HEENA

HEENA
BAB 88. Membiarkan menangis dalam pelukannya.



Melihat Aldebaran yang marah, Heena langsung sadar dan bangkit untuk menenangkan Aldebaran.


"Al, tenanglah. Ibu saya lagi sakit jiwa jadi dia tidak bisa mengontrol diri." Heena bicara seraya memeluk Aldebaran.


Aldebaran menoleh ke arah Heena. "Kamu terluka, kamu harus diobati."


Setelah berkata seperti itu Aldebaran membawa Heena ke luar dari ruangan tersebut, sementara Ibu Jamilah saat ini sedang dibantu suster dan Dokter untuk naik ke ranjang pasien.


Ibu Jamilah yang terus memberontak dan berteriak-teriak, Dokter FIfa pikir sebaiknya Ibu Jamilah di tangani di rumah sakit jiwa.


Dokter Fifa menyuntikan obat penenang, Ibu Jamilah mulai tidak sadarkan diri.


Sementara Heena saat ini sedang berada di sebuah ruangan, Dokter sedang memeriksa leher Heena yang terlihat merah karena cengkraman yang kuat.


Heena yang juga kurang fit badannya, Dokter menyarankan untuk banyak istirahat. Dokter pergi dari ruangan, menyisakan Aldebaran bersama Heena saja.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Heena pelan seraya menatap wajah Aldebaran, yang entah mengapa semakin terlihat tampan.


Heena ayolah fokus, jaga pikiranmu batin Heena menyadarkan diri.


Aldebaran menatap Heena yang saat ini senyum-senyum sendiri yang entah apa sebabnya. "Aku tadi mengantar, bibi Sekar. Dan saat aku sedang mau mencari toilet, tiba-tiba aku melihat kamu di cekik orang melalui kaca aku melihat."


Heena tersenyum tulus ke arah Aldebaran. "Terimakasih ya sudah menolongku."


Hemm.


Mereka berdua kemudian ke luar ruang tersebut, di luar bertemu Ayunda yang sudah selesai pekerjaannya.


Ayunda menghampiri Heena dan minta maaf atas perlakuan Ibu Jamilah, entahlah Ayunda sampai tidak bisa membayangkan bila tidak ada yang menolong Kak Heena, Ayunda tidak akan memaafkan diri sendiri bila terjadi sesuatu dengan Kakaknya Heena.


Ayunda memeluk Heena dengan menangis, dan sekarang ini ia harus merelakan Ibunya untuk dirawat di rumah sakit jiwa, karena tidak ingin bila Ibunya kembali menyakiti orang tersayang.


Ayunda juga mengatakan terimakasih pada Aldebaran, sungguh Ayunda takut sekali saat mendengar kabar Ibunya mencekik Kakaknya.


Berkali-kali Ayunda meminta maaf pada Heena. Mereka bertiga kemudian berjalan bersama menuju ruang Ibu Jamilah lagi.


Belum sempat masuk ke dalam, Aldebaran mengatakan akan pulang, karena harus mengantar Bibi Sekar.


Heena tidak masalah, dan akan segera pulang bila urusannya sudah selesa.


Setelah Aldebaran pergi, Heena dan Ayunda masuk ke dalam, Ibu Jamilah sudah siap mau di pindah ke rumah sakit jiwa, setelah semua sudah siap, Heena dan Ayunda ikut mengantar.


kini mereka sudah berada di dalam mobil, Ayunda terus menangis di samping Heena, namun tidak ada yang bisa Ayunda lakukan, mungkin ini adalah yang terbaik.


Heena menenangkan Ayunda, apa yang Ayunda rasakan tentu sama dengan yang Heena rasakan.


Sama-sama berharap bahwa suatu saat ini Ibunya bisa kembali dan sehat lagi seperti sedia kala.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, mobil sampai di tempat tujuan.


Ibu Jamilah di tuntun untuk ikut masuk ke dalam, Ibu Jamilah menurut ikut berjalan dengan tatapan mata kosong.


Melihat hal itu Ayunda semakin terasa tidak kuat, semakin terisak menangis. Hanya berdiam diri ditemani Heena, sementara Ibu Jamilah sudah di bawa masuk ke dalam.


