
Yusuf sudah berhenti menangis, kini ia duduk di pangkuan Heena, seraya menatap ke arah Aldebaran. "Apa Om akan melakukan apa pun yang aku minta?"
Ahirnya Yusuf mengajukan sebuah pertanyaan pada Aldebaran, pertanyaan yang akan memulai misinya.
"Ya." Aldebaran menjawab singkat tanpa memutus pandangannya ke Yusuf.
Yusuf tersenyum menyeringai. "Tiga hari, aku akan tinggal sama Mam dan Om selama tiga hari."
Tiga hari cukup untuk aku mengetahui apa kah Om Al benar yang terbaik untuk Mama atau tidak, batin Yusuf masih disertai senyum menyeringai.
Deg!
"I-iya." Aldebaran menjawab gagap campur terkejut, bagaimana bisa anak sekecil itu bisa tersenyum penuh arti seperti itu pikir Aldebaran.
Rasanya mengerikan dan lucu membayangkan rencana apa yang akan direncanakan anak sekecil itu.
Tapi Aldebaran akan mengikuti kemauan Yusuf, ia bukan tidak suka anak kecil, ia menyayangi Yusuf juga akan menganggap Yusuf anaknya sendiri, ia hanya belum tahu caranya komunikasi yang baik dengan anak kecil.
Mendengar jawaban Om Aldebaran, Yusuf berganti tersenyum sumringah sambil hatinya berkata lagi tiga hari saja.
Yusuf mendongakkan kepalanya menatap wajah Mamanya. "Ma, aku mau telepon papa."
Heena kemudian menelpon Michael, setelah sambungan telepon diangkat, Heena memberikan handphonenya pada Yusuf.
"Halo pa, Yusuf mau menginap di rumah Mama tiga hari saja pa, boleh ya pa?"
Cukup lama Yusuf menunggu jawaban Papanya, hingga akhirnya jawaban ya ia peroleh.
"Makasih pa, Yusuf sayang papa." Sambungan telepon Yusuf matikan.
Dan seketika hati Heena berdenyut saat mendengar ucapan Yusuf berkata sayang papa, Heena menyeka air matanya yang ke luar di sudut matanya.
Sebagai orang tua yang gagal, Heena tetap merasa bersalah tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk Putranya.
Dan tanpa Heena ketahui, Aldebaran melihat itu semua, Aldebaran melihat wajah Heena yang terlihat sedih tapi dibuat-buat bahagia, beralih menatap wajah Yusuf yang tampak bahagia terus memeluk Mamanya saat ini.
Dan hari ini benar-benar seperti permintaan Yusuf, bila akan tinggal bersama dengan Heena, beberapa pakaian dan seragam sekolah Yusuf untuk tiga hari ke depan, sudah dibawa ke rumah Heena, tadi sekalian mampir ke rumah untuk ambil baju, dan itu kali pertamanya Aldebaran masuk di rumah Michael.
Saat ini semua sudah berada di rumah Paman Syafiq, waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam.
Heena dan Yusuf sedang makan malam bersama hanya berdua, karena Aldebaran masih di kantor belum pulang, sementara Bibi Sekar, Paman Syafiq dan Rengky sedang berkunjung di rumah Kakaknya Paman Syafiq, karena ada acara pernikahan.
Dan mereka tadi bilang akan pergi selama dua hari, jadi selama dua hari ke depan, Heena hanya bersama Yusuf.
Untuk hari ini Aldebaran memang harus pulang malam, tapi mulai hari esok dan selama tiga hari, sesuai kesepakatannya dengan Yusuf, bahwa dirinya akan pulang sore, karena permintaan Yusuf.
Selesai makan malam, Yusuf ikut Mamanya mau bermain di kamar Mamanya.
Dan saat ini lah anak kecil itu akan memulai misinya, akan menguji Om Al nya, Yusuf berjalan masuk dengan bahagia seraya tangannya digenggam oleh Heena.
Yusuf duduk di atas ranjang bersama Heena, Yusuf mengajak Heena bermain ABC, yang kalah cepat mengucap harus digelitik.
Saking serunya bermain, ranjang tempat tidur Heena berantakan, bahkan ada bantal yang jatuh ke lantai, Yusuf akan terus membuat Mamanya tertawa jangan sampai menyadari beberapa bantal yang jatuh di lantai, tujuannya biar nanti Om Al nya kaget saat masuk kamar.
Yusuf semakin semangat mengajak Mamanya terus bermain, tanpa Heena sadari bahwa Yusuf selalu melihat jam dinding dan menghitung setiap detiknya, mengingat janji Om Al nya yang akan pulang pukul delapan.
Dan saat jarum jam bentar lagi menunjuk pukul delapan, Yusuf menghitung dalam hati, satu dua tiga, dan...
Kreekk.
Pintu dibuka, Aldebaran menyembul masu ke dalam.
