
Keesokan harinya sepulang dari mandi Heena dan Aldebaran kembali ke ruang rawat Ibu Fatima, sampai di sana melihat dokter dan dua perawat yang baru keluar dari dalam ruang rawat itu.
Dokter mengatakan bila Ibu Fatima sudah sadar, dan setelah itu Heena dan Aldebaran langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan Ibu Fatima.
Ibu Fatima sudah sadar saat ini sedang berbicara dengan Lulu, tangannya mengusap wajah Lulu dan Lulu masuk dalam pelukannya.
Melihat itu Heena tersenyum kecil, karena sangking bahagianya melihat Ibunya sadar, sampai tidak menyadari bila di ruangan ini ada orang lain.
Lulu yang tiba-tiba menoleh baru tahu bila ada Kak Heena dan suaminya. Lulu memberikan waktu untuk Kak Heena mendekati Ibunya.
Heena mendekat lalu mencium punggung tangan Ibu Fatima, tangan Ibu Fatima mengusap puncak kepala Heena.
"Sheila," ucap lirih Ibu Fatima, Heena mendongakkan kepalanya menatap wajah Ibu Fatima yang tersenyum.
Heena mengulurkan tangannya mengusap sudut mata Ibu Fatima yang basah. "Ibu tenanglah jangan menangis."
Heena bicara lembut dan tersenyum, kemudian duduk di kursi samping ranjang pasien, suster datang memberikan bubur sarapan, Heena kemudian menyuapi Ibu Fatima.
Keadaan Ibu Fatima masih lemah, itu sebabnya Ibu Fatima harus banyak istirahat supaya secepatnya sembuh.
Setelah selesai sarapan, Ibu Fatima kembali tidur, dan pagi ini Heena pamit dengan Lulu bahwa akan kembali ke kota, dan akan kembali lagi nanti.
Siang itu Heena dan Aldebaran suda sampai di rumah Paman Syafiq, bila Heena masuk ke dalam rumah, Aldebaran langsung melajukan kembali mobilnya menuju perusahaan.
Kedatangan Heena langsung disambut oleh Bibi Sekar. "Heena kamu sudah pulang?" Bibi Sekar langsung memeluk Heena.
Kemudian mengajak Heena duduk untuk mendengarkan ceritanya yang sudah terjadi di sana, karena melihat wajah Heena yang pulang terlihat sedih seolah memikul beban berat, membuat Bibi Sekar menjadi khawatir.
"Bagaimana, apa kamu sudah mendapat jawaban yang membuat dirimu yakin?"
Mendapat pertanyaan seperti itu dari Bibi Sekar, Heena menggeleng, lalu menceritakan semua kejadian waktu di sana.
Di saat dirinya dan Aldebaran baru sampai melihat Ibunya Lulu yang ternyata sakit, kemudian membawanya ke rumah sakit dan baru sadar tadi pagi.Namun Heena tidak menceritakan soal virus, baginya apa yang dirinya ceritakan tadi sudah cukup untuk Bibi Sekar tahu.
Ibu Sekar mengangguk mengerti, kemudian meminta Heena untuk istirahat karena terlihat jelas wajahnya yang kelelahan.
Heena berjalan menaiki tangga menuju lantai kamarnya berada, langkah terasa berat kepalanya juga terasa berdenyut, sampai di lantai dua Heena berpegangan dinding seraya terus melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Sampai di dalam Heena langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian terlelap.
Pukul enam sore, Heena yang sudah bangun tidur, saat ini dia sedang membuat teh hangat di dapur.
Setelah teh hangat jadi Heena membawa ke meja ruang makan, lalu duduk di sana, jam segini rumah ini masih sepi karena yang kerja belum pada pulang.
Bibi Sekar juga sedang keluar keterangan dari pelayan yang Heena temui tadi.
Heena menghidupkan handphone yang sedari tadi mati, seketika Heena melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab tentu dari nomor Ane.
Heena tersenyum sudah menduga pasti Yusuf merindukannya, dan benar saja saat sambungan telepon Heena diangkat suara pertama yang Heena dengar adalah suara putranya Yusuf.
"Mama ..."
"Mama kemana aja, Yusuf mau ketemu Mama, Yusuf kangen sama, Mama."
