
"Mama mana, Pa?" ucapan Yusuf, yang langsung menyadarkan Michael dari rasa keterkejutannya tadi.
Michael melihat Yusuf yang sudah berdiri di sampingnya, dengan tatapan bingung, karena saat kembali Mamanya tidak ada.
"Ma-mama sudah pulang tadi ada urusan dadakan, Nak."
Mendengar penjelasan dari Papanya bahwa mamanya pulang, seketika Yusuf menangis, Ane langsung meraih tubuh kecil Yusuf, dan ia gendong.
Michael membuat gerakan isyarat pada Ane, bila harus mengajak Yusuf pulang, Ane memahami hal itu, kemudian berjalan ke luar dari restoran menuju mobil.
Setelah kepergian Ane dan Yusuf, Michael kembali duduk seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Tidak! aku yakin Heena tadi hanya becanda, iya aku yakin itu, aku harus menemui Heena lain waktu, aku sangat yakin bila Heena belum menikah, akal sehat Michael meyakinkan hatinya.
Michael kemudian ikut pergi dari tempat tersebut, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di kantor.
Sementara di dalam mobil, Heena memejamkan mata seraya bersandar dan tangan kirinya mengusap cincin yang ada di jari manisnya.
Cincin yang baru tadi pagi Aldebaran berikan padanya, cincin yang menjadi bukti bahwa Aldebaran akan mempertahankan pernikahannya, dan bahkan pria itu berjanji akan segera mengadakan pesta pernikahan yang belum sempat terjadi.
Mengingat itu semua Heena malah menangis, haru bercampur sedih jadi satu, namun sebelum acara pesta itu dimulai, Heena dan Aldebaran akan memberi tahu Yusuf lebih dulu, karena Yusuf juga segalanya bagi Aldebaran putra dari istrinya.
Mobil yang membawa Heena kini sudah sampai di rumah.
Setelah mobil berhenti, Heena ke luar lalu berjalan masuk ke rumah.
Heena tidak langsung masuk ke kamar, ia lebih milih duduk di ruang tengah, sambil menyalakan TV.
TV menyala tapi Heena malah melihat ke arah lain, dengan sorot mata kosong, Bibi Sekar yang melihat Heena melamun ia berjalan mendekati.
"Heena." Bibi Sekar duduk di sebelah Heena seraya menepuk pelan bahu Heena.
"Ah! Bibi." Heena bicara dengan nada terkejut, Bibi Sekar tersenyum kemudian mengusap lengan Heena.
"Jika ada masalah cerita sama Bibi, jangan kamu pendam sendiri, itu tidak baik." Bibi Sekar bicara dengan lembut.
"Tidak ada masalah apa-apa, Bibi." Heena memegang tangan Bibi Sekar yang mengusap lengannya.
"Baiklah jika begitu, gimana bila kamu temani Bibi."
Setelah bicara seperti itu Bibi Sekar mengajak Heena berdiri lalu berjalan ke luar, tanpa Heena sempat bertanya kemana.
Bibi Sekar dan Heena pergi di temani sopir yang tadi mengantar Heena.
Tujuan kali ini mendatangi sebuah desa yang tidak jauh dari kota ini, di sana juga banyak para istri-istri orang kaya yang juga hadir.
Di desa itu memberikan bantuan untuk memperbaiki rumah warga yang terlihat sudah mulai rusak, maka direnovasi.
Menempuh perjalanan sekitar satu jam, mobil yang membawa Bibi Sekar dan Heena telah sampai.
Baru menyembul dari dalam mobil, teman sosialita Bibi Sekar sudah meneriaki, Heena melihat hal itu merasa tidak enak hati, karena berada di tengah-tengah para istri orang kaya.
Heena dan Bibi Sekar berjalan mendekati para wanita yang duduk di bawah tenda biru, karena sangking banyaknya yang berdatangan, dan supaya tidak kepanasan, para warga mendirikan tenda yang luas, di dalamnya terdapat banyak kursi-kursi, juga ada podium untuk sambutan acara.
Dari tempat Heena berjalan saat ini, ia bisa melihat bahwa dirinya paling beda, mereka yang sudah duduk di kursi berpakaian bagus dan serta make up tebal, terlihat sekali bahwa mereka adalah istri-istri orang kaya.
