HEENA

HEENA
BAB. Baju ibu hamil.



Tiba malam hari, setelah Michael sampai di rumah, dan kini sudah tiduran di ranjang Yusuf, sembari menidurkan Yusuf.


"Papa, kerja hari ini capek?" tanya Yusuf yang ternyata belum tidur, tubuhnya tengkurap, wajahnya menoleh ke arah papanya.


"Iya sayang, tapi semua Papa lakukan untuk Yusuf," jawab Michael kemudian mencium pipi Yusuf.


"Semangat Papa, kelak dewasa, gantian Yusuf yang akan bekelja," ucapnya Yusuf lagi dengan serius, yang seketika membuat Michael tersenyum.


"Sayang?'


Hemm.


"Papa, boleh nanya sesuatu tidak?" tanya Michael dengan takut-takut.


"Boleh, Papa."


"Sayang, kamu ingin Mama baru tidak?" Selesai bicara Michael langsung memejamkan matanya, takut melihat Yusuf marah.


"Mau, Papa. Tapi yang baik dan yang pintal masak, tidak mau bila sepelti mama Mawar!" ucap tegas Yusuf masih dengan posisi tengkurap, matanya sayup-sayup sudah mau terpejam.


Dan seketika jawaban Yusuf barusan membuat hati Michael bahagia, entah bahagia dari mana, seolah Michael mendapat dukungan lampu hijau, dan Michael semakin semangat bertanya lagi.


"Sayang?"


Hemm.


"Jika calon Mama Yusuf dari kalangan orang biasa, Yusuf mau tidak?" Tangan Michael mengusap-usap punggung Yusuf.


"Mau, Papa."


Michael tersenyum benar-benar bahagia. "Terimakasih sayang, sekarang tidurlah." Mencium kening Yusuf, dan masih terus mengusap punggung Yusuf supaya cepat terlelap.


Setelah mendengar dengkuran halus Yusuf, Michael menghentikan mengusap punggung Yusuf, kemudian tidur bersama di sebelah putranya.


Malam panjang terlewati. Pagi telah tiba.


Di rumah keluarga yang baru menempati, Heena sedang membangunkan Aldebaran, namun pria itu masih malas untuk bangun.


"Ayo lah bangun, kan sudah siang," ucap Heena seraya duduk di pinggiran ranjang samping Aldebaran sembari mengusap rambut pria itu.


Tanpa Heena sadari hal yang Heena lakukan membuat Aldebaran semakin nyaman dan malas untuk bangun.


"Biarlah siang, kan aku bos nya tidak akan ada yang marahin," jawab sembarang Aldebaran seraya terkekeh.


"Tidak boleh seperti itu? kasihan yang kerja bila pemimpinnya malas-malasan," nasehat Heena, tapi Aldebaran tidak langsung nurut kini malah gemas, dan langsung balik badan menatap bidadari cantiknya.


"Mau bangun tapi ada syaratnya," ucap Aldebaran dengan seringai tipis.


"Apa?" tanya Heena dengan penasaran.


Aldebaran menunjuk pipinya dengan jari telunjuk, Heena seketika menggelengkan kepalanya.


"Tidak mau, kamu belum mandi sayang."


Dan seketika jawaban Heena membuat Aldebaran kesal, langsung balik badan lagi memunggungi Heena lagi, Heena tertawa melihat tingkah Aldebaran.


"Sayang, baiklah aku akan mencium mu," ucap Heena ahirnya seraya memeluk Aldebaran dari belakang.


Dan seketika bibir itu langsung mengulas senyum, Heena langsung menciumi pipi Aldebaran setelah pria itu berbalik, tapi ternyata tidak hanya pipi, yang diminta nambah, menjadi kening dagu dan juga bibir.


"Terimakasih atas serangan pagi-paginya, sekarang aku mau mandi dulu," ucap jahilnya campur tertawa seraya bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi.


Sudah dimasak oleh pelayan, Heena hanya memindahkan saja ke atas meja, pelayan sudah melarangnya, namun Heena tetap ingin melakukannya.


Satu jam kemudian, kini mereka berdua sudah sarapan bersama, mengingat akan ada meeting pagi, Aldebaran segera menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


Setelah selesai langsung berangkat kerja, namun sebelum berangkat, Aldebaran mencium Heena dan perut Heena yang masih rata, sebagai rutinitas Aldebaran sekarang.


