HEENA

HEENA
BAB. 76. "Om tahu, Mama?"



Aldebaran menggendong Heena untuk dibawa masuk ke dalam, karena selama perjalanan pulang dari butik tadi, Heena tertidur, dan Aldebaran tidak tega untuk membangunkan.


Ternyata Bibi Sekar menunggu kepulangan Aldebaran dan Heena, saat ini sedang tiduran di kursi sofa.


Dan saat melihat Aldebaran menggendong Heena dengan langkah buru-buru masuk ke dalam rumah. Bibi Sekar langsung bangkit dari tidurnya.


"Al, Heena kenapa?" Bibi Sekar bertanya panik.


"Nanti aku jelasin, Bibi. Sekarang aku antar Heena masuk ke dalam kamar dulu." Aldebaran bicara tanpa melihat Bibi Sekar dan terus berjalan.


Bibi Sekar merasa khawatir, dan mau melihat keadaan Heena, namun baru berjalan dua langkah, Bibi Sekar mengurung niatnya tidak jadi, lebih baik menunggu Aldebaran ke luar, nanti baru akan bertanya.


Setelah membaringkan Heena di atas ranjang, Aldebaran lalu ke luar kamar, ia menemui Bibi Sekar yang saat ini duduk di kursi sofa di ruang keluarga.


Melihat Aldebaran sudah berjalan menapaki anak tangga, Bibi Sekar berjalan mendekati tangga. "Al." Bibi Sekar sudah tidak sabar ingin tahu hal yang sudah terjadi di luar saat meminta Heena dan Aldebaran ke butik.


Setelah tangan Bibi Sekar bisa menjangkau tangan Aldebaran, Bibi Sekar langsung membawa Aldebaran untuk duduk di kursi sofa.


"Al, apa yang sebenarnya terjadi." Bibi Sekar bertanya lagi, kini keduanya sudah duduk, Bibi Sekar lebih tertarik menanyakan keadaan Heena, dari pada bertanya pesanan baju yang sudah Aldebaran ambilkan.


Aldebaran belum menjawab, ia malah mengangkat paper bag yang isinya baju pesanan Bibi Sekar, Aldebaran tersenyum.


Dan hal ini membuat Bibi Sekar kesal, karena Aldebaran tidak menjawab pertanyaannya.


"Al!"


Bugh!


Bibi Sekar memukul gemas lengan Aldebaran, seraya menyambar paper bag di tangan Aldebaran, melihat Bibi Sekar kesal Aldebaran hanya tertawa.


Dan setelah berhenti tertawa, Aldebaran baru bicara, "Heena hanya ketiduran, Bibi. Tidak terjadi apa-apa."


"Sungguh," sarkas cepat Bibi Sekar.


Hemm.


"Baiklah, Bibi masuk ke dalam kamar dahulu." Bibi Sekar bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju kamar.


Setelah kepergian Bibi Sekar, Aldebaran juga ikutan pergi, tapi untuk bertemu Asisten Dika, dan untuk perihal tadi ia tidak bercerita dengan Bibi Sekar karena tidak ingin membebani pikiran Bibi Sekar yang akan malah membuatnya merasa khawatir.


Aldebaran melajukan mobilnya dengan cepat, ada hal penting yang akan ia bahas dengan Asisten Dika.


Namun sebelum sampai di kantor D.A. Corp. Aldebaran menghentikan mobilnya di pinggir jalan, ia mau membeli roti tidak banyak, untuk diberikan karyawannya.


"Cus aku mau roti?" ucap Yusuf saat melihat toko roti langgannya bila dulu sering beli di sini bersama Mamanya.


"Baik, Tuan Muda." Ane minta Pak sopir untuk menepikan mobilnya.


Bersamaan Yusuf dan Ane ke luar mobil, Aldebaran ke luar dari toko roti, mata Yusuf yang melihat Aldebaran seperti mengenal pria itu.


"Om, Al ..." teriaknya sebelum Aldebaran masuk ke dalam mobilnya.


Yusuf yang melihat Aldebaran melihat ke arahnya, langsung menggandeng tangan Ane untuk mengantar menemui Aldebaran.


Aldebaran melihat bocah kecil masih menggunakan seragam sekolah TK berjalan ke arahnya didampingi oleh pengasuhnya. Aldebaran tersenyum, yang juga di balas senyum oleh Yusuf yang kini sudah semakin dekat dengan Aldebaran.


"Om, Al?" sapaan Yusuf setelah berdiri di depan Aldebaran.


Bocah kecil yang tersenyum lebar, namun masih terlihat genangan air di matanya yang sepertinya baru habis nangis yang Aldebaran tangkap, Aldebaran beralih menatap pengasuh wanita yang berdiri di samping Yusuf.


Saat di tatap Aldebaran, Ane menunduk seraya berkata, "Maaf, Tuan. Bila Tuan Muda kami sudah lancang."


Mendengar Ane bicara, Yusuf melihat wajah Ane, kemudian berganti melihat wajah Aldebaran.


Aldebaran mengangguk tidak masalah, kemudian ia berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Yusuf. "Kenapa tidak pulang ke rumah, hem?"


Mendengar pertanyaan Aldebaran yang bicara rumah, Yusuf kembali teringat bahwa sedang mencari Mamanya.


Yusuf menangis lagi. "Mama ... huhuhu."


Deg! Aldebaran terkejut dan reflek memegangi bahu Yusuf yang bergetar karena menangis kencang.


Mama, mama. Apa anak ini merindukan Heena. Aldebaran bicara dalam hati.


Melihat Yusuf yang menangis membuat Aldebaran tidak tega melihatnya.


Aldebaran tersenyum seraya membelai rambut Yusuf. "Hei Yusuf, tidak boleh nangis ya, ayo cerita sama Om maunya Yusuf apa?"


Yusuf melihat Aldebaran masih dengan tangis sesenggukan. "Mau ketemu, mama."


"Ok, jika begitu Yusuf tidak boleh nangis lagi, Om akan bantu Yusuf untuk bertemu, mama." Aldebaran meraih tangan Yusuf kemudian menautkan kedua jari kelingking masing-masing.


Yusuf mengangguk antusias, Aldebaran kemudian mengajak Yusuf dan Ane untuk ikut masuk ke dalam mobil Aldebaran.


Sebelum mobil melaju, Aldebaran mengirim pesan singkat pada Asisten Dika, memberitahu tidak bisa datang. Kemudian mobil melaju menuju rumah.


Saat ini Yusuf duduk di kursi depan sebelah Aldebaran, sedangkan Ane duduk di kursi belakang.


Sesekali Aldebaran melihat ke arah Yusuf, ada rasa kasihan melihat anak masih menggunakan seragam sekolah TK, mendapati dua orang tuanya yang sudah tidak bersama lagi.


"Yusuf kangen banget sama, mama?" tanya Aldebaran dengan senyum ke arah Yusuf, sebelum ahirnya kembali fokus ke depan karena harus berhenti ada lampu merah.


"Kangen banget," ucap Yusuf seraya mengangguk menggemaskan.


Wajah lelah di wajah mungilnya sangat terlihat, satu kata kasihan, itu lah yang Aldebaran lihat saat ini.


"Om tahu, mama?"


Saat Yusuf kembali bertanya, Aldebaran hanya bisa mengangguk dan menggenggam tangan kecil Yusuf. Aldebaran menoleh ke depan, lampu sudah berubah warna hijau, Aldebaran kemudian kembali melajukan mobilnya.