HEENA

HEENA
BAB 135. Bertemu adik.



"Kamu," ucap Heena dengan wajah bingung, karena ini baru pertama kali melihat pria yang berdiri di sampingnya itu, dan itu wajar karena dirinya baru satu hari tinggal di rumah ini, dan tadi malam melewatkan makan malam bersama, tadi saat sarapan juga tidak melihat pria itu, jadi Heena baru lihat sekarang.


"Kak Heena." Pria itu bicara mengenali nama Heena, Heena yang namanya tiba-tiba di sebut oleh pria itu semakin bingung, dan berpikir siapa pria ini, mengapa tahu namaku, dan bila di lihat dari penampilannya dia bukan seperti seorang pelayan, apa jangan-jangan batin Heena menduga-duga.


Melihat Wanita yang duduk di kursi di depannya, pria itu hanya tersenyum kecil lalu menjelaskan, "Namaku Rexci, aku adalah adik Kak Heena, anak kedua Ayah dari ibu Mala."


Heena menghela nafas, kini ia baru tahu siapa laki-laki ini, dan wajar aja bila dia mengenal dirinya, mungkin Ayahnya yang bercerita.


"Iya." Heena tersenyum, bingung juga mau bicara apa lagi, namun sepertinya Rexci masih ingin bicara dengan Heena, Rexci mengajak Heena untuk jalan-jalan ke taman belakang.


Sampai di taman belakang, Heena memandang takjub keindahan taman ini, taman buatan yang benar-benar terlihat sangat indah, bahkan banyak sekali kupu-kupu berterbangan, melihat itu Heena berasa seperti anak kecil lagi, Rexci terkekeh kemudian mengajak Heena untuk duduk di bangku taman.


Di sini udara sangat sejuk, apa lagi bangkunya di bawah pohon rindang, hembusan angin terasa sepoi-sepoi.


"Jujur Kak, sebenarnya aku tidak suka dengan sikap Ayah, mungkin Kak Heena baru sebentar tinggal bersama Ayah, jadi Kak Heena belum terlalu mengenal Ayah." Rexci menatap lurus ke depan.


"Apa Ayah sering memarahi kamu?"


Mendengar pertanyaan Heena Rexci menggeleng, bukan soal memarahi, tapi Ayah dan Ibunya melakukan pemujaan, dan Rexci tidak suka perbuatan kedua orangtuanya itu, dan saat ini Rexci tahu apa yang direncanakan Ayahnya itu, yaitu akan menukar jiwanya dengan jiwa kak Heena, Rexci lebih milih mati dari pada harus Kak Heena yang di korbankan, itu lah alasannya saat ini dirinya mengajak Heena bicara.


"Ayah orang egois, aku hanya tidak suka itu." Rexci menjawab itu saja, ia tidak bercerita soal Ayah dan Ibunya yang melakukan pemujaan.


"Sebaiknya Kak Heena tidak usah turuti semua kemauan Ayah, Kak Heena abaikan saja." Rexci menatap wajah Heena. "Sebelum Kak Heena menyesal, percayalah apa pun yang Ayah katakan semua itu bohong." Rexci berhenti bicara beralih menatap ke depan. "Kak Heena boleh tidak percaya, tapi aku yang sudah lama bersama Ayah."


Heena yang mendengar dan sekaligus melihat wajah Rexci, pria itu terlihat sangat serius setiap kalimat yang keluar dari bibirnya, tapi bukan Heena tidak mau mengikuti perintah Tuan Bara, karena memang kedatangannya ke mari untuk memecahkan masalah yang mengganjal di hatinya.


Bila dirinya mengikuti kemauan Rexci berarti Heena tidak akan tahu yang sebenarnya sampai kapan pun, meski saran Rexci padanya itu baik.


"Rexci, terimakasih kamu sudah menghawatirkan aku." Heena tersenyum, Rexci menoleh ke arah Heena. "Aku juga bersyukur bisa bertemu Kak Heena sebelum aku pergi."


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Heena dengan penuh menuntut.


"Usiaku tidak lama lagi."


