HEENA

HEENA
BAB 30. Informasi dari Asisten Dika



Siang hari.


Di gedung D.A Corp.


Asisten Dika berdiri tepat di belakang Aldebaran yang saat ini sedang menatap ke luar melalu jendela.


Tangan Asisten Dika membawa sebuah map coklat yang berikan hasil penyelidikan terhadap orang-orang yang mungkin terlibat dalam kematian Papa Bagas.


Setelah beberapa saat mencerna yang dikatakan oleh Asisten Dika, Aldebaran meminta Asistennya itu untuk membacakan isi dari map coklat yang Asisten Dika bawa.


Masih dalam posisi menatap ke arah luar, Aldebaran mendengarkan isi map coklat yang Asisten Dika bacakan.


Tiba-tiba wajahnya langsung berubah marah, serta rahang mengeras dan mengepalkan tangannya, bahkan sorot matanya menatap tajam menunjukkan rasa dendam, kini Aldebaran semakin yakin terhadap dalang di balik kecelakaan Ayahnya waktu itu.


Selama ini ia diam bukan berarti menyerah begitu saja, meski polisi sudah mencari tapi kehilangan jejak, Aldebaran tahu bahwa semua sudah di manipulasi dan semua jejak di hapus.


Diamnya di dalam penjara hanya ingin memberi balasan tepat pada waktunya, yang tentu akan ia berikan lebih menyedihkan.


Aldebaran tidak akan membiarkan orang yang sudah membuat Ayahnya celaka akan hidup tenang, dimulai ia ke luar penjara akan mencari orang tersebut hingga ditemukan.


Aldebaran balik badan memegang bahu Asisten Dika. "Selain lima orang itu, tetap kau cari lagi, aku yakin masih ada yang lebih kejam dari kelima orang tersebut."


"Baik Tuan." Asisten Dika langsung patuh menjalankan tugasnya.


Di lantai satu.


Syifa dan Tia sambil bekerja membahas pesta antar kolega bisnis.


"Aku sibuk banget, kamu saja yang menemani Bos," ucap Tia seraya jemarinya mengetik, pandangannya tetap fokus pada layar komputer.


"Ih, aku juga sibuk nanti malam," ucap Syifa seraya menatap Tia yang saat ini menghentikan mengetiknya lalu menatap Syifa dengan menghela nafas panjang.


Syifa menatap malas, seolah bertanya harus siapa begitu sorot mata malas yang Tia tangkap.


Tiba-tiba keduanya langsung menjentikkan jari secara bersama saat mendengar suara Heena yang menimpali pembicaraan mereka.


"Ngomongin apa sih? sepertinya serius." Heena bertanya tanpa mengalihkan dengan kegiatannya yang masih memperbaiki gambarannya di komputer.


Syifa dan Tia menoleh bersamaan dan menunjuk Heena. "Kamu."


Heena menolah ke arah mereka. "Aku? ada apa dengan aku?" kembali lagi fokus ke komputer.


"Kamu harus menemani Bos di acara nanti malam."


Deg!


Heena seketika menghentikan kegiatannya dengan keterkejutannya. Ia tidak menyangka hal yang kedua temanya bahas mengenai harus menemani Bos.


"Kamu harus mau, tidak boleh menolak."


"Tidak! aku tidak mau!"


Tia langsung membungkam mulut Heena dan mendekatkan wajahnya ke telinga Heena. "Kamu harus mau, Heena. Karena kami nanti malam juga sibuk."


Baru Tia berhenti berucap tiba-tiba dikagetkan dengan sebuah suara.


"Siapa yang akan ikut bersama saya nanti?"


"Heena, Tuan." Tia dan Syifa menjawab serempak tanpa melihat wajah Heena yang menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau.


Suara sepatu menapaki anak tangga, Aldebaran yang diikuti Asisten Dika di belakangnya, kini berjalan menuju lantai satu.


Aldebaran melihat ketiga karyawannya bergantian saat ia sudah sampai di lantai satu. "Diantara kalian harus ada yang ikut dengan aku, terserah mau siapa?"


Tia ... Syifa tolong aku jangan sampai aku, mohon tolong aku. Heena bicara dalam hati dengan menatap memohon pada Tia dan Syifa, namun yang di tatap hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.


Aldebaran yang sudah hendak mau pergi, kembali menghentikan langkahnya saat ia mengingat sesuatu yang terlupakan tadi. "Yang akan ikut acara nanti malam, langsung ikut mobil saya sekarang, saya tunggu."


Aldebaran langsung berjalan menuju parkiran mobilnya, sementara Heena masih terus minta belas kasih dari kedua temannya untuk mau ikut acara nanti malam, yang Jagan sampai dirinya, bahkan Heena rela mau mentraktir makanan enak asalkan ia tidak ikut acara nanti malam, namun sayang segala upaya usahanya untuk merayu dan membujuk kedua temannya hasilnya nihil.


Dengan perasaan sangat terpaksa, Heena ahirnya mengalah dan kini ia berjalan menuju parkiran tempat mobil milik Bosnya.


Setelah sampai di dekat mobil, Heena mengetuk pintu depan, kemudian ia masuk dan duduk di samping Asisten Dika.


Heena memasang seat belt, kemudian mobil melaju meninggalkan halaman parkiran dan mulai masuk ke jalan raya.


Ternyata mobil yang dikendarai Asisten Dika berhenti di sebuah butik.


Aldebaran ke luar lebih dulu yang langsung di susul oleh Heena dan Asisten Dika yang berjalan di belakang Aldebaran.


Karyawan dan pemilik butik langsung menyambut kedatangan Aldebaran, seolah mereka sudah kenal akrab, tapi melihat Aldebaran dan pemilik butik langsung mengobrol santai sepertinya yang dipikirkan Heena benar bahwa mereka sudah saling kenal.


Heena masih diam berdiri di belakang Aldebaran, tidak berani walau hanya sekedar untuk duduk meski kakinya merasakan pegal, hingga dua wanita cantik menggunakan seragam kerja, menghampiri Heena dan membawa Heena masuk ke dalam ruang ganti.


Heena yang masih terkejut hanya mengikut saja, bukan tidak tahu ruangan itu, tentu Heena tahu, tapi mengapa ia harus ke ruang ganti, pikirannya belum sampai mengarah perihal nanti malam yang harus berdandan saat ikut pesta.


Heena menahan gerakan dua wanita karyawan saat mau merias dirinya. "Mengapa aku mau di make up, aku kan tida memintanya?"


"Tuan Aldebaran yang memintanya, Nona."


"What!"