Heena bahagia dengan perlakuan manis Aldebaran, intinya sudah cukup, tidak minta yang berlebihan.


Rasa dimiliki oleh Aldebaran, membuat Heena seolah menjadi wanita yang sempurna, karena kita bisa mencintai kita juga bisa dicintai, tapi bila orang itu hanya mencintai kita tanpa miliki perasaan dialah milikku, biasanya rasa pedulinya kurang, cinta sejati pasti akan ada cinta dan milik, dan akan bersyukur dengan pasangannya.


Banyak sekali orang bilang cinta pada pasangannya tapi mendua, itu lah besarnya peran milik di hati seseorang, beda tipis, sangking tipisnya banyak orang yang sulit membedakan.


Heena rebahan di atas sofa, seraya memainkan ponselnya, tiba-tiba ada sambungan telepon dari Ayunda, Heena mengangkatnya.


"Kak aku mau main ke sana sekarang," ucap Ayunda di sambungan telepon.


"Baiklah," jawab Heena, dan setelah itu sambungan telepon terputus. Heena kemudian meminta pelayan untuk menyiapkan kue, karena sebentar lagi akan ada tamu.


Ternyata Ayunda tiba tidak butuh lama, cukup sepuluh menit, Ayunda sudah sampai.


"Kok cepat banget sampainya?" tanya Heena pada Ayunda, yang saat ini membuka pintu utama.


"Iya, Kak. Karena tadi saat aku nelpon kakak, aku sudah dekat dengan rumah Kakak," jelas Ayunda yang kemudian memeluk Heena.


"Aku kangen banget sama kakak," ucapnya lagi masih dalam pelukan Heena.


"Halah, habis bulan madu kok, bilang kangen sama Kakak," ucap Heena menggodai, dan seketika mendapat cubitan kecil dari Ayunda di pinggang Heena.


Kemudian tertawa bersama. Heena mengajak Ayunda masuk ke dalam, duduk bersantai di ruang keluarga sembari nonton TV, pelayan datang mengantarkan minuman dan juga kue kering.


"Oh ya kak, aku punya hadiah ini untuk Kakak," ucap Ayunda seraya menyerahkan sebuah kado yang dirinya ambil dari dalam tasnya.


"Terimakasih, kok hadiahnya kecil, hohoho." Heena kembali mencandai.


"Lihat perhatiannya, jangan dilihat hadiahnya." Selesai bicara Ayunda juga ikutan tertawa, rasanya mustahil bila orang hanya melihat perhatiannya pasti juga melihat apa isi hadiahnya.


"Ok ... Ok, bila hadiahnya cicak, apa masih pantas dibilang perhatian," ucap Heena dengan bibir menyebik.


"Ayo lah buka, buka ... Buka." Ayunda jadi penasaran ingin melihat reaksi Kakaknya.


Heena sudah berhasil membuka bungkus kado tersebut, dan dengan perlahan Heena membukanya, dan seketika melihat isi di dalam sana, bersaman itu Ayunda bicara.


"Surprise ...."


"Ini lucu banget ..." ucap Heena saat melihat baju ibu hamil.


"Pakai ya, kalo nanti usia kehamilan Kakak sudah besar." Ayunda menatap Heena.


Mendengar ucapan Ayunda, Heena mengangguk, Heena suka dengan hadiah yang Ayunda berikan, Heena memang belum belanja baju ibu hamil, karena semua bajunya masih muat.


Bila Heena dan Ayunda saling bicara becanda bersama, berbeda dengan seorang pria di tempat lain.


Michael barusan mengantar Yusuf pulng ke rumah, dan saat ini dirinya sedang berdiri di anak tangga yang terakhir, selangkah lagi sudah lantai satu.


Michael terus memperhatikan Nelly, saat ini saja jantungnya berdetak kencang, memikirkan caranya bagaimana untuk menyampaikan perasaannya pada gadis itu.


Tiba-tiba Nelly yang sedang berjalan kesandung karpet yang ada di ruangan tersebut, dengan segera Michael menangkap tubuh Nelly, kini jarak keduanya sangat intim dengan kedua tangan Michael yang menahan pinggang Nelly. Sehingga kini posisinya berada di bawah Michael dengan wajah mereka saling berhadapan begitu dekat.