Meski ia juga sedih tapi mencoba terlihat tegar di hadapan Ayunda. Mereka tetap terus saling berpelukan, menguatkan satu sama lain, sampai Ayunda ahirnya merasa tenang, dan memutuskan untuk masuk ke dalam.


Ayunda memasrahkan Ibunya dengan Dokter yang akan menangani ibunya. dan setelah itu mereka berdua melihat Ibunya dulu sebelum ahirnya pergi dari tempat tersebut.


Heena dan Ayunda kembali pulang, mereka berdua terdiam diri di dalam mobil taksi, tanpa ada yang mau membuka suara.


Keduanya sama-sama menyelami pikiran masing-masing, hari ini banyak sekali peristiwa yang Heena dapati.


Berawal bertemu Michael, kabar Ibunya sakit, dirinya yang dicekik, hah! Heena menghela nafas berat, rasanya begitu melelahkan, sampai ia lupa bila tadi sudah meninggalkan Michael dengan cara tidak baik.


Mobil terus melaju, waktu terus berputar hingga kini berganti malam.


Heena saat ini sedang duduk di atas ranjang, ia baru saja meminum obat pereda panas, Heena merasa lagi demam malam ini.


Sejak pagi memang badannya tidak lagi Fit, ditambah seharian ini banyk hal yang terjadi.


Aldebaran membuka pintu kamar, belum melangkah masuk, namun matanya kini melihat Heena sedang melamun yang duduk dibatas ranjang.


Aldebaran melihat arlojinya, waktu menunjuk pukul sembilan malam, namun Heena belum tidur pikirnya, Aldebaran kemudian berjalan mendekati ranjang.


Aldebaran menghela nafas kemudian duduk di sebelah Heena, satu pahanya sedikit menaik ke atas ranjang, Aldebaran menoleh ke arah Heena.


Merasakan kasurnya bergerak karena ada Aldebaran yang duduk di sebelahnya, Heena tersadar dari lamunannya.


"Al, kamu sudah pulang, aku siapkan air hangat dulu." Heena mau turun ranjang, namun tangannya ditahan oleh Aldebaran.


Membuat Heena langsung menatap wajah Aldebaran, tangan Aldebaran terulur mengusap perlahan sisa air mata yang masih terlihat basah di bawah kelopak mata Heena.


Mendapati perlakuan manis Aldebaran, malah membuat Heena menangis lagi, Aldebaran terus mengusap air mata yang berjatuhan dari mata Heena, tanpa mau berkata jangan menangis.


Karena Aldebaran tahu, bila seorang wanita sedang sedih pasti ingin menumpahkan rasa sedihnya dengan menangis, ia cukup menemani sampai tenang wanitanya.


Dan benar saja, perlakukan Aldebaran kali ini membuat Heena teringat Aldebaran yang dulu adalah kekasihnya, yang pasti selalu mengetahui keinginan wanitanya.


Heena malah jadi malu sendiri karena terlihat lemah, Heena kemudian menghapus air matanya dengan kasar, dan tersenyum menatap Aldebaran.


"Katakan, apa yang membuatmu bersedih?" tanya Aldebaran dengan lembut seraya menatap dalam bola mata Heena.


Mendengar pertanyaan Aldebaran, membuat hati Heena berasa disirami, nyesss jadi dingin dan melegakan.


Heena kemudian menceritakan masalahnya yang tentang Ibu Jamilah, hutang Ibu Jamilah yang sangat cukup banyak, Heena ingin membantu Ayunda untuk melunasi, tapi Heena tidak punya uang. Hanya merasa kasihan juga bila semua harus Ayunda yang menanggung sendiri.


Heena bercerita sambil menangis, hatinya sangat merasa sedih, ada rasa kasihan juga untuk Ibunya, tapi Heena juga mencegah Aldebaran untuk membantunya, Heena tidak mau membebani Aldebaran, biarlah nanti ia akan berusaha sendiri dengan caranya sendiri.


Bagi Heena Aldebaran mau mendengar ceritanya saja, ia sudah bahagia, tidak perlu membantu atau memberi yang lainnya juga.


Aldebaran meraih tubuh Heena untuk ia dekap, memeluk tubuh yang bergetar itu karena menangis, Aldebaran hanya diam tidak menjawab apa pun yang Heena bicarakan.


Malam itu Aldebaran membiarkan Heena menangis dalam pelukannya, membiarkan wanita itu melepas semua rasa sedihnya.