"Maaf sayang, Mama lagi ada urusan beberapa hari ini, besok Mama akan datang."
Mendengar ucapan Mamanya, wajah Yusuf tersenyum. "Baik, Mama."
Yusuf kemudian bercerita tentang sekolahnya dan juga teman barunya yang datang dari pindahan sekolah.
Mendengar putranya mau bicara banyak hati Heena menghangat, sampai ahirnya telepon harus dimatikan karena Yusuf harus belajar malam bersama Ane.
Heena meminum teh hangat yang tadi ia buat, dan tiba-tiba teringat Lulu, Heena menghubungi Lulu untuk tahu kabar gadis itu dan Ibu Fatima.
Lulu menceritakan bahwa keadaan ibunya semakin membaik, mendengar itu Heena bernafas lega, dan rencana setelah Ibu Fatima baikan, Heena akan bertanya mengenai dirinya.
Saat ini Heena terdiam diri seraya berpikir langkah apa yang harus ia ambil, karena sangat ingin bila Ibu Fatima harus sembuh.
Terlepas masa lalu mungkin dirinya yang pernah ditinggalkan, tapi tidak ada dendam di hati Heena, wanita itu sudah memaafkan dan saat ini ingin membantu mencarikan obat untuk Ibu Fatima supaya sembuh sakitnya.
Sampai malam pun Heena tetap sendiri di meja ruang makan, bahkan makan malam ini Heena sendirian, tidak tahu Bibi Sekar akan pulang jam berapa, Paman Syafiq yang biasa pulang lebih awal ini juga belum pulang, sepertinya lagi bersama Bibi Sekar.
Setelah makan malam terlewati sendiri Heena kembali masuk ke dalam kamarnya. Pelayan membersihkan meja makan setelah Heena pergi.
Saat ini Heena duduk di atas ranjang, tidak berselang lama Aldebaran datang, Heena bangkit dari tempat tidurnya lalu mendekati Aldebaran, Heena mencium punggung tangan Aldebaran, kemudian membantu melepas jasnya.
Heena letakkan jas itu di kursi, setelah itu menyiapkan air hangat di kamar mandi. Mengisi bathtub dengan air penuh dan sedikit mencampur aroma wangi kesukaan Aldebaran.
Setelah semua selesai Heena mau pergi dan saat berbalik sudah ada Aldebaran yang berdiri di ambang pintu kamar mandi.
Heena tersenyum. "Al, airnya sudah aku siapin."
Heena baru selesai bicara tiba-tiba Aldebaran memeluknya lalu membawa tubuh Heena masuk ke dalam bathtub.
"Al, aku sudah mandi ..." teriak Heena campur tawa, kini bajunya jadi basah, tidak tahu apa yang diinginkan pria yang saat ini memeluknya, Heena hanya bisa pasrah.
Heena menggosok punggung Aldebaran yang kulitnya putih bersih, dan saat Aldebaran ingin menggosok punggung Heena, wanita itu tidak mau, Heena ingin tetap memakai baju biarlah basah.
Dan ahirnya Heena yang membantu mandikan Aldebaran sampai selesai, Heena keluar lebih dulu, kemudian di susul oleh Aldebaran, Heena buru-buru menggunakan pakaian, tadi baju basahnya sudah ia lepas di kamar mandi.
Rambutnya juga ikutan basah, Heena mengeringkan rambutnya, Aldebaran yang sudah memakai baju mendekati Heena lalu mengambil alih hairdryer.
"Biar aku yang membantumu."
"Jangan, Al. Kamu tidak bisa." Heena menggeleng.
"Aku bisa." Aldebaran memaksa dan saat ini hairdryer sudah berpindah ke tangannya, Aldebaran mulai mengeringkan rambut Heena, bibir Heena mengulas senyum seraya terus menatap Aldebaran yang tengah fokus mengeringkan rambutnya.
"Ini namanya bahagia," ucapnya tanpa beralih dari rambut Heena.
"Bahagia," ulang Heena dengan kening berkerut.
"Ya, apa pun masalahnya, jangan lupa bahagia." Aldebaran menghentikan gerakan mengeringkan rambut Heena, kini matanya beralih menatap lekat wajah wanitanya yang entah mengapa terlihat lebih cantik.