HEENA

HEENA
BAB. 71. Hampir jatuh.



Aaaaa! Heena mengapa kamu memikirkan dia dengan senyum-senyum sendiri begini sih, bagaiman bila ada orang yang melihatmu, pasti akan menganggap kamu orang tidak waras, Heena menampar pelan pipinya sendiri.


Heena menengok ke kiri dan ke kanan, merasa aman sepertinya tidak ada yang melihat tingkahnya itu, Heena menghela nafas lega, setelah itu Heena bangun dari duduknya berjalan masuk ke dalam rumah.


Di balik pohon seorang pelayan bagian pembersih kebun menertawakan tingkah Heena tadi.


"Joko, Jagan ketawa terus, entar kering gigi elo!" ucap Slamet dengan tegas yang bekerja di bagian pembersih kebun juga.


Joko ahirnya diam dan lanjut bekerja lagi. Di dalam rumah, Heena yang mau masuk ke dalam kamar, di panggil oleh Bibi Sekar untuk mendekat.


Ternyata Bibi Sekar mengenalkan Heena dengan temannya.


"Sofia, kenalkan ini istri ponakan saya namanya, Heena."


Heena yang saat ini sudah duduk di samping Bibi Sekar, kemudian ia menjabat tangan Ibu Sofia.


Bincang-bincang tidak terasa sampai sore tiba, Ibu Sofia yang ternyata ramah banyak tanya-tanya dengan Heena, membuat Heena tidak merasa dicuekin.


Setelah Ibu Sofia pergi, Heena dan Bibi Sekar masuk ke dalam rumah bersama, setelah tadi mengantar Ibu Sofia sampai teras.


Dan setelah tiba malam hari, ternyata seperti malam-malam kemarin, yang hanya tiga orang saja yang ikut makan malam, sedangkan Rengky dan Aldebaran belum pulang.


Setelah selesai makan malam, Heena langsung masuk ke dalam kamar. Heena berjalan menuju almari, membuka almari pakaian milik Aldebaran, yang terlihat sedikit berantakan.


Heena kemudian merapikannya, dari sekian banyak baju kaos dan kemeja yang di gantung, semua pakaian itu baru, Heena tentu tahu karena dulu sangat mengenali pakaian-pakaian milik Aldebaran.


Heena tersenyum kecil, bila mengingat dahulu begitu dekat bahkan sudah seperti lem dan prangko, tapi sekarang seperti orang asing yang baru kenal.


Saat sedang teringat kisah masa lalunya, tiba-tiba Heena melihat kotak berudu warna merah. Tangan Heena mau meraihnya dan ingin melihat, namun belum sampai tangannya menjangkau benda itu, Heena lebih dulu mendengar suara dingin.


"Sedang apa kamu di sini." Aldebaran kini berdiri di belakang Heena.


Heena langsung terperanjat kaget, ia tidak tahu bahkan juga tidak dengar bila ada langkah kaki masuk, dan entah sejak kapan Aldebaran berdiri di belakangnya.


Heena perlahan memutar tubuhnya berbalik untuk melihat Aldebaran, dan seketika tatapan menusuk Aldebaran langsung menembus tubuhnya, sepertinya sedang marah karena melihat Heena membuka almari pakaiannya. Bukan! pasti Aldebaran tahu bila Heena mau mengambil kotak kecil itu pikir Heena.


"Kamu belum menjawab pertanyaan aku, mengapa kamu sedang di sini."


Perkataan dingin yang Aldebaran ucapkan seketika membuat Heena gugup, rasanya lidahnya kaku untuk menjawab.


"Mem-merapihkan pakaianmu yang tadi berantakan." Heena nyengir kuda.


Heena menahan nafas selama Aldebaran belum beranjak pergi, dan baru bernafas lega setelah Aldebaran berjalan menjauh masuk ke dalam kamar mandi.


Heena memegangi jantungnya seraya berjalan mendekati ranjang, dan seketika menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan kasar.


Hah! jantungku tadi hampir mau copot, mengapa dia bisa semerikan itu ya bila sedang marah, Hah! aku hampir ketahuan, kira-kira kotak tadi apa ya isinya, aku jadi penasaran, batin Heena bermonolog sendiri seraya melihat langit-langit kamar.


Malam ini Heena ingin bertanya dengan Aldebaran, kapan ia boleh menemui Yusuf, yang pasti bukan hari besok karena Heena besok diajak Bibi Sekar hadir di acara arisan.


Cukup lama Heena menunggu Aldebaran, hingga akhirnya Aldebaran ke luar dari dalam kamar mandi sudah memakai pakaian tidur.


Aldebaran kini duduk di sofa sudah mau bersiap untuk tidur, Heena bangkit dari tempat tidur, kemudian duduk di tepi ranjang, dari arah sini Heena lumayan dekat dengan Aldebaran.


"Al, apa aku boleh bertemu, Yusuf." Heena melihat Aldebaran, yang seketika Aldebaran juga menatapnya saat mendengar ucapan Heena.


Sebenarnya tanpa meminta ijin, Heena bisa saja langsung menemui Yusuf, tetapi kan di sini ia tinggalnya numpang tidak enak bila keluar masuk tanpa ijin, dan setidaknya bilang Aldebaran lebih dulu.


"Boleh, sekalian saja ajak dia main ke sini." Aldebaran bersandar di sofa.


"Serius boleh, Al." Heena memastikan, karena hampir saja tidak percaya bila Aldebaran mau Yusuf main ke sini.


Aldebaran menghela nafas. "Perlu aku mengulangi," ucap Aldebaran kemudian seraya menegakkan tubuhnya.


Heena mengangguk mengerti, tiba-tiba hp Aldebaran berbunyi, ternya Paman Syafiq yang menelpon.


Heena masih duduk seraya melihat Aldebaran yang sedang bicara di sambungan telepon, dan hanya mendengar Aldebaran berkata baik.


Aldebaran kembali menaruh hp nya, kemudian kembali menatap Heena. "Paman meminta kita turun ke bawah."


Setelah berkata seperti itu Aldebaran berjalan lebih dulu, Heena berjalan mengikuti di belakangnya.


Menerka-nerka kira-kira apa yang akan paman bicarakan malam-malam begini, karena sedang melamun Heena sampai tidak fokus dengan langkahnya.


Dan disaat mau menginjak lantai setelah melewati tangga, tiba-tiba Heena terpeleset dan langsung Aldebaran tangkap karena ia saat ini sudah berdiri di lantai.


Aaaa!


Posisi keduanya kini sangat intim, dengan tangan kokoh Aldebaran yang melingkar di pinggang Heena untuk menahan tubuh Heena supaya tidak jatuh, wajah keduanya pun kini begitu dekat bahkan bisa saling merasakan hembusan nafas satu salam lain.