
Flash back on.
Heena seketika menangis, kepalanya ia telengkupkan di kasur, tangan Ibu Fatima mengusap puncak kepala Heena, dengan perasaan sangat bersalah.
Mungkin jika Heena tetap tidak tahu yang sebenarnya, ia tidak akan merasakan sesakit ini, setelah tahu alasan Ibunya membuangnya, karena ingin melindunginya, hanya karena firasat buruk, masih sulit untuk Heena terima kenyataan ini dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan dalam benaknya.
Tadinya Heena pikir Ibu Fatima lah ibu kandungnya, ternyata Ibu Fatima hanya pelayan biasa Ibunya dulu, dan saat ini Heena bingung harus bersikap bahagia kah atau sedih kah? Setelah tahu yang sebenarnya.
Aldebaran yang sedari tadi cuma berdiri kini ia mendekat berdiri di samping Heena lalu memeluk Heena mengecup-ngecup kepala Heena, yang saat ini duduk sembari kedua tangannya memeluk pinggang Aldebaran.
Heena menenggelamkan wajahnya di perut Aldebaran, ia menangis terisak di sana, Aldebaran hanya bisa menguatkan Heena untuk bisa menerima semua ini dengan ikhlas.
"Maafkan saya, saya sangat minta maaf, Nona." Ucap Ibu Fatima yang saat ini juga ikut menangis.
Mendengar Ibu Fatima memanggil namanya dengan sebutan Nona, Heena langsung melepas pelukannya pada Aldebaran, dan beralih menoleh ke arah Ibu Fatima.
"Tidak, jangan pernah panggil aku dengan sebutan Nona, Ibu tetap panggil aku Heena dan aku juga akan memanggil Ibu dengan kata Ibu selalu," terang Heena yang tidak ingin ada perbedaan antara dirinya dan Ibu Fatima, baginya Ibu Fatima sudah banyak berkorban untuknya, dan sudah pantas baginya bila harus memanggil Ibu Fatima dengan sebutan ibu.
Heena kembali memeluk Ibu Fatima, dalam hati Ibu Fatima bersyukur melihat Heena tumbuh menjadi wanita yang baik, karena mengingat kesalahannya yang sulit dimaafkan, rasanya tidak percaya bila pertemuannya dengan Heena akan diterima sebaik ini oleh wanita itu.
Lulu yang duduk di kursi sofa, juga menangis haru melihat interaksi keduanya yang menyedihkan, kini Lulu juga sudah tahu ternyata Kak Heena bukan Kakak kandungannya. Ternyata selama ini Ibunya menyimpan rahasia besar yang baru ia ketahui.
"Ibu harus sembuh, dan segera keluar dari rumah sakit." Heena bicara sembari mengusap air mata Ibu Fatima.
"Sulit untuk Ibu akan sembuh, Nak?"
Heena menggeleng tanda tidak suka mendengar kata Ibu Fatima barusan. "Ibu tidak boleh bicara seperti itu."
Heena tidak tahu bahwa Ibu Fatima mengetahui soal penyakitnya, dan tahu juga siapa yang bisa mengobatinya.
Ibu Fatima kembali teringat kejadian waktu itu, saat itu saat dirinya sedang bicara dengan Ibu Tiara, membicarakan anaknya yang di panti asuhan, tanpa sengaja Tuan Bara mendengar pembicaraannya.
Melalui chip yang di pasang di bawah ranjang tidur Ibu Tiara, semua pembicaraannya terekam di chip itu, ternyata selama ini Tuan Bara menaruh curiga terhadapnya dan Ibu Tiara, dan Fatima tidak sadar akan itu semua.
Fatima tetap bekerja seperti biasa mengira semua masih baik-baik saja, dan setelah Tuan Bara tahu, Tuan Bara langsung menemui Fatima yang masih berada di dalam kamar Ibu Tiara.
Tuan Bara menyeret Fatima keluar kamar Ibu Tiara, dan membawanya turun ke lantai satu lalu mendorong Fatima sampai tercetus dinding kepalanya.
Ahhh! Pekik Fatima seraya mengusap kepalanya yang terasa sakit, dan seketika Fatima merasa pusing yang begitu hebat.
