
Hari telah berlalu, sejak Yusuf mengatakan merestui hubungan Heena dan Aldebaran, mereka berdua langsung mempersiapkan pesta pernikahan, dan hari ini tiba lah waktunya.
Heena berada di dalam sebuah ruangan salah satu kamar presiden suite, Heena sedang dirias sangat cantik, Yusuf yang berdiri di samping Heena, terkagum-kagum melihat kecantikan Mamanya.
Ini sungguh kali pertamanya Yusuf melihat Mamanya sangat cantik.
Yusuf menggenggam jari telunjuk Mamanya, seraya tersenyum ke arah Mamanya, Heena merasa bahagia, Yusuf selalu menemaninya.
Setelah merasa selesai, Heena berdiri, gaun pengantin yang sangat bagus serta pas di badan Heena, membuat wanita berparas cantik itu semakin terlihat cantik.
Heena berdiri di depan cermin melihat penampilannya, melihat sisi kiri dan melihat sisi kanan, Heena tiba-tiba tersenyum sendiri.
"Mama sangat cantik," ucap Yusuf dengan antusias. Heena melihat Putranya dan tersenyum.
Ayunda masuk ke dalam, dua wanita yang merias tadi pamit ke luar, Ayunda mendekati Heena lalu memeluknya, Ayunda menangis haru, melihat Kakaknya menikah depan pria pilihannya dulu, Ayunda melerai pelukannya lalu menatap wajah cantik Kakaknya saat ini.
"Selamat ya Kak, atas pernikahan Kakak," Ayunda menangis lagi dan memeluk Heena lagi.
Setelah puas memeluk Kakaknya, Ayunda kemudian mengajak Heena turun ke bawah.
Heena berjalan di tengah diantara Ayunda dan Yusuf, masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke ruang ballroom hotel.
Bila Ayunda dan Yusuf merasa hatinya sama-sama bahagia, berbeda dengan Heena yang saat ini merasa jantungnya berdebar-debar kuat, apa lagi setiap jalannya lift akan membuat dirinya segera bertemu dengan Aldebaran.
Heena semakin tidak mampu menyembunyikan rona merah di pipinya, dan warna itu semakin membuat Heena terlihat cantik.
Deg!
Detak jantung Heena tersentak saat pintu lift terbuka, Ayunda dan Yusuf segera mengajak Heena untuk melangkah ke luar, Ayunda kini merasakan telapak tangan Heena yang ia genggam sangat terasa dingin, Ayunda tersenyum yang tahu bila Heena saat ini sedang gugup.
Yusuf juga merasakan tangan Mamanya dingin, tapi bocah kecil itu belum mengerti, Yusuf hanya tersenyum sedari tadi.
Deg! Deg!
Jantung Heena semakin berdebar-debar kuat, pegangan tangannya di tangan Ayunda dan Yusuf semakin terasa kuat, pintu ballroom hotel terbuka perlahan.
Hening.
Waktu seolah berhenti, menghipnotis semua mata untuk menatap ke arah pintu masuk ballroom hotel, yang kini pengantin wanita telah tiba.
Semua orang memberi ruang memberi jalan untuk pengantin wanita berjalan, Aldebaran yang berdiri di ujung sana, pandangannya terkunci hanya melihat sosok Heena yang terlihat sangat cantik hari ini menggunakan gaun pengantin.
Langkah demi langkah yang Heena pijakan, bagaikan waktu yang mengikis jarak jauh, membuat keduanya yang sebentar lagi akan bersama, diakui dalam agama dan juga negara sebagai sepasang suami istri.
Heena saat ini berdiri tepat di depan Aldebaran, keduanya saling menatap dalam, keduanya sama-sama merasa seperti mimpi bisa sampai di titik ini.
Setelah melewati banyak masalah dan rintangan, terpisah lama bukan hanya sekedar hari tapi tahun.
Seperti yang dikata orang, bila jodoh pasti tidak kemana, Heena menangis seraya meraih tangan Aldebaran yang terulur ke arahnya, menarik Heena dalam pelukan.
