kata papa boleh," sarkas cepat Yusuf dengan antusias.
"Mama kangen banget," ucap Heena seraya memeluk Yusuf dengan erat.
Bibi Sekar datang dari dalam. "Hei ada anak tampan, sini salim dulu dengan, Oma."
Yusuf kemudian berjalan mendekati Bibi Sekar lalu mencium punggung tangan Bibi Sekar. "Anak pintar," ucap Bibi Sekar seraya tangan kirinya mengusap puncak kepala Yusuf.
"Mau ikut Oma, Oma punya mainan banyak lho buat, Yusuf."
"Mau Oma." Yusuf menjawab dengan antusias, Bibi Sekar dan Heena tergelak tawa melihat wajah Yusuf yang menggemaskan.
"Mari ikut Oma." Setelah berkata seperti itu, Bibi Sekar mengajak Yusuf ke sebuah ruangan yang sudah Bibi Sekar sulap menjadi tempat mainan, Yusuf langsung melompat kegirangan saat melihat ruangan penuh mainannya.
"Yusuf suka?"
"Suka Oma." Yusuf menjawab dengan masih melompat-lompat.
Bibi Sekar kemudian meraih tangan Yusuf supaya berhenti melompatnya.
Bibi Sekar menemani Yusuf bermain, sampai tiba malam hari, dan baru berhenti saat tibamakan malam, selesai makan malam, Heena mengajak Yusuf masuk ke dalam kamar, lalu menidurkan putranya itu.
Niat hati Heena ingin bicara dengan Aldebaran malam ini setelah Aldebaran pulang, tapi karena lelah juga Heena ikutan tidur bersama Yusuf.
Dan saat Aldebaran pulang ke rumah, saat baru membuka pintu kamar, ia mendekati ranjang, dan kini ia melihat Heena tidur bersama Yusuf.
Aldebaran tersenyum kecil, sebelum ahirnya membersihkan diri lalu tidur setelah selesai.
Malam yang panjang pun telah terlewati dengan mimpi-mimpi yang indah.
Semua orang kini sudah siap dan sudah rapi, hari ini adalah ahir pekan, menghadiri acara syukuran di panti asuhan dan sekalian jalan-jalan.
Aldebaran sebagai pengemudi, dan di belakang mobil yang Aldebaran kendarai, ada mobil pickup yang membawa kotak nasi yang akan di bagi-bagikan di sana nanti, sementara di bagasi mobil yang Rengky kendarai ada banyak mainan anak-anak.
Pagi itu perjalanan cukup lancar, dan setelah sampai di tempat tujuan, Ibu panti dan seratus anak panti menyambut kedatangan keluarga Paman Syafiq.
Setelah semua ke luar mobil, mereka semua saling berjabat tangan, setelah itu pembagian mainan untuk anak-anak, setiap anak mendapat satu mainan, gadis kecil kemarin bernama Nesya mendapat boneka Barbie yang memberi Yusuf.
Yusuf jadi malu-malu saat diledekin, dan menyembunyikan wajahnya dengan memeluk kaki mamanya.
Setelah selesai pembagian permainan, berganti bagi-bagi nasi kotak yang akan diberikan setiap anak satu kotak nasi.
Yusuf ikutan membantu lagi, bukan waktu yang cepat membagi-bagikan kotak nasi ke seratus anak, meski begitu tetap bahagia dalam hati.
setelah semua sudah terbagi, saatnya semua orang beristirahat. Yang ternyata Ibu panti sudah mempersiapkan duduk untuk kami semua.
Obrolan ringan dimulai, semua orang tampak bahagia melihat keceriaan anak-anak. Heena menangkap senyum tulus Aldebaran yang saat ini sedang melihat anak-anak bermain, di sana juga ada Yusuf yang ikutan bermain.
Saat Heena masih menatap lekat wajah Aldebaran, tiba-tiba mendapat pesan masuk, dan setelah membaca seketika raut wajah Heena berubah tidak terbaca.