HEENA

HEENA
BAB 130. Berhati-hati dengan Ayahnya sendiri



Tapi biarlah itu semua menjadi rahasia Ibu Fatima, ia tidak akan menceritakan yang sebenarnya pada Heena, soal penyakitnya yang dibuat oleh Ayah kandung Heena, karena Ibu Fatima cukup tahu keadaan Heena saat ini begitu terpukul dengan kenyataan yang sebenarnya ini.


Ibu Fatima tersenyum saat melihat Heena yang juga tersenyum menyakinkan dirinya bila bisa sembuh.


"Nak, selamatkan ibumu." Ibu Fatima bicara lirih, Heena yang mendengar ucapan Ibu Fatima seketika senyumnya perlahan menghilang dari bibir, beralih aura yang tidak bisa di tebak, Heena menoleh ke Aldebaran, pria itu mengangguk saat di tatap Heena, dan Heena kembali menatap Ibu Fatima kemudian mengangguk kecil.


Setelah pembicaraan yang panjang barusan, Heena meminta Ibu Fatima untuk istirahat, karena waktu sudah semakin larut malam.


Sementara Heena dan Aldebaran saat ini duduk di kursi tunggu depan ruangan Ibu Fatima.


Heena menyandarkan kepalanya di bahu Aldebaran, sementara tangan Aldebaran melingkar di pinggang Heena seraya memiringkan kepalanya di atas kepala Heena.


Hening tidak ada yang bicara. Heena yang sibuk dengan segala pikirannya, Aldebaran juga sibuk memikirkan cara untuk membantu Heena.


"Setelah ini apa yang harus kita lakukan, Al?" ucap Heena membuka suara.


"Sepertinya hanya ada satu cara."


"Cara apa?" tanya Heena cepat dan penasaran.


"Kita harus meminta ibu Fatima untuk menelpon ayahmu."


Heena menghela nafas panjang mendengar kata ayah rasanya Heena kesal, ia lebih bersyukur miliki ayah tiri tapi baik hati seperti ayah angkatnya yang sudah meninggal, dari pada ayah kandung tapi jahat seperti itu.


Mendengar helaan nafas Heena, dan wanita itu tidak menjawab, Aldebaran kembali bicara.


"Kenapa kamu tidak suka." Aldebaran terkekeh ingin meledek Heena.


Heena memutar bola mata malas. "Dia begitu jahat, entah kalo nanti bertemu dia aku bisa tahan emosi tidak."


Heena benar-benar kesal terhadap ayah kandungnya, selain jahat dia juga sudah menduakan ibunya dengan menikah lagi, tanpa berbuat kesalahan pun Heena sudah sangat membenci Ayahnya, entah harus bersikap seperti apa, yang jelas Heena tidak bisa sok baik-baik kepada pria itu.


Dan sepertinya Heena mulai memiliki rencana di otaknya, yang kemudian Heena setuju dengan ide Aldebaran.


"Baiklah aku akan meminta ibu Fatima nanti untuk menghubungi laki-laki itu."


Hemm.


Jawab Aldebaran singkat kini ia mulai memejamkan matanya, dan malam ini Heena dan Aldebaran tidur di kursi dengan keduanya sama-sama duduk.


Setelah malam panjang terlewati, pagi hari tiba, sekarang pukul tujuh pagi, Aldebaran kembali ke kota, sementara Heena masih berada di rumah sakit.


Heena sudah membawa ganti, dan setelah mandi dan berpakaian rapih, Heena menemui Ibu Fatima kembali, pagi ini sesuai rencananya akan meminta Ibu Fatima untuk menghubungi Tuan Bara.


Heena masuk ke dalam ruangan, pintu terbuka kini ia bisa melihat Lulu di dalam sana sedang bercanda ria dengan Ibu Fatima, terlihat tawa di bibir mereka, Heena juga tersenyum bejalan semakin masuk ke dalam dan mendekati Ibu Fatima.


Suster masuk membawa sarapan pagi untuk Ibu Fatima, Heena mengambil sarapan itu dan kini dirinya yang akan menyuapi Ibu Fatima.


Sementara Lulu yang merasa lapar juga, gadis itu keluar dari ruang ibunya, untuk ke kantin rumah sakit.


