
Ciiiiittttttt!
Suara decitan mobil yang sangat keras sampai memekik telinga.
Deg!
Deg!
Jantung pria pengemudi berdebar-debar kuat, pasalnya ia habis di rawat di rumah sakit karena kecelakaan mobil, dan ini mau diulangi lagi, untung saja ia masih bisa mengerem, dan masih selamat.
Lulu yang saat ini berjongkok seraya menutup mata dan telinga, perlahan Lulu membuka mata saat merasakan tidak ada benda yang menghantam kuat tubuhnya.
Karena kan bila tertabrak mobil seperti di sinetron yang ia lihat di televisi, itu akan terpental jauh, tapi ini Lulu tidak merasakan itu semua.
Mata Lulu langsung terbelalak saat melihat mobil itu berhenti tepat di sampingnya, hampir benar-benar hampir akan tertabrak, Lulu menggeleng cepat benar-benar takut bila dirinya sampai tertabrak.
Apa lagi bila harus sampai mati, tidak! Lulu belum siap.
Bersamaan Lulu bangkit berdiri, pria tampan menyembul ke luar dari dalam mobil, masih menggunakan kaca mata hitam, dan setelan jas hitam.
Melihat itu Lulu mulutnya menggangga, seperti melihat sosok pangeran yang ada di dunia nyata, yang tadinya mau marah-marah malah menjadi mendadak lupa, sangking terkejutnya melihat ketampanan pria itu.
Apa lagi saat pria itu menutup pintu mobil dengan gerakan elegan, berjalan mendekatinya dan berdiri tepat dihadapannya, aroma wangi parfum pria itu langsung tercium di Indra penciumannya, pria itu dengan wajah dingin seraya melepas kaca mata hitamnya, seketika membuat Lulu terpana saat melihat mata yang terukir indah itu.
Tatapan tajam yang diberikan pria itu padanya, tidak mengurangi nilai plus, pokonya tetap tampan mempesona.
Lulu memejamkan mata dengan perasaan takut, tapi bibirnya tersenyum saat pria tampan itu semakin mendekatkan wajahnya dan seperti mau menciumnya.
Namun suara pria tampan itu seketika menyadarkan Lulu dari pikiran halusinasinya.
"Kau bau sekali, dan baju mu itu-." Pria itu menjauhkan wajahnya dan mundur dua langkah seraya tangan satunya menutup hidungnya dan tangan satunya lagi menunjuk baju Lulu yang memang kotor.
Lulu langsung marah tidak terima dikata bau, meski kenyataannya memang benar, Lulu menunjuk wajah pria itu. "Kau sudah mau menabrak aku!"
Pria itu mengibaskan tangan. "Kau selamat, jadi tidak ada urusan lagi denganku."
Setelah bicara, pria itu kembali berjalan menuju pintu mobil, saat tangannya sudah siap mau membuka pintu mobil tiba-tiba terhenti saat mendengar suara gadis yang tidak ia kenal, pria tampan itu menoleh.
"Apa Tuan mau menghadiri acara pesta di hotel sana." Saat ini suara Lulu sedikit sopan sampai membuat pria itu mengerutkan keningnya, melihat gadis aneh yang bisa berubah-rubah cepat.
Tapi kali ini pria itu tertarik dengan pertanyaan gadis yang tidak ia kenal, bagaimana tebakan gadis itu benar.
"Iya aku mau ke sana." Pria itu menatap curiga pada Lulu yang saat ini tengah tersenyum.
"Ijinkan aku ikut Tuan, aku mau bertemu Kaka Heena." Lulu bicara menggebu dan memohon.
Deg!
"Heena, kamu kenal?" Pria itu masih menatap curiga.
Dan Lulu langsung mengangguk cepat. "Aku harus segera bertemu dengannya."
Lulu kemudian ingin masuk dalam mobil, namun pria itu mencegahnya. "Jangan! Kamu kotor."
"Tapi aku harus segera masuk!" Lulu bicara tinggi tidak mau kalah, dan mulai mau masuk lagi, namun pria itu mencegah lagi seraya bernafas frustasi menghadapi gadis kecil yang susah di kasih tahu.
Lulu berdiri di luar mobil dengan penuh kekesalan, bagaimana tidak tadi tangannya dicengkeram kuat oleh pria itu.
