HEENA

HEENA
BAB 72. Aset perusahaan milik Aldebaran kembali.



Ehem!


Mendengar suara dehheman keras Paman Syafiq, Heena dan Aldebaran langsung sadar akan posisinya saat ini.


Paman Syafiq terkekeh melihat keduanya, Heena dan Aldebaran yang kini sudah berdiri sempurna menjadi kikuk, Aldebaran senyum-senyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Sudah-sudah mari ikut, Paman." Paman Syafiq mengajak mereka berdua untuk duduk di kursi sofa tempat ruang keluarga.


Setelah semua sudah duduk, Paman Syafiq kemudian membuka suara, "Paman dan bibi sudah sepakat, bila pernikahan kalian harus dibuatkan resepsi. Dan jangan khawatir soal biaya, Paman bertanggung jawab atas semua."


Aldebaran menatap Paman Syafiq. "Tapi boleh tunggu sebentar lagi, Paman. Karena aku masih mengurus urusan pak Muklis."


Paman Syafiq terlihat manggut-manggut. "Baik, yang penting jangan terlalu lama, karena kasihan Heena." Paman Syafiq menatap Heena sekilas, kemudian berganti menatap Aldebaran kembali.


Aldebaran paham dengan apa yang Pamannya bicarakan, setelah pembicaraan serius itu, semua kembali masuk ke kamar.


Saat ini Heena sudah berbaring di atas ranjang, namun matanya juga belum mau terpejam, banyak hal-hal yang Heena harus bicarakan lebih dulu dengan Aldebaran terutama.


Karena Heena ingin sebelum acara resepsi pernikahan dilaksanakan, Heena mau memberitahu Yusuf lebih dulu.


Heena tidak ingin Yusuf kecewa, jadi Heena harus menjelaskan semua dengan Yusuf, meski kemungkinan kecil apa kah Yusuf akan paham akan posisinya. Yusuf masih terlalu kecil untuk bisa memahami situasi ini.


Heena menghela nafas panjang, kini matanya sudah menggenang air bening yang siap tumpah, namun Heena segera menghapusnya, karena tidak ingin terlihat lemah, Heena meyakinkan hatinya pasti bisa melewati semua ini.


Dan satu yang Heena pinta, berharap Yusuf mau menerima Aldebaran, hanya itu. Heena kemudian membaca doa sebelum tidur, dan kemudian berusaha memejamkan matanya, dan entah dimenit ke berapa, Heena sudah masuk ke alam mimpi.


Malam yang panjang kini telah terlewati. Pagi hari ini Aldebaran bangun tidak mendapati Heena berada di tempat tidur, karena yang biasanya, setiap pria itu bangun tidur, Heena pasti masih tidur.


"Apa dia sudah bangun?" gumam Aldebaran sembari berdiri berjalan menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Aldebaran merasa aman saat tidak melihat Heena di dalam kamar, saat mau berpakaian jadi leluasa, padahal sekalipun Heena ada di dalam kamar, wanita itu tidak akan mungkin mengintip Aldebaran yang sedang ganti baju.


Tapi entahlah Aldebaran memiliki pemikiran akan diintip Heena itu dari mana, setelah rapih mengunakan setelan kerja, Aldebaran mengambil jam tangan untuk ia kenakan. Setelah itu langsung berjalan ke luar kamar.


Di pintu berpapasan dengan Heena yang mau masuk ke dalam kamar, keduanya sama-sama terbengong, namun sesaat kemudian Heena menunduk. Setelah itu Aldebaran langsung melenggang pergi, namun baru beberapa langkah suara Heena memanggil.


"Al, nanti aku menemani bibi Sekar di acara arisan." Heena melihat punggung Aldebaran yang saat ini berdiri membelakanginya.


"Iya." Aldebaran menjawab tanpa menoleh ke belakang untuk melihat Heena. Dan setelah itu langsung pergi sibuk dengan urusannya.


"Jangan kaget ya, Aldebaran memang begitu, cuek orangnya."


Heena yang mau masuk ke dalam kamar, jadi ia urungkan saat mendengar suara pria, kemudian Heena berbalik badan.


Heena tersenyum. "Iya kita belum pernah bicara, emmm lain kali saja. Hari ini mau ada acara." Setelah bicara Heena menunduk kemudian senyum lagi.


Rengky membuat gerakan tangan persilahkan, Heena kemudian masuk ke dalam kamar.


Rengky menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju ruang makan, ia belum sarapan, dan menu sarapan pagi ini ada lah sup ayam, kesukaan Rengky.


Di tempat yang berbeda.


Aldebaran saat ini sudah bersama Asisten Dika, dan satu orang pengacara bernama Bapak Salman.


Mereka bertiga sedang membicarakan kasus Pak Muklis, dan terlihat tampak serius wajah semuanya yang saat ini sedang duduk di kursi bundar.


"Sidang akan dilakukan dua hari lagi, dan saya mau pak Muklis mendapat hukuman seadil-adilnya!" ucap Aldebaran tegas dengan sorot mata tajam.


"Kami akan berusaha untuk yang terbaik, Tuan." Pak Salman bicara serius.


Setelah pembicaraan barusan Aldebaran dan Bapak Salman saling berjabat tangan, kemudian Pak Salman pergi dari ruangan tersebut.


Aldebaran mengambil sesuatu di laci meja kerjanya, sebuah surat yang harus Pak Muklis tandatangani, karena dengan surat ini semua aset yang seharusnya menjadi milik Aldebaran akan kembali.


Aldebaran kemudian membawa surat tersebut, yang diikuti Asisten Dika, kini tujuannya menemui Pak Muklis.


Setelah beberapa menit, mobil sampai di kantor polisi. Aldebaran ke luar mobil lebih dulu kemudian masuk ke dalam, yang diikuti Asisten Dika di belakangnya.


Kini mereka berdua sudah duduk di kursi tunggu. Tidak lama kemudian datanglah Pak Muklis bersama polisi yang menjaganya.


Saat ini Aldebaran bisa melihat, bahwa wajah Pak Muklis terlihat lesu tidak semangat, dan baru beberapa hari di penjara sudah semakin terlihat tua.


Belum sempat Aldebaran bicara namun lebih dulu menerima Pak Muklis yang tiba-tiba berdiri dari duduknya lalu mendekati Aldebaran kemudian berlutut di hadapan Aldebaran.


"Al ... mohon maafkan saya, tolong Al." Pak Muklis menangis pilu, saat ini ia akan melakukan supaya Aldebaran memiliki belas kasih padanya. Tapi sepertinya itu mimpi yang terlalu jauh, karena Aldebaran langsung bicara yang menampar perkataan Pak Muklis.


"Tidak semudah itu, Om. Dan sebaiknya Anda tandatangani surat ini!" Aldebaran membantu Pak Muklis untuk berdiri kemudian menunjuk surat tersebut dengan tegas.


Pak Muklis semakin menangis, kini tanpa membaca isi surat tersebut, Pak Muklis sudah tahu bila itu surat pengalihan aset untuk Aldebaran.


Meski kemungkinan kecil tapi Pak Muklis masih ingin terus berusaha. "Al, jangan memberikan hukuman yang berat untuk, Om." Pak Muklis memohon sebelum ahirnya membubuhkan tanda tangan di surat tersebut.


Kini aset kekayaan orang tua Aldebaran yang pernah hilang telah kembali.


Kabar kekayaan Aldebaran telah kembali langsung terdengar sampai di telinga Mulan, kini wanita itu langsung marah.