"Kamu sakit?" tanya Heena dengan panik, dan reflek punggung tangannya di letakkan di kening Rexci. Tidak panas gumam Heena.


Rexci tersenyum seraya menurunkan tangan Heena. "Iya Kak, lagian siapa tahu dengan yang namanya hidup, Kak."


Rexci lebih milih bohong mengatakan sakit, dari pada jujur bila dirinya adalah anak yang akan di bawa iblis setelah usiannya genap dua puluh lima tahun. Rexci tidak mau membuat Heena takut tinggal di sini.


"Apa sudah kamu obatkan?" tanya Heena dengan wajah sangat kasihan melihat Rexci.


Rexci hanya menjawab dengan anggukan kecil, dan berharap Heena bisa percaya, karena Rexci tidak mau ada yang dikorbankan, biarlah dirinya saja yang pergi.


Pagi menjelang siang itu obrolan keduanya terhenti saat Rexci di panggil oleh sang ibu, Heena juga ikut masuk ke dalam rumah.


Saat ini Heena berada di dalam kamar Ibu Tiara. Sementara Rexci saat ini sedang bicara bersama Ibunya di salah satu ruangan.


Ibu Tiara yang saat ini ditemani Leha, bibirnya tersenyum saat melihat Heena masuk ke dalam kamarnya.


Heena duduk di pinggiran ranjang samping ibunya berbaring. Melihat Ibunya yang sakit seperti ini hati Heena terkoyak, wanita yang melahirkan dirinya hingga dirinya ada di dunia ini, ternyata merasakan sakit bertahun-tahun.


Heena jadi bertanya dalam benaknya apakah Ayahnya selalu berbuat baik, apakah ucapan Ayahnya tidak bohong, tapi mengapa Rexci bicara seperti itu tadi padanya.


Sebagai Anak pasti Heena ingin melihat Ibunya sembuh, meski harus melewati jalan ritual, asal Ibunya beneran sembuh.


Melihat putrinya yang terus menatap lekat wajahnya dan terlihat seperti banyak beban, Ibu Tiara bersuara, "Ada apa, Nak. Apa ada yang kamu pikirkan saat ini?" tanya Ibu Tiara penuh khawatir.


"Sudah kemana saja Ibu berobat selama ini, mengapa Ibu tidak sehat." Heena tangisnya pecah, Ibu Tiara berusaha duduk lalu memeluk Heena, mengusap punggung Heena supaya tenang.


Dalam hati Ibu Tiara bingung mau menjawab apa, karena kenyataannya selama ini ia tidak pernah berobat kemana pun, dan ahirnya lebih memilih bohong supaya anaknya percaya.


"Sudah berobat kemana pun sayang, sudahlah namanya juga Ibu sudah tua, jadi wajar." Ibu Tiara menjawab lembut sembari tangannya mengusap rambut Heena.


Ibu Tiara melerai pelukannya lalu menangkup wajah Heena, yang kini basah air mata.


"Ibu sudah ikhlas, jangan pikirkan macam-macam." Ibu Tiara tersenyum, Heena juga membalas senyuman Ibunya.


Heena tidak akan tanya-tanya lagi, karena tidak ingin membuat ibunya semakin sedih, Heena tahu bila saat ini Ibunya tengah pura-pura tegar.


Heena menciumi punggung tangan Ibu Tiara berkali-kali, Ibu Tiara merasakan punggung tangannya basah terkena teras air matanya Heena.


Sing hari ini setelah jam makan siang dan memberi obat untuk Ibu Tiara, Heena tidur di samping Ibunya, hal yang sangat ingin Heena rasakan, tidur di samping ibunya, dahulu dirinya juga sering melakukan hal ini saat masih tinggal bersama Ibu Jamilah.


Dan kini Heena ulangi lagi bersama Ibu kandungnya sendiri, dengkuran halus Ibunya mulai Heena dengar, Heena tersenyum mendapati Ibunya sudah terlelap, Heena kemudian ikut tidur juga.


Bila Heena dan Ibunya siang ini tengah istirahat siang, berbeda dengan dua orang yang berada di ruangan lain, perdebatan mereka belum selesai, dan tidak ada yang mau mengalah.