Michael yang juga datang di acara ini ikut meneteskan air mata, merasa dirinya juga ikut andil dalam perpisahan mereka dulu.
Heena yang masih terisak di dalam pelukan Aldebaran, pria itu membisikkan sesuatu, "Jangan bersedih, aku menikah dengan mu untuk membuatmu bahagia bukan untuk menangis."
Nyess seketika hati Heena merasa sejuk, Heena melerai pelukannya, Ayunda mendekat membantu menata lagi riasan wajah Kakaknya, setelah selesai, Heena kembali berdiri di sisi Aldebaran.
Aldebaran mengajak Heena dan juga Yusuf yang saat ini berjalan di samping Heena.
Pesta pernikahan ini hanya mengumumkan bila Aldebaran sudah menikah, tidak ada lagi ijab Kabul dua kali, cukup sekali saja waktu itu.
Aldebaran sudah berdiri di podium, melihat ke arah Heena yang saat ini tangannya ia genggam, juga melihat ke arah Yusuf yang saat ini menggenggam tangan Mamanya.
Aldebaran beralih menatap ke depan. "Di samping saya seorang wanita cantik." Aldebaran menoleh melihat wajah Heena. "Adalah istriku yang sangat aku cintai." Selesai bicara Aldebaran merengkuh pinggang Heena lalu mencium kening Heena.
Suara tepuk tangan kembali meriah, perlakuan romantis Aldebaran buat istrinya, membuat yang lagi belum miliki pasangan jadi baper.
Aldebaran kembali di posisi semula, masih ada yang ingin ia bicarakan, saat ini tangannya menggenggam tangan mungil Yusuf, seraya tersenyum manis menatap ke arah depan.
Senyum yang jarang sekali orang lain lihat, tamu undangan yang melihat senyum itu ada yang hatinya langsung lumer.
Di ruangan ini juga ada empat wartawan yang sengaja diundang untuk meliput acara ini sampai selesai. Bahkan langsung terhubung dengan salah satu stasiun televisi.
Para ibu-ibu di rumah juga bisa menyaksikan momen ini di televisi mereka.
Aldebaran menggendong Yusuf, membuat semua orang kini bisa melihat wajah tampan bocah kecil itu dengan jelas. Di sini Aldebaran akan mengatakan siapa Yusuf, sebelum kembali mendengar rumor tidak sedap.
"Dia adalah putra istriku, tentu mulai saat ini juga menjadi putraku." Aldebaran mencium pipi Yusuf, bocah tampan itu tersenyum melebar, tangannya ia lingkarkan di leher Aldebaran dan berbalas mencium pipi Aldebaran.
Semua orang tamu undangan meletakkan tangannya di depan dada seraya berkata so sweet dalam hati.
Dan tepuk tangan kembali meriah saat Aldebaran menyudahi yang sudah ia sampaikan.
Saat ini berganti sesi foto bersama keluarga, para tamu undangan sudah mulai ada yang makan hidangan.
Heena dan Aldebaran foto berdua, untuk beberapa gaya, berlanjut foto bersama Bibi Sekar dan Paman Syafiq cukup tiga gaya, berlanjut lagi foto bersama Ayunda dan juga Rengky cukup tiga gaya.
Yang terakhir foto bertiga bersama Yusuf, sampai lima gaya, dan gaya foto yang terakhir Yusuf berada di gendongan Aldebaran, Heena dan Aldebaran sama-sama mencium pipi Yusuf.
Di tempat duduk ujung sana, Michael meneteskan air mata, bukan hanya kebahagiaan Heena yang ia lihat, tapi juga kebahagiaan Yusuf, sedari tadi Putranya terus menempel pada mereka, sementara dirinya hanya meratapi nasib.
Harus menjauh di saat lagi sayang-sayangnya itu memang lebih pedih dan sakit, ahirnya tidak ada yang bisa Michael perbuat selain ikhlas dan yang lebih terpenting putranya bahagia.
Wanita cantik yang saat ini tiba-tiba berdiri di samping Michael menatap bingung saat melihat pria itu menangis.
"Kakak Ipar."