HEENA

HEENA
BAB 9. penolakan Yusuf.



Salah satu pelayan wanita tampak masuk ke kamar utama membawa nampan berisikan makanan, minuman, serta obat.


Heena duduk bersandar di ranjangnya dengan mata lurus ke depan menatap pintu kamarnya, seolah sedang menunggu seseorang yang beberapa hari ini tak kunjung pulang.


Heena tersenyum getir seraya meraih makanan yang diberikan oleh pelayan tersebut.


Heena memakan sarapan itu dan menghabiskan meski lidahnya tidak merasakan apapun, tapi entah mengapa ia seolah memiliki firasat bahwa ia harus memiliki tenaga untuk menghadapi masalah di hidupnya.


Setelah sarapan selesai, pelayan itu kembali ke dapur, Heena lalu membersihkan diri dan setelah selesai mandi Heena berkaca bahwa mulai hari ini ia akan berusaha tidak menangis lagi.


"Kau pasti bisa, Heena." Heena berjalan ke luar kamar dan menemui putranya untuk mengantar sekolah.


"Mama ..."


Bertepatan Heena berjalan ke arah kamar Yusuf, Anak kecil itu ke luar kamar lalu berlari dan menghambur minta di gendong.


"Anak Mama sudah tampan." Heena menciumi pipi putranya dengan gemas, bersamaan itu terdengar gelak tawa geli dari bibir Yusuf.


Heena membawa Yusuf berjalan ke luar untuk berangkat sekolah.


Dan setelah kepergian Heena dan Yusuf, Mickael pulang ke rumah bersama Mawar istri keduanya.


"Heena ..."


Namun yang datang adalah pelayan.


"Maaf, Tuan, Nyonya, sedang mengantar tuan muda kecil ke sekolah."


Terdengar helaan nafas ringan, Michael baru ingat bahwa istrinya selalu menemani anaknya sekolah.


"Sayang di mana kamar aku?" suaranya terdengar manja.


Michael baru sadar dengan tujuannya bahwa akan menunjukan kamar untuk Mawar.


Kini keduanya berjalan menuju kamar, dan saat berjalan Mawar membaca melihat pintu kamar dengan ukiran yang indah.


Mawar menghentikan langkahnya, dan membuat Mickael juga ikut menghentikan langkah. " Sayang, ruangan itu kamar siapa?" Mawar menunjuk pintu tersebut.


"Itu kamar Heena, kamar kami."


Batin Mawar mendengus kesal, tetapi kali ini ia tidak akan mempermasalahkan karena ada yang lebih penting.


Keduanya kembali berjalan dengan mesra.


Para pelayan yang mendengar Tuannya menikah lagi, merasa iba terhadap Nyonya yang harus di madu.


Namun dalam hati mereka hanya mendoakan supaya Heena bisa tabah dan sabar.


Di dalam kamar baru, Mawar tampak membereskan barang-barangnya yang di bantu oleh Michael.


Dan setelah waktu makan siang keduanya turun untuk makan bersama.


Di bawah, para pelayan sudah menyiapkan untuk makan siang.


Michael dan Mawar berjalan mesra menuju ruang makan, namun tiba-tiba Michael mendengar ada yang memanggil namanya.


"Papa ..." Yusuf berlari saat melihat Papanya di rumah, namun langkahnya terhenti saat melihat Papanya memeluk pinggang wanita dengan mesra.


Tidak hanya Yusuf, Heena juga terkejut.


Sialan! neraka macam apa lagi yang akan dia berikan padaku, huh. tidak cukup apa selama ini dan kemarin dia menyakiti aku, Heena marah.


Michael melepas tangannya yang memeluk pinggang Mawar, Mawar mendengus kesal.


Michael berjalan mendekati Yusuf lalu berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Yusuf.


Michael tersenyum. "Mengapa diam saja, apa tidak ingin memeluk, Papa."


Senyum di bibir Michael langsung menghilang seiring perginya Yusuf berlari ke kamarnya yang diikuti Heena dari belakang.


"Yusuf, sayang." Heena merengkuh tubuh Yusuf yang tiba-tiba menangis saat telah sampai di kamar Yusuf.


"Mama, Yusuf tidak mau Mama balu!"


Yusuf menekan setiap ucapannya, seolah anak kecil itu juga merasakan sakit seperti yang di rasakan mamanya.


Tiba malam hari, saat makan malam Michael dan Mawar sudah berada di meja makan untuk menunggu Heena dan Yusuf yang sedari tadi belum datang.


"Sayang, mau berapa lama?" Mawar menunjukan ekspresi manjanya.


"Tunggu sebentar." Michael mengusap lengan Mawar.


Bersamaan dengan kedua orang tersebut berhenti bicara, Heena datang berjalan memasuki ruang makan seraya mengandeng tangan Yusuf.


Heena melihat Mawar yang bergelayut manja di lengan Michael.


Dasar, wanita ular, beraninya dia bermesraan di depan Anakku, batin kesal Heena.


Heena menarik kursi lalu duduk sambil memangku Yusuf, Anak kecil itu wajahnya masih di tekuk, dan Michael bisa menangkap wajah kesal dari putranya.


Heena dengan telaten menyuapi Anaknya dan menyuap untuk dirinya sendiri.


Heena tidak memperdulikan dua orang yang di hadapannya, Heena tetap asyik menyuapi Yusuf serta menyuap untuk dirinya sendiri.


Heena dan Yusuf makannya lebih selesai duluan, dan saat Heena mau beranjak pergi. Michael memanggil Yusuf yang saat ini berada di gendongannya.


"Yusuf, Yusuf kan belum berkenalan dengan, Mama Mawar."


Deg.


Dasar sudah gila, bahkan dia tidak bisa melihat wajah murung anaknya karena wanita itu. Heena benar-benar geram.


Dengan lantang Yusuf menjawab pertanyaan Papanya. "Yusuf, tidak mau, Mama balu ..."


Yusuf meminta turun dari gendongan lalu ia berlari masuk ke kamarnya seraya menangis kencang.


Brakk.


Pintu di kunci dari dalam.


"Sayang ini, Mama, Nak."


Heena mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut namun juga tidak di buka oleh Yusuf.


Dan tiba-tiba Heena merasakan tangannya ditarik kasar dibawa menuju kamarnya sendiri.


Brukk.


Tubuh Heena dilempar ke atas ranjang oleh Michael.


Michael mendekat mencekal erat rahang Heena.


Kini Heena bisa melihat bahwa pria yang saat ini berada di dekatnya sedang di selimuti amarah.


"Kau sudah meracuni, Yusuf. Hingga anak itu tidak memiliki sopan santun terhadap aku, hah."


Heena membalas menatap tidak kalah tajam. " Dia anakmu, dia tahu bagaimana rasanya kau menyakiti, kau menikah tidak memberi tahu dia, lalu kau datang membawa perempuan dan memintanya untuk memanggil, Mama."


Plak.


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Heena. " Beraninya kau mengajari aku!"