Setelah pergi dari rumah tersebut, Fatima bersama putrinya tinggal di salah satu desa yang tidak jauh dari kota, karena untuk tinggal di kota tidak mampu untuk biayanya yang semua serba mahal.
Fatima dan putrinya hidup damai selama beberapa tahun, tidak ada yang mengusiknya dan tetangga juga semua baik padanya.
Sampai tiba di hari yang begitu mengejutkan bagi Fatima, tepatnya tiga tahun setelah kepergiannya dari rumah Tuan Bara, tiba-tiba Tuan Bara datang dan menemuinya, Fatima syok dan berpikir bagaimana bisa Tuan Bara tahu alamat tinggalnya.
Lagi-lagi Fatima lupa bila Tuan Bara bisa melakukan apa pun, dan hanya sepele bagi Tuan Bara hanya untuk menemukan rumah Fatima, saat melihat tatapan mata Tuan Bara yang serius, Fatima jadi merinding pasalnya ia sudah lama tidak bertukar kabar, namun mengapa tiba-tiba Tuan Bara ke rumahnya, Fatima semakin cemas campur takut setelah mendengar ucapan pria itu.
"Putriku masih hidup, cari dia dan temukan dia lalu bawa bertemu aku!"
Deg!
Fatima terkejut seketika meremat jemarinya, Fatima semakin bingung harus bicara sanggup atau menolak, tapi bila ia menolak pasti pria itu akan menghajarnya, dan benar saja belum juga Fatima menjawab pria itu lebih dulu bicara sebuah ancaman.
"Temukan dia secepatnya, atau kamu akan mati." Tuan Bara bicara penuh penekanan di setiap kata, sembari berjalan mendekati Fatima, lalu memegang lengan Fatima dan menyuntikkan sesuatu di sana.
"Tuan! apa yang Tuan lakukan!" Fatima reflek bicara dengan nada tinggi, dan seketika tubuhnya mulai merasa lemas, Fatima meringis menahan tubuhnya yang tiba-tiba mendadak terasa sakit.
Apa, apa yang Tuan Bara suntikkan ke dalam tubuhku, mengapa rasanya sakit sekali, ahhh aku tidak kuat. Batin Fatima dengan pandangan mata yang berubah buram. Namun Tuan Bara malah tertawa puas, yang membuat Fatima semakin bingung, dan berpikir apa salahnya sampai Tuan Bara sekejam itu padanya.
Hahahaha!
Tawa Tuan Bara menggelegar seisi ruangan tamu di rumah Fatima, kemudian tawa itu lenyap kini berubah marah dan menatap tajam ke arah Fatima.
"Tadi adalah sebuah virus, semakin lama tubuhmu akan semakin lemah, jika kau ingin tetap hidup maka segera temukan putriku."
Deg!
Fatima terkejut matanya sampai mendelik mendengar pernyataan Tuan Bara, mati hidup seolah menjadi pertanyaan besar saat ini bagi Fatima, ia masih tidak habis pikir dengan mantan Bosnya itu, bagaimana bisa menyiksa orang lain hanya karena keinginannya bisa dipenuhi.
Fatima ingin marah tapi ia tidak berdaya, saat Tuna Bara juga menggunakan putrinya sebagai ancaman, sungguh Fatima berada di situasi yang sulit, di satu sisi tidak enak terhadap Ibu Tiara bila dirinya harus membawa pulang putrinya, tapi Tuan Bara juga mengancam dirinya.
Tentu putrinya adalah segalanya bagi Fatima, tidak tahu apa yang terjadi ke depan, Fatima hanya ingin melakukan yang terbaik untuk putrinya, meski mungkin ia melakukan kesalahan lagi.
Dan sejak kejadian itu Fatima terus mencari putri Tuan Bara, mendatangi panti asuhan yang dulu, namun penjelasan dari ibu panti, bayi yang pernah Fatima tinggal di panti asuhan sudah diadopsi oleh orang lain.
Fatima tidak berhenti di situ saja, ia terus mencari meski takdir saat itu belum mempertemukan.