Tampan tapi aneh batin Lulu, masih membuang muka tidak mau lagi melihat wajah pria itu yang saat ini juga berdiri di depannya.
Mengambil sesuatu dari dalam dompetnya lalu memberikan pada Lulu. "Ini kartu nama aku, datang ke alamat ini bila kamu ingin bertemu Heena." Pria itu mau melangkah pergi namun berhenti lagi dan menoleh ke arah Lulu. "Jangan lupa kamu mandi dulu dan ganti bajumu."
Pria itu kemudian masuk dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan Lulu di jalanan.
Lulu melihat kartu nama itu. "Rengky," gumamnya, bibirnya tersenyum apa lagi saat melihat uang dua ratus ribu pemberian pria bernama Rengky, Lulu bisa menggunakan uang itu untuk beli baju.
Lulu dengan semangat pergi dari tempat itu.
Tidak lama kemudian Rengky sudah sampai di tempat tujuan.
Ke luar dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke dalam, di malam hari semakin banyak tamu undangan yang hadir.
Rengky melihat-lihat seisi ruangan mencari wanita yang mau ditemui.
Di ujung sana Ayunda melambaikan tangan, Rengky tersenyum lalu mendekati, saat tangan Ayunda masih melambai ke depan Rengky langsung meraih tangan itu sebelum Ayunda menurunkannya.
Saat ini malah terlihat seperti sedang menyambut pangeran, Ayunda tersenyum tersipu saat Rengky memegang tangannya lalu menarik kursi dan duduk di depan Ayunda.
"Apa aku boleh menciumnya?" tanya Rengky saat tangan Ayunda masih ia pegang, seraya sedikit lagi hidungnya mencium punggung tangan Ayunda.
Ayunda tersenyum. "Tidak sekarang."
Mendengar ucapan Ayunda, Rengky tidak sampai mencium punggung tangan itu, padahal sedikit lagi, Rengky tersenyum dan melepas tangan Ayunda.
"Lalu bolehnya kapan?" Rengky bersandar di kursi masih memberi pertanyaan yang menggodai.
"Bila memang sudah pasti aku tidak akan menolak, dan aku seperti ini apa ada nya." Ayunda menatap Rengky sekilas lalu menunduk malu.
Mendengar itu Rengky kembali tersenyum jahil dan ingin menggodai Ayunda lagi. "Berati kamu maunya yang cepat-cepat." Rengky terkekeh.
Ayunda semakin malu, dan hal itu terlihat menggemaskan di mata Rengky. Jujur Rengky tidak pernah merasakan sedamai ini bila di dekat perempuan, dan hanya Ayunda yang baru membuatnya nyaman dan damai.
Ayunda dan Rengky sama-sama tersenyum, tiba-tiba ada suara yang memutus kefokusan mereka berdua.
"Tante, Tante. Yusuf mau sama Tante." Yusuf langsung minta dipangku oleh Ayunda.
Rengky menghela nafas panjang, baru saja mau berduaan pikirnya sudah ada yang mengganggu.
Rengky menggodai Yusuf meminta anak kecil itu untuk pergi. "Kamu sana sama mama dan papa baru kamu."
"Tidak mau Om, tidak mau." Yusuf menjawab cepat dan menggelengkan kepala.
Rengky jadi gemas, tapi Yusuf malah Tertawa, Ayunda juga tertawa melihat tingkah dua pria yang beda usia itu, merebutkan dirinya.
"Nanti malam aku mau tidul sama Mama." Yusuf bicara dengan antusias.
"Eh, jangan." Ayunda menjawab cepat, bila Yusuf tidur sama Mamanya kasihan mereka yang masih pengantin baru, di ganggu Yusuf.
"Pokonya Yusuf mau tidul sama Mama, titik Tante!" Yusuf marah suaranya sedikit membentak.
Bila Ayunda yang khawatir, Rengky yang merasa paling bahagia dan mendukung Yusuf. "Bagus-bagus kamu harus tidur bersama mama dan papa barumu."
Hahahah!
Tawa Rengky pecah setelah selesai bicara, Yusuf tersenyum karena ada yang dukung, Ayunda tepuk jidat.