
Lulu sudah selesai makan, saat ini duduk berdua bersama Heena di kursi sofa yang ada di ruangan, Ibu Fatima belum sadar, sementara Aldebaran pria itu tadi pamit ijin keluar sebentar.
Tatapan Heena lurus ke depan melihat Ibu Fatima yang berbaring tidak berdaya, dalam pikirannya masih terus bertanya-tanya siapa yang telah membuat Ibu Fatima seperti itu, sampai akhirnya Heena merasa tertarik ingin bicara dengan Lulu untuk menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya sejak kemarin.
Heena menoleh ke arah Lulu yang duduk di sampingnya. "Apa kamu tahu aktifitas Ibu sebelum dia jatuh sakit? Maksud aku mungkin dulu Ibu pernah kerja atau bagaimana."
Lulu bingung saat Kak Heena bertanya seperti itu, gadis kecil itu berpikir apa kah penting untuk Kak Heena tahu, tapi karena merasa Kak Heena putri Ibunya, Lulu memilih untuk menceritakan semua yang ia tahu.
Lulu membalas tatapan mata Heena. "Benar Kak, Ibu dulu bekerja dan dulu aku bersama Ibu tingga di rumah majikan, Ibu."
Lulu beralih menatap ke depan dan mulai menjelaskan semuanya kejadian di masa lalu.
Saat itu di dalam rumah bak istana, Ibu Fatima bekerja sebagai pelayan pribadi keluarga kaya, Ibu Fatima sudah bekerja bertahun-tahun lamanya, sampai Ibu Fatima menikah dan miliki anak, Ibu Fatima tetap bisa tinggal di rumah majikannya itu.
Apa lagi Nyonya istri pertama Bosnya sangat baik dengan Ibu Fatima, Nyonya istri pertama sedang sakit lumpuh, dari rumor yang beredar sejak melahirkan putrinya. Ibu Fatima yang merawat khusus Nyonya istri pertama itu.
Lulu yang saat itu usianya sudah sembilan tahun, ia bisa membantu Ibunya beres-beres rumah majikannya itu namun di samping Ibunya.
Lulu juga sering mendengar Majikannya Ibunya berantem dengan istri keduanya, namun karena masih kecil tidak tahu apa yang dipermasalahkan orang dewasa.
Lulu dan Ibu Fatima masuk ke dalam kamar Nyonya istri pertama. Sampai di sana Nyonya menangis memohon pada Ibu Fatima seraya menggenggam tangan Ibu Fatima, entah apa yang Ibunya bicarakan dengan Nyonya, Lulu hanya tahu Ibunya mengangguk dan meminta Nyonya untuk tenang.
Hari-hari selanjutnya Lulu dan Ibu Fatima masih tinggal di rumah majikan Ibu, sampai tiba di hari Lulu pulang sekolah melihat Ibunya sudah dimarahin habis-habisan oleh majikan Ibu.
Lulu dengan tubuh takut berdiri di balik pintu, namun suara amarah majikan Ibu Fatima masih bisa Lulu dengar.
"Pergi kamu dari rumah ini, kau sudah mengkhianati keluarga ini!" bentak pria itu dengan suara menggelegar seisi ruangan.
Ibu Fatima yang saat ini terduduk di lantai merangkak mendekati kaki pria itu dan memohon. "Tuan tolong jangan pecat saya Tuan, saya mohon, Tuan."
"Pergi!" Pria itu menendang Ibu Fatima yang memegang kakinya, sampai membuat Ibu Fatima terjungkal ke belakang.
Ahhh!
Teriak Ibu Fatima, dan seketika merasakan pusing di kepala dan dadanya terasa sesak, dia hanya seorang perempuan, mendapat tendangan sekuat tenaga laki-laki tentu memilukan.
Namun dengan sisa tenaganya Ibu Fatima kembali merangkak mendekati pria itu dan memohon kembali, namun kali ini tidak menyentuh kakinya.
"Tuan tolong maafkan saya, mohon Tuan." Ibu Fatima bicara lirih, namun kali ini yang berlaku kasar bukan majikan yang laki-laki tetapi istri keduanya.