Om Al tepat waktu, batin Yusuf memuji Om Al yang mau menepati janji, tapi bukan berarti Yusuf akan berhenti, ia akan tetap melanjutkan misinya demi Mamanya.
Berbalik dengan yang Yusuf pikirkan, Aldebaran tidak mempermasalahkan kamarnya yang berantakan, sok aja yang penting mereka happy, itu pikirnya.
Aldebaran berjalan mendekati meja, lalu menaruh tas kerjanya, meletakkan hp dan melepas jam tangannya.
Sudut mata Heena menangkap Aldebaran, ia menoleh saat ini melihat Aldebaran sedang melepas jas hitamnya.
Heena turun dari ranjang yang diikuti oleh Yusuf, berjalan mendekati Aldebaran, kemudian Heena mencium punggung tangan Aldebaran, ternyata Yusuf juga mengikuti yang dilakukan Heena, mencium juga punggung tangan Aldebaran.
Ada bagian perasaanya yang menghangat saat Aldebaran melihat Yusuf tersenyum, Aldebaran tidak tahu, bahwa senyuman Yusuf ada maksud terselubung.
"Al, aku siapkan air hangat dulu." Setelah bicara Heena mau melangkah menuju kamar mandi, tapi Aldebaran cegah.
"Tidak usah kalian lanjutkan saja bermainnya, aku bisa sendiri." Aldebaran bicara seraya menatap Heena dan Yusuf, kemudian ia berjalan menuju kamar mandi.
Heena mengalah dan mengajak Yusuf untuk kembali naik ke atas ranjang. Namun baru naik Heena mendengar suaranya dipanggil.
"Heena tolong ambilkan aku handuk." Aldebaran bicara sembari kepalanya saja yang menyembul keluar dari dalam pintu kamar mandi.
Heena kembali turun dari ranjang, lalu mengambil handuk di dalam almari, dan berjalan mendekati pintu kamar mandi untuk menyerahkan handuk tersebut.
Aldebaran menerima karena kepalnya masih menyembul ke luar. Membawa masuk handuk tersebut lalu mengunci pintu kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Aldebaran terkekeh saat menyadari dirinya mendadak lupa hanya karena merasa bahagia, mendengar suara tawa Heena dan Yusuf.
Haha Al Al untung lupa tidak bawa handuk, kalau ke luar kamar mandi lupa tidak pake handuk gimana, suara batin Aldebaran kembali mengejek.
Tidak! tidak akan lupa, Aldebaran menjawab suara batinnya sendiri.
Bila Aldebaran di dalam kamar mandi mulai mengguyur tubuhnya, Heena yang berada di luar kamar mandi tepatnya di dekat meja tempat Aldebaran menaruh barang-barangnya tadi.
Heena di sana merapihkan, Yusuf yang ikut berdiri di samping Heena tanpa sengaja menjatuhkan handphone milik Aldebaran.
Prak!
Handphone jatuh kelantai dalam keadaan tengkurap.
Yusuf ketakutan, Heena terkejut seraya menutup mulutnya, kemudian mengambil handphone itu dan saat Heena balik hp itu layarnya pecah.
Heena menggenggam hp itu seraya melihat Yusuf yang terlihat ketakutan. "Tenang sayang, Mama akan bicara nanti."
Suara Heena dibuat setenang mungkin, meski ia juga belum yakin apa kah Aldebaran akan marah atau tidak, tapi Heena akan mengatakan dirinya pelakunya, bila di marah biarlah dirinya, yang penting jangan Putranya.
Tanpa Heena tahu ini adalah bagian dari akting Yusuf, karena Yusuf ingin tahu Om Al marah atau tidak.
Pintu kamar mandi terbuka, Aldebaran ke luar berjalan semakin mendekat, Heena gugup bahkan tangannya kini sudah gemetar, dan Yusuf melihat itu.
"Al, maaf kan aku, saat aku merapihkan barang-barang kamu, tanpa sengaja aku menjatuhkan handphone kamu." Heena bicara sembari menunduk, tidak berani menatap wajah Aldebaran, yang Heena bayangkan Aldebaran sudah sangat marah.
Apa lagi saat merasakan tangan Aldebaran mengambil hp di tangan Heena, semakin lah gemetar tubuh Heena.
Yusuf menatap Aldebaran seraya menghitung dalam hati satu dua tiga.
"Ya sudah besok tinggal beli lagi." Aldebaran menjawab dengan enteng seraya melihat layar hp nya yang pecah, bukan pura-pura tidak masalah, tapi memang bagi Aldebaran tidak masalah, tidak masuk akal baginya bila hp pecah lalu memarahi istrinya, meski memang istrinya pelakunya.
Heena masih tidak enak hati seraya melihat Aldebaran yang saat ini berjalan ke ruang ganti.
Sementara Yusuf yang berbuat ulah, dia tersenyum.
Om Al lulus ujian pertama, batin Yusuf lengkap dengan senyum misterinya, dalam pikiran menyusun rencana.