Saat Heena merasa minder, Bibi Sekar menggenggam tangan Heena, menoleh ke arah Heena dan mengangguk meminta Heena untuk menegakkan kepala.
Salah satu teman Bibi Sekar mendekat, saat Bibi Sekar sudah mau meraih kursi untuk duduk.
"Ini siapa? menantu Anda Ibu Sekar?"
Bibi Sekar mendekatkan ke Heena. "Dia bukan menantu tapi dia istri dari ponakan aku, dan aku sangat menyayanginya."
Deg! Heena terkejut saat Bibi Sekar memperkenalkan dirinya pada teman sosialita nya dengan bangga, dan ucapan Bibi Sekar tadi mengundang teman sosialitanya yang lain juga mendekat.
"Aku pikir Anda datang bersama menantu." Teman sosialita berbaju merah bertanya tapi menyindir.
Ya ya diantara mereka semua memang tinggal Bibi Sekar yang belum punya menantu, tapi kan harusnya tidak boleh menjulid seperti itu.
Namun Bibi Sekar tidak pernah memikirkan omongan mereka, biasa orang kaya jadi hidupnya sok-sokan.
Baru Bibi Sekar mau menjawab tapi malah mendengar ucapan teman sosialitanya yang berbaju hijau.
"Ibu Sekar, bagaimana bila kita besanan, anak Anda cakep dan Anak saya cantik."
Bibi Sekar langsung tersenyum, sementara yang lain malah meneriaki huuuuuu!
"Mari kita buat janji temu untuk kedua anak kita."
Para teman-teman sosialita yang tadi meneriaki langsung terdiam mendengar jawaban Bibi Sekar yang ternyata setuju.
Saat ada yang mau menjulid lagi, tiba-tiba suara MC terdengar, semua kembali duduk di kursi masing-masing.
Hawa panas semakin membuat hati panas, jadilah terbakar, mereka yang tidak suka dengan Bibi Sekar merasakan tidak nyaman.
Persaingan antara perusahaan suaminya, para istri-istri juga ikut bersaing, walaupun yang mereka bicarakan hanya seputar saling menyindir.
MC menyampaikan kata terimakasih karena kebaikan hati para suami ibu-ibu yang hadir saat ini, karena sudah mau membantu desanya, dari memperbaiki beberapa rumah warga, jalanan yang rusak, dan membangun jembatan sehingga anak-anak berangkat sekolah tidak perlu menyebarang sungai.
Dan hari ini adalah perayaan, karena semua sudah selesai, setiap ibu-ibu yang duduk membuka lembaran kertas yang terdapat foto jalan yang sudah diperbaiki, dan juga foto rumah warga yang sudah diperbaiki, serta jembatan yang sudah dibangun. Ada juga foto anak-anak sekolah yang berkumpul semua tersenyum meringis.
Heena fokus pada gambar foto anak-anak itu, lucunya batin Heena, meski dirinya tidak berada diantara anak-anak itu, tapi seolah juga ikut merasakan kebahagiaannya.
Acara sambutan-sambutan telah selesai, saat ini berganti acara pemotongan pita.
Bibi Sekar yang akan mewakili para istri-istri orang kaya, karena terkenal wibawanya dan disegani banyak orang, serta ramahnya membuat warga nyaman padanya, karena Bibi Sekar sudah tiga kali ini datang ke tempat ini, yang kedua kali waktu masih dalam pembangunan, jadi tidak heran bila warga merasa akrab padanya.
Heena sampai terharu yang saat ini berdiri di samping Bibi Sekar, dalam perhitungan mundur pita akan di potong.
Tiga.
Dua.
Satu.
Bersamaan perhitungan berhenti pita dipotong, terdengar tepuk tangan meriah.
Dari arah belakang masih terdengar para ibu-ibu yang bicara syirik dengan Bibi Sekar, Heena memeluk pundak Bibi Sekar seraya menempelkan kepalanya di kepala Bibi Sekar, Heena melihat ke belakang.
Deg! Heena terkejut saat melihat seseorang diantara banyaknya orang-orang berkumpul.