
Malam hari, setelah selesai membersihkan wajahnya dan berganti piyama tidur, Heena mengolesi wajahnya dengan krim yang tadi siang ia beli di Mall.
Rambut panjangnya juga sedikit di potong serta diwarnai sedikit kecoklatan. Yang ia lakukan perawatan di salah satu salon saat pulang dari Mall tadi.
Beberapa perawatan ia lakukan, dari perawatan kuku hingga rambut.
Heena melihat tampilannya di cermin, ia sangat puas, langkah selanjutnya ia harus melakukan olahraga rutin dan makan yang sehat.
Heena menuju ranjang lalu bersiap untuk tidur.
...****************...
Siang hari pukul satu.
Ibu Jamilah yang sudah mendapatkan alamat Heena, ia langsung mendatangi rumah baru Heena, dengan seluruh amarahnya Ibu Jamilah berteriak dan menggedor pintu rumah Heena.
Heena yang baru pulang dari tempat nge-gym, merasa terganggu dengan suara pintu yang digedor-gedor dengan begitu kencang.
Heena membuka pintu.
Plak!
Belum sempat Heena menatap dengan jelas siapa orang yang datang, namun wajahnya lebih dulu ditampar.
Namun dari nada suara wanita yang saat ini marah-marah dengannya, Heena bisa tahu yang tengah menamparnya.
"Dasar Anak durhaka, tidak berterimakasih pada orang tua! sudah dibilang jangan bercerai, masih saja dilakukan!"
Plak!
Plak!
Bukan pipinya yang sakit dan panas yang Heena rasakan saat ini, tetapi hatinya. Hatinya yang begitu sangat sakit saat ibunya lebih senang melihat ia menderita bertahan dalam pernikahan yang tidak ada keadilan di dalamnya.
Sakitnya belum sembuh, namun lagi-lagi Heena mendengar fakta yang lebih menyakitkan, hingga rasanya ia ingin menjerit mengapa harus terlahir dari rahim wanita yang tidak punya belas kasih.
"Kau tahu! gara-gara kau meminta cerai, sekarang Michael berhenti memberi uang Ibu!"
"Kau senang, hah!"
"Ah, Ibu sakit ..." Heena memegangi rambutnya yang saat ini ditarik kencang oleh Ibu Jamilah.
"Ini balasan untuk Anak yang pembangkang sepertimu!"
Ahh!
Ibu Jamilah mendorong Heena hingga wanita itu tersungkur dilantai. Sudut bibirnya kanan dan kiri sudah berdarah karena membentur lantai.
Heena tidak bisa melawan, karena mau gimana pun Ibu Jamilah adalah ibu kandungnya, Heena membiarkan Ibu Jamilah dan ia terima mungkin karena memang ia salah.
Mata Heena terpejam menahan sakit, namun tiba-tiba tangannya di tarik lagi oleh Ibu Jamilah dan pipinya kembali di tampar.
"Ingat! kau harus menebus semua kesalahanmu, Heena!"
Ahh!
Setelah berucap kalimat mengancam dan mendorong lagi tubuh Heena ke belakang, Ibu Jamilah pergi dari rumah Heena.
Heena hanya mampu menatap sendu, ke arah Ibu Jamilah yang sudah pergi dengan mobilnya.
Heena menghapus air matanya, Heena sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh ibunya, sejak ayahnya meninggal, ibunya berubah menjadi kejam.
Heena berdiri lalu berjalan masuk dan mencari kotak obat dan mengobati lukanya.
Heena menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit ruang tengah, disaat ia harusnya butuh dukungan dari orang tua, namun kini malah disalahkan oleh ibunya sendiri, Heena tubuhnya meringkuk di atas sofa ia kembali menangis seraya menggigit bibirnya.
Heena tubuhnya ketiduran di sofa karena merasa lelah, hingga malam hari ia baru bangun.
Setelah selesai membersihkan tubuhnya, Heena meraih handphonenya, mulai mencari pekerjaan melalui internet, untuk mengalihkan masalah hidupnya, karena ia juga tidak mungkin mengandalkan uang pemberian Michael.
Jemarinya berhenti mencari saat matanya menangkap nama perusahaan DA Corp.
Lowongan pekerjaan di bagian melukis, perusahaan yang bergerak di bidang gem.
"Bolehlah aku coba," gumamnya, saat ia memiliki hobi di bagian menggambar bahkan dahulu sebelum menikah ia pernah bekerja di perusahaan gem online.
Heena langsung mengirim surat lamaran pekerjaannya melalui email.
Merasa belum makan dari tadi siang, Heena memutuskan untuk makan lebih dulu.
Tiba-tiba saat ia hendak mau makan mie, pikirannya teringat Yusuf, memikirkan apakah putranya makan dengan baik selama ia tinggal.
"Yusuf, maafkan Mama, Nak." Heena mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata, setiap kali teringat putranya pasti membuat ia menangis.