HEENA

HEENA
BAB 119. Siapa yang tahu, siapa yang tidak tahu.



Pagi yang cerah menyambut langkah wanita yang sudah semangat menuju tujuannya, hari-hari sulit yang sudah dilalui kini telah sampai di titik dia akan bertemu orang yang sudah ia cari berhari-hari.


Lulu yang habis selesai mandi di kamar mandi umum, dan saat ini sedang berkaca, bajunya sudah baru, kemarin juga membeli parfum walau yang murahan harganya.


Bibirnya tersenyum saat menatap dirinya di pantulan cermin, menghela nafas sebelum ahirnya ia pergi dari tempat tersebut.


Masih ada sedikit uang cukup bila untuk membayar ojek, Lulu berjalan mendatangi pangkalan ojek, dan meminta untuk mengantarkan ke alamat yang ia sebutkan.


Saat ini masih terbilang pagi, karena waktu baru menunjuk pukul delapan pagi, sembari melihat jalanan kota bibir Lulu terus mengulas senyum sedari tadi, rasanya sudah tidak sabar untuk segera bertemu Kak Heena.


Dan setelah melalui perjalanan yang cukup ramai ahirnya ojek motor yang mengantar Lulu sampai di depan gerbang rumah yang tertera di alamat itu.


Lulu turun dari motor, matanya menatap kagum bangunan mewah.


"Ini namanya orang kaya banget," gumam Lulu masih seraya menatap terus rumah Rengky.


Satpam penjaga gerbang mendekat saat Lulu memencet bel rumah.


"Maaf mau cari siapa?" tanya satpam itu, tapi gerbang belum ia buka karena tidak mengenal siapa yang datang.


"Maaf, saya ada janji bertemu dengan mas pemilik nama ini." Lulu menunjukan kartu nama yang Rengky berikan kemarin.


Satpam itu melihat kartu nama tersebut seraya menimbang-nimbang keasliannya, dan setelah kartu nama itu asli milik keluarga Tuannya, satpam itu membukakan gerbang.


Lulu masih diam menunggu satpam selesai mengunci gerbang, kemudian satpam tersebut mengantar Lulu sampai depan pintu masuk.


Satpam tersebut meminta pelayan wanita yang saat ini lagi bersih-bersih di ruang tamu, untuk memanggil Tuan Rengky.


Saat dipanggil pelayan ternyata Rengky baru selesai olah raga, pelayan tersebut menunduk kemudian pamit ijin pergi.


Di teras rumah, Lulu menunggu sendiri, karena satpam harus kembali ke tempat berjaga.


Dan setelah beberapa saat menunggu, Rengky ahirnya menemui orang yang kata pelayan mencarinya.


Deg!


Tidak hanya Rengky yang terkejut, Lulu juga terkejut, lagi-lagi gadis kecil itu terpana saat melihat ketampanan Rengky, apa lagi saat pria itu terlihat habis mandi, wajah tampannya terlihat lebih segar.


Rengky terkejut tidak menyangka gadis yang ia temui malam-malam itu yang hampir ia tabrak, saat ini sudah sampai di rumahnya.


"Kamu?" tunjuk Rengky yang masih ada sisa terkejutnya.


"Nama aku Lulu," jawab Lulu yang mengira bila Rengky ingin mengetahui namanya, entah lah Lulu tiba-tiba percaya diri banget.


Rengky mengangguk, kini ia tahu nama gadis itu adalah Lulu. "Kamu masuk saja, tunggu di dalam."


Lulu mengikuti langkah Rengky yang masuk ke dalam rumah.


"Duduklah," titah Rengky saat mereka berdua sudah masuk ke ruang tamu.


Lulu menatap Rengky. "Apa tidak masalah aku duduk di sini?"


Bukannya menjawab, tapi Rengky malah balik bertanya, "Tadi aku bilang apa?" Rengky sudah duduk di sofa, matanya masih menatap Lulu yang terlihat sungkan dan tidak enak hati.


Lulu tersenyum ahirnya ia menurut, tadi ia bertanya seperti itu karena ia sadar bahwa dari kalangan orang tidak punya, baginya sangat tidak pantas orang miskin seperti dirinya harus duduk di kursi mewah.


Hah! membayangkan saja Lulu tidak pernah akan duduk di kursi semewah ini, di desanya tidak ada satu pun orang yang miliki kursi sebagus ini.