Dan setelah lima belas menit, sarapan Ibu Fatima sudah habis, Heena membantu mengambilkan air putih lalu membantu Ibu Fatima untuk minum.


Heena mengambil tisu lalu mengusap bibir Ibu Fatima supaya bersih tidak ada sisa makanan.


Heena terdiam sesaat, melihat ke arah lain seperti sedang berpikir, Ibu Fatima yang melihat sikap Heena tidak seperti biasanya yang ia lihat, Ibu Fatima milih bertanya.


"Ada apa? ada yang ingin kamu pikirkan?" tanya lembut Ibu Fatima seraya menatap Heena yang kini beralih menatapnya dengan tersenyum.


"Ibu, apa Ibu masih menyimpan nomor ponsel tuan Bara."


Ibu Fatima mengerutkan keningnya saat ditanya Heena seperti itu, dan berpikir apa Heena mau bertemu ayahnya, ya mungkin Heena ingin bertemu, kesimpulan yang ia ambil dalam hati, dan ahirnya Ibu Fatima menjawab dengan anggukan kepala.


"Jika begitu silahkan Ibu telfon, biarlah tuan Bara datang ke mari." Heena bicara dengan tersenyum, tidak ingin menunjukan rencananya dengan Aldebaran di depan Ibu Fatima.


Dan senyum manis Heena itu semakin membuat Ibu Fatima masuk ke dalam kesalahpahaman nya, hati Ibu Fatima menghangat saat melihat Heena tersenyum yang memintanya untuk menghubungi Tuan Bara, Ibu Fatima berpikir Heena tidak marah tidak benci dan bertemu untuk menjalin hubungan yang baik.


Tapi hati menghangatnya berubah takut bila Tuan Bara hanya pura-pura baik pada Heena dan miliki rencana lain terhadap Heena bagaimana? Ibu Fatima malah berperang dengan ketakutan nya sendiri.


Heena yang melihat wajah Ibu Fatima cemas, ia kembali mejelaskan lagi karena tidak ingin melihat wanita yang sudah dianggap menjadi ibunya itu cemas.


"Aku ingin bertemu ayah, dan ku minta bantuan Ibu, sepertinya sudah waktunya ayah tahu dan melihat aku."


Panjang lebar penjelasan Heena, dan seketika hati Ibu Fatima terasa damai mendengar penjelasan Heena, bila memang benar seperti itu berati Heena tidak membenci ayahnya sendiri pikir Ibu Fatima.


Lulu yang sudah kembali dari sarapan pagi, Ibu Fatima meminta Lulu untuk pulang dan mengambilkan tas miliknya yang berada di dalam almari.


Lulu dengan segera melakukan perintah ibunya itu, Lulu pulang naik ojek motor cukup lima belas menit Lulu sudah sampai di rumah.


Lulu meminta tukang ojek untuk menunggu, setelah itu Lulu segera masuk ke dalam, membuka almari di kamar ibunya, tidak ada tas saat Lulu membuka almari satunya, dan kini Lulu berpindah membuka almari lain yang ada di kamar ibunya.


Kini Lulu mendapatkan tas hitam milik ibunya, Lulu senang setelah menemukan, kemudian mengambil tas itu dan membawanya keluar.


Lulu mendekap tas ibunya yang saat ini sudah di atas motor di bonceng tukang ojek menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat.


Dan setelah sampai rumah sakit, Lulu segera masuk ke dalam menyusuri koridor rumah sakit, namun sebelumnya sudah membayar ongkos ojek.


Lulu langsung membuka pintu ruang Ibunya dirawat, setelah sampai di sana.


Berjalan masuk dan menyerahkan tas itu setelah berdiri di samping ranjang Ibunya.


Ibu Fatima membuka tas itu dan mencari kertas yang ada nomor telepon Tuan Bara, bibirnya tersenyum saat menemukan kertas itu, dan mulai menghubungi setelah nomor tersebut dimasukan di ponsel Heena.


Sambungan telepon diangkat.


Heena tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Bara di sambung telpon, namun melihat wajah Ibu Fatima yang berubah ketakutan, Heena berpikir harus berhati-hati dengan Ayahnya sendiri.