"Kau harusnya sadar diri, tidak kami bunuh sudah beruntung kau, keluar dari rumah ini dan pergi sejauh mungkin!" Wanita itu menatap tajam dan menekan kuat rahang Ibu Fatima sampai terasa sangat sakit.
Ibu Fatima menangis terisak, setelah dua majikannya pergi, Ibu Fatima bangkit lalu berjalan mau menuju kamarnya dan bersiap-siap, sampai di dalam kamar, melihat Lulu yang menangis, Ibu Fatima memeluk putrinya itu.
Mereka semua saling berpelukan dan menangis, ikutan sedih meski tidak tahu permasalahan apa yang terjadi dengan Ibu Fatima dan Bosnya.
Selesai berpamitan dengan para pelayan yang lain, Ibu Fatima mengandeng tangan Lulu untuk naik ke lantai dua tempat kamar Nyonya istri pertama berada.
Sampai di sana Ibu Fatima berpamitan, dari sekian banyaknya orang yang Ibu Fatima temui, hanya Nyonya yang terlihat sangat berat ditinggal Ibu Fatima.
Nyonya juga memeluk Lulu sebelum ahirnya Ibu Fatima dan Lulu benar-benar pergi, setiap langkahnya yang semakin melangkah jauh dari rumah itu Ibu Fatima semakin menangis air mata yang tidak bisa ia bendung.
Dan mulai sejak itu Ibu Fatima dan Lulu mulai tinggal di kontrakan sempit dan tidak pernah lagi bertemu dengan majikan Ibu lagi.
Sampai di hari ini kehidupan keduanya hanya biasa-biasa saja bahkan kadang untuk makan susah, Lulu kembali menangis mengingat itu semua, Heena langsung memeluk Lulu, kini Heena baru tahu ternyata kehidupan Lulu dan Ibunya begitu menyedihkan.
Heena terus mengusap lembut lengan Lulu, sampai gadis kecil itu merasa tenang dan tangisnya mereda.
"Apa Kak Heena mau tahu siapa majikan ibu dulu?" Lulu bertanya seraya mengusap matanya.
Heena mengangguk. "Bila kamu masih ingat, maka beritahu aku."
Lulu mengangguk. "Keluarga Barbara."
"Barbara," ulang Heena dengan kening berkerut, seraya berpikir siapa keluarga itu, selama dirinya menjadi istri seorang pengusaha tidak pernah tahu dengan nama keluarga bangsawan itu.
Lulu menghela nafas seraya bersandar dengan tatapan lurus ke depan. "Dan aku rasa ibu sakit setelah keluar dari keluarga itu."
Heena mengusap rambut Lulu, supaya gadis itu lebih tenang, dan saat malam mulai semakin larut, Heena meminta Lulu untuk tidur istirahat, sementara Heena saat ini berdiri di samping Ibu Fatima, menatap lekat wajah Ibu Fatima yang belum sadarkan diri.
Heena mengangkat tangan kanan Ibu Fatima, ia lihat yang kini kulitnya terdapat banyak bintik-bintik akibat virus yang semakin bereaksi di dalam tubuh Ibu Fatima.
Heena memejamkan mata dan perlahan menurunkan tangan Ibu Fatima kembali.
Pintu ruang rawat dibuka, Heena membuka mata dan kini melihat Aldebaran datang, pria itu tersenyum kearahnya, Heena membalas senyuman itu lalu mendekat dan memeluk Aldebaran.
"Aku sudah tahu jawabnya," ucap Heena yang saat ini tubuhnya masih dalam pelukan Aldebaran, menggoyangkan perlahan tubuh Heena seraya memiringkan kepalanya di atas kepala Heena.
"Dari siapa?"
Heena mengeratkan pelukannya . "Lulu sudah menjelaskan semuanya."
Heena melerai pelukannya lalu menatap wajah Aldebaran, tangan Aldebaran masih melingkar di pinggang Heena. "Tolong cari tahu keluarga Barbara."
Aldebaran tampak berpikir seperti mengingat nama itu, dan kemudian mengangguk lalu kembali memeluk Heena.