Ini kan memang kursi milik sultan batin Lulu, saat dirinya masih diam pikirannya masih mengagumi betapa mewahnya ruangan tamu ini, tiba-tiba pertanyaan Rengky mengalihkan fokusnya itu.


Sampai sejauh ini Rengky masih bertanya-tanya mengapa gadis itu ingin menemui Heena, dan panggil Kak yang gadis itu ucapkan di malam itu, seolah mengartikan bahwa mereka miliki hubungan dekat, itulah kenapa saat ini Rengky bertanya.


"Aku mencari kak Heena untuk ibu aku, ibu bilang kak Heena adalah putrinya yang hilang."


Mendengar penjelasan Lulu barusan Rengky malah tertawa merasa Lulu mengada-ada, karena setahu Rengky Heena miliki ibu yaitu Ibu Jamilah, Rengky belum tahu bila Ibu Jamilah adalah ibu tiri Heena.


Hahahaha!


"Sepertinya kamu salah orang, Heena miliki ibu jadi tidak mungkin ibu kamu adalah ibunya Heena," ucapnya masih disertai tawa yang mengejek.


"Tidak! Ibu aku tidak bohong, dulu ibu aku menitipkan kak Heena di panti asuhan," terang Lulu lagi, sedikit kesal karena Rengky menanggapi dengan tawa, meski siapa pun orang pasti akan bicara sama seperti Rengky, tapi hati Lulu tidak terima.


Rengky masih saja tertawa, tidak peduli dengan wajah Lulu yang terlihat kesal, malah itu terlihat lucu di mata Rengky, anak ABG dikit-dikit marah batin Rengky.


Tawa Rengky kini sudah hilang berganti wajah yang serius. "Baiklah jika kamu masih bersikeras, saat ini Heena belum pulang, dan kamu boleh menunggu di sini sampai Heena datang."


"Kira-kira jam berapa?" tanya cepat Lulu.


"Aku tidak tahu, karena mereka baru menjadi pengantin baru, mungkin saja akan bermain ke mana gitu," jawab Rengky seraya terkekeh.


Ternyata tawa Rengky tadi sampai terdengar ke telinga Bibi Sekar, yang tadi lagi sarapan, dan setelah sarapan Bibi Sekar mendatangi putranya, ingin melihat apa yang membuat putranya tertawa segitu keras.


Saat langkah kakinya sampai di pintu ruang tamu, Bibi Sekar berhenti, ternyata Rengky tidak sendiri, dia sedang bersama perempuan, tapi bila dilihat dari wajahnya gadis itu masih kecil sekitar usia lima belas tahun.


"Nyonya?"


"Mama."


Sapa Lulu dan Rengky bersamaan saat melihat Bibi Sekar datang.


Bibi Sekar merubah wajahnya yang tadi sedikit terkejut menjadi tersenyum ramah, kemudian duduk di sebelah Rengky.


Kemudian Lulu memperkenalkan diri dan juga menceritakan kedatangannya kemari untuk bertemu Heena.


Saat Bibi Sekar bertanya ada perlu apa dengan Heena? Lulu mengatakan bila ibunya ingin bertemu Heena, Lulu tidak memberi tahu bila ibunya adalah ibunya Heena.


Tapi Rengky malah memberi tahu bila tadi Lulu mengatakan bahwa ibunya adalah ibu kandung Heena


Mendengar pernyataan putranya seketika Bibi Sekar terkejut, juga teringat pembicaraan Heena bersamanya tempo lalu yang bercerita bila Heena bukan putri kandung Ibu Jamilah.


"Apa menurut Mama benar?" tanya Rengky, yang mungkin Mamanya lebih tahu, dan dirinya ketinggalan informasi.


"Benar, Heena pernah cerita sama, Mama." Bibi Sekar menjawab penuh yakin.


Mendengar itu Lulu merasa bahagia, jika begitu tidak sulit nanti baginya akan menjelaskan pada Kak Heena.


"Jika begitu kak Heena tahu?" tanya Lulu dengan semangat, semua seperti berjalan mulus.


Bibi Sekar mengangguk. "Dia tahu tapi tidak tahu siapa ibunya."


Lulu tersenyum bahagia sampai menutup mulutnya sendiri, Bibi Sekar dan Rengky saling pandang, tiba-tiba mendengar suara yang mengejutkan dari seseorang yang baru datang.


"Siapa yang tahu dan siapa yang tidak